Terdesak Transportasi Online, Angkutan Kota Malang Sakaratul Maut

1
356

Nusantara.news, Kota Malang – Nampak dari gerbang stasiun kota Kota Malang sejumlah mobil berwarna biru berjajar rapi di samping jalan menunggu calon penumpang  untuk kemudian mengantarkan mereka ke suatu tempat yang dituju. Iya, itulah angkutan umum.

Seorang laki – laki berumur duduk di samping armadanya dan memandangi setiap orang yang melintas dan dengan lembut ia menanyakan di mana tempat yang akan diuju. “Mau ke mana, Mas?” ujarnya ramah ketika Nusantara.news melintas di kawasan itu, tepatnya di depan Stasiun Kota, Rabu (22/2/2017)

Ia mengaku bernama Hariadi, seorang pria yang telah 20 tahun menjadi sopir angkot trayek Arjosari Dinoyo Landungsari (ADL). Kini ia berusia 76 tahun. Ia tinggal di rumah sederhana di daerah Buring dan memiliki 2 orang anak yang sudah dewasa.

Hariadi sehari-hari bekerja dengan kendaraanya, yakni Suzuki carry tahun 1993. Dengan kondisi mobil yang lumayan tua itu ia mengangkut penumpang dan harus bersaing dengan transportasi online yang baru muncul belakangan ini. Dengan teknologi yang lebih canggih dan keadaan sarana prasarana yang lebih baru dibandingkan angkutan umum sejenis angkot, transportasi online praktis tak tertandingi oleh sarana transportasi konvensional.

Hariadi dan kendaraanya hanyalah contoh kecil dari kondisi angkutan umum Kota Malang yang masih bertahan melawan derasnya kemajuan teknologi dan sistem transportasi modern. Namun, Hariadi dan rekan-rekan seprofesinya tidak gentar untuk bersaing mencari penumpang. Namun demikian, keberadaan transportasi onlineyang mencaplok pangsa pasar yang dulunya menggunakan angkutan konvensional merupakan fakta yang sulit ditolak.

Kondisi ini memuncak saat beberapa angkutan umum tersebut di akhir minggu lalu diparkir mangkrak dan berjajar namun sepi pelanggan. Menyikapi kondisi tersebut beberapa pengemudi mengambil inisiatif melakukan konsolidasi dengan rekan-rekan lainnya untuk menentuan sikap. Sikap ini mereka wujudkan dalam bentuk demo mogok kerja dan protes keras terhadap transportasi online yang mereka anggap ilegal dan tidak berizin pada Senin (20/2/2017) lalu.

Hariadi mengaku bahwa hadirnya transportasi online semakin mempersulit para pengemudi angkot untuk mempertahankan pendapatannya. “Sebenarnya cukup, namun 3 tahun terakhir minus, sama seperti rekan-rekan sopir angkot yang lain. Pendapatan kita turun 40 persen sampai 60 persen. Kalau dihitung besarnya sekitar Rp30.000 per hari yang kita dapat,” ungkapnya

“Itu semua sudah dipotong bensin yang semakin mahal, retribusi, setoran koperasi dan bayar trayek, belum lagi kebutuhan rumah tangga yang semakin tinggi,” keluh Hariadi.

Beberapa sopir angkutan umum kota Malang mengeluhkan bahwa transportasi online tidak memiliki izin beroperasi, izin trayek, izin usaha, uji KIR, dan izin usaha, serta tidak membayar retribusi untuk PAD Kota Malang. “Kita yang terdaftar dan jelas legal, berkontribusi menyumbang ke PAD, Mas,” tegas Hariadi

Sementara itu, Teguh yang juga sopir angkot trayek ADL mengatakan, dalam 5 tahun terakhir ini ada beberapa trayek yang tutup. “Sejak 5 tahun terakhir ini dulu ada 27, tapi kini tinggal 17 trayek. Apa pemerintah melihat ini? Apakah peduli?” protesnya.

Teguh menyatakan bahwa sebenarnya pihaknya tidak anti kemajuan atau anti pembangunan. Namun menurutnya, apabila ingin kemajuan harus ada keseimbangan, sehingga tidak berat ke salah satu sisi saja.

“Saya tahu, Mas, teknologi itu membawa kemajuan. Kalau ingin maju ya rakyatnya diajak maju, diajari, jangan ditinggal dan disuruh usaha sendiri. Buat apa ada pemerintah kalau tidak menaungi rakyat kecil seperti kami ini. Jangan yang punya uang saja yang bisa seenaknya,” pintanya.

“Sebenarnya 3 tahun lalu kami sudah mengajukan aplikasi untuk angkot umum dengan teknologi baru, namun hal tersebut belum mendapat respon kembali dai pemerintah,” imbuh Teguh

Hariadi menganggap kondisi hari ini adalah persaingan ekonomi yang tidak sehat. “Apabila dibiarkan seperti ini, saya melihat persaingan yang tidak sehat, karena mereka punya teknologi sedangkan kami tidak. Kalau ingin bersaing sehat, ya aplikasi dihapus atau kita juga diberikan pendidikan teknologi canggih sebagai angkutan resmi,” katanya memberi pandangan.

“Apalagi belakangan ini pemkot akan membangun monorail dan bus kota. Seakan keberadaan kita akan disingkirkan perlahan. Ini kan sama dengan dibunuh pelan-pelan,” pungkas Hariadi. []

1 KOMENTAR

  1. Supir angkot sekarang banyak yang perilakunya kayak preman. Secara lisan bahasa yg dikeluarkan cenderung kasar. Nurunin penumpang seenaknya. Saya sampai saat ini tetap pengguna angkutan dan gojek juga. Ada kalanya kita juga butuh gojek. Nunggu angkot lamanya minta ampun aja saya masih ttp respect. Tp gak semua orang mau buang2 waktu kyk gitu. Saya naik angkot dr rumah kekampus btuh 1 jam,klo naik gojek cmn 10menit. Itupun saya kasih tarif angkot juga saya lebihkan. Pasti juga banyak ngalamin hal kyk saya gini. Skrg angkot mogok kerja, gojek juga gak berani narik penumpang. Terus nasib orang2 kyk saya gini juga susah. Menurut saya yg amat sangat berpengaruh ya pak walikota. Klo didiemin trs para supir angkotan umum malah seenaknya sendiri. Kmrn juga ada kabar kasus pemecahan kaca mobil, pdhl itu mobil biasa bukan jasa uber. Dan polisi juga gak berani ambil tindakan. Butuh ketegasan dr abah anton sih, klo ada hal2 kyk gitu harusnya ada sanksinya. Kalaupun skrg ada “relawan” juga ttp tidak menjamin. Walaupun ada gojek sampai kapanpun angkot juga masih ttp dibutuhkan. Tiap naik angkot buktinya juga masih “umpet2an”. Kasihan tuh para istri supir angkot gak terima uang belanja mau berapa lama. Apa gak kita sebagai masyarakat juga demo juga. Malang tmbh macet nih, semenjak gak ada angkot, semua jadi bawa motor. Supir angkot kok gak ngedemo BPR yg bs kreditin motor aja?

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here