Tercemar Limbah B3, Warga Lakardowo Mojokerto Gatal-Gatal

0
105

Nusantara.news, Surabaya – Ketenangan warga yang bermukim di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto terusik, mereka mengaku air sumur di tempat tinggalnya tidak lagi bersih seperti dulu. Akibatnya, menimbulkan gatal-gatal dan iritasi.

Warga juga membantah hasil penelitian yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beberapa waktu lalu, yang menyampaikan ke warga bahwa hasil analisa adalah karena sistem sanitasi milik warga yang tidak baik, sehingga berakibat terjadinya pencemaran air di wilayah tersebut.

Sejumlah orang yang ditemui, salah satunya Natipah (55) warga Dusun Kedung Palang, Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto mengaku kalau mengalami iritasi dan gatal-gatal akibat air sumur yang dipakai, itu dialami sejak dua tahun lalu.

Warga menyebut, penduduk di daerahnya ada sekitar 342 orang yang mengalami gatal-gatal dan iritasi. Versi mereka, itu karena air sumur yang dipakai sehari-hari telah tercemari oleh rembesan timbunan limbah B3 dari pabrik pengolahan limbah PT PRIA yang tidak jauh dari pemukiman.

“Dua tahun ini gatal-gatal, karena air sumurnya, sebelumnya tidak apa-apa,” ujar Natipah ditemui di rumahnya, Jumat (12/5/2016).

Ibu dua anak isteri Jamakudin itu mengaku dirinya menjadi tidak tenang termasuk sejumlah warga lainnya, lantaran persoalan tersebut.

“Sudah dibawa ke puskesmas, tetapi tetap saja,” tambah Jamakudin, suaminya.

Lelaki paruh bayah yang sehari-hari berladang untuk matapencahariannya itu menuturkan, sebelum ada lokasi penimbunan limbah milik PT PRIA, dia dan keluarganya termasuk tetangga lainnya tidak merasakan hal itu.

Dia semakin yakin kalau penyebab gatal-gatal yang dialami isterinya akibat air sumur yang tercemar oleh rembesan limbah.

Kemudian, ditemui di tempat yang sama Utomo, Wakil Paguyuban Pendopo Bangkit sebuah perkumpulan dan kerukunan warga setempat menegaskan kalau gejolak dan keresahan warga terjadi sejak dua tahun lalu itu, akibat air sumur yang tercemar limbah. Akibatnya, gatal-gatal dan iritasi kulit dirasakan sebagian warga yang menggunakan air sumur.

“Sampeyan bisa lihat sendiri, dari sini (dari rumah Ibu Natipah), dengan lokasi timbunan limbah pabrik jaraknya tidak lebih dari 500 meter,” ujar Utomo sambil menunjuk ke arah pabrik.

Utomo menjelaskan, sesuai ketentuannya baku mutu air yang sehat atau layak dipakai termasuk untuk mandi dan mencuci baku mutunya tidak boleh lebih dari 500.

“Baku mutu air disini lebih dari 500, bahkan sekarang lebih dari 1000 baku mutunya, artinya ini memang sudah tercemar,” terang Utomo, sambil menyebut areal penimbunan limbah milik pabrik tersebut luasannya lebih dari 2 hektar.

Kalau sudah begitu, warga harus ke puskesmas atau ke dokter dan problem gatal-gatal tidak lantas hilang begitu saja, lantaran membutuhkan waktu. Harus ada tindakan pencegahan yang hanya bisa dilakukan oleh pemerintah.

Untuk menggantikan fungsi air sumur yang telah terpapar pencemaran, warga setempat beralih menggunakan air bersih yang dibeli secara swadaya, didatangkan dari wilayah Kecamatan Pacet.

“Untuk kebutuhan sehari-hari, warga harus membeli air tangki dari Pacet, itu dilakukan dengan swadaya,” kata Utomo.

Lelaki itu menegaskan, warga setempat berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur bisa memberikan solusi, setelah mengetahui kondisi Desa Lakardowo yang air sumurnya sudah tercemar.

“Air sumur di desa ini sudah tercemar. Itu kita rasakan sejak dua tahun lalu, dan lama kelamaan pasti akan semakin parah, itu yang harus dihentikan kita minta itu dilakukan oleh pemerintah,” tegas Utomo.

Dia menyebut, dominasi gatal-gatal tidak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa.

Dia juga melontarkan argumen, bahwa saat dilakukan sosialisasi  oleh petugas Kementerian LHK dengan pejabat terkait di balai desa, hasil uji laboratorium tercemarnya air akibat sanitasi milik warga yang buruk.

“Warga tidak bisa menerima penjelasan itu, yang disebutkan karena sanitasi buruk, dan juga karena kita tidak diberikan rincian hasil laboratorium,” tegasnya.

Masih kata Utomo, warga minta petugas yang melakukan uji laboratorium memberikan penjelasan dengan melampirkan rincian hasil uji laboratorium.

“Harapannya, warga meminta pabrik itu ditutup, kalau tidak di tutup, tetap saja pencemaran akibat rembesan limbah itu tetap ada,” tegasnya.

Sementara, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, yang datang ke lokasi menemui warga, mengumpulkan keterangan dan dilakukan dialog. Keluhan yang dialami warga yang disebutkan akibat air sumur tercemar oleh limbah, ditampung.

“Sambil menunggu hasil audit lingkungan, kita akan luruskan ini, siapa yang salah harus kita salahkan, dan yang benar kita bela,” tegas Saifullah Yusuf saat dilakukan pertemuan dengan menejemen PT PRIA, diikuti oleh Manajer Business Development PT PRIA, Christine didampingi staf perusahaan lainnya.

Gus Ipul mengakui memang ada problem terkait dengan limbah B3 dan sistem pengolahannya. Di Jawa Timur, disebutkan ada 170 juta ton limbah B3.

“Limbah itu harus dikelola secara fisik, dan perusahaan yang melakukan itu harus memiliki izin khusus. Di Jawa Timur, ada di Surabaya, Gresik, Pasuruan, Sidoarjo dan Mojokerto. Pemerintah juga sedang menelusuri kemungkinan adanya tempat pengolahan lain,” ujar Gus Ipul.

Saat ini lanjutnya, dari limbah sebanyak itu, baru 39 persen limbah yang bisa dikelola dengan baik, di Cilengsi, Bogor. Itu pengolahan limbah terbesar di Indonesia. Sisanya, 61 persen sedang diteliti kemana larinya, dan bagaimana proses pengolahannya.

Untuk sementara, terang Gus Ipul Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyediakan air bersih yang dibutuhkan warga, sambil menunggu hasil audit oleh tim independen terkait benar atau tidaknya pencemaran air sumur milik warga akibat kegiatan pengolahan limbah PT PRIA.

Sementara, Christine menyebut, kepedulian perusahaan sebenarnya telah dilakukan untuk mengurai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat di wilayah sekitar pabrik. Namun, karena ketidakharmonisan, niat tersebut belum bisa dilaksanakan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here