Terjadi Perang Geopolitik, India Bantu Militer Myanmar

1
210
Pengungsi Rohingya menengadahkan tangan saat lainnya berkelahi saat menunggu bantuan di Cox's Bazar, Bangladesh, Selasa (26/9). ANTARA FOTO/REUTERS/Cathal McNaughton/djo/17

Nusantara.news, New Delhi – Di tengah kecaman pemimpin dunia atas dugaan genosida yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya, pemerintah India justru sedang mempertimbangkan akan memasok senjata ke militer Myanmar.

Sikap pemerintah India yang seolah tidak peduli dengan membanjirnya sekitar 426 ribu etnis Rohingya ke Bangladesh adalah sebagai bentuk dukungannya kepada pemerintah Myanmar. Anehnya, tidak lama setelah itu, tercatat 17 warga Hindu di Rakhine terbunuh. Militan Rohingya lagi-lagi dijadikan kambing hitam oleh pemerintah Myanmar atas terjadinya pembantaian itu.

Sebagaimana dikutip dari kantor berita Myanmar (MNA/Myanmar News Agency), ke-17 warga Hindu itu ditemukan pada Senin (25/9) sekitar 200 meter dari lokasi ditemukannya 28 mayat di desa Yebawkya pada hari minggu. Pemerintah Myanmar, tulis MNA, mengkonfirmasi temuan itu kepada warga Hindu yang berhasil melarikan diri ke Sittwe, ibukota Rakhine.

Para korban, tulis MNA, berasal dari desa Khamaung Seik. Kantor berita itu juga menulis sebagai bukti kekejaman teroris ARakan Rohingya Salvation Army (ARSA) yang diduga seluruhnya berjumlah sekitar 300 orang.

Namun berita itu diragukan oleh sejumlah kalangan. Terlebih pemantau dari PBB dan pers hingga berita ini ditulis tidak bisa mengakses ke wilayah konflik di Rakhine. Sebagian menganggap sebagai propaganda jahat pemerintah Myanmar yang hendak membersihkan Rohingya dengan mengorbankan etnis minoritas lainnya.

Dengan kata lain, Rohingya sebagai etnis minoritas yang kebetulan mayoritas muslim dianggap ancaman bersama, baik oleh pemerintah Myanmar maupun komunitas Hindu di Myanmar. India pun sebagai negara besar di kawasan Asia Selatan boleh jadi juga menganggap Rohingya sebagai ancaman sehingga mereka dukung pemerintah Myanmar

Pemerintah India mempertimbangkan memasok senjata ke pemerintah Myanmar sebagai tanda dukungan kuat bagi tetangga itu, dengan menghiraukan segala kecaman pemimpin dunia terhadap pemerintah Myanmar. Bantuan senjata itu, ungkap seorang pejabat India, akan dibahas dalam kunjungan kepala angkatan laut Myanmar pada Kamis depan.

Selain bantuan senjata, India juga menawarkan pelatihan pelaut Myanmar dengan kursus tingkat tertinggi, yang diajarkan kepada perwira militer di lembaga pertahanan khusus India. Keputusan itu disebut-sebut sebagai upaya India melepaskan pengaruh China terhadap Myanmar di kawasan itu.

Kecaman para pemimpin dunia, termasuk Amerika Serikat, Perancis, Kanada dan terakhir kali Arab Saudi terhadap Myanmar dianggap India sebagai peluang untuk lebih mendekat ke negara yang sebelumnya pernah sama-sama dijajah oleh Inggris itu.

Dengan masuknya India ke Myanmar, India berharap akan terbebas dari ancaman China yang apabila berhasil menguasai Myanmar sebagai Froxy-nya, maka China akan leluasa mengontrol Teluk Benggala dan Laut Andaman sehingga berhadap-hadapan langsung dengan India.

Pada Rabu pekan lalu, Panglima Angkatan Laut Myanmar Laksamana Tin Aung San bertemu dengan Menteri Pertahanan India Nirmala Sitaraman dan kepala angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara India.

Seorang pejabat militer India menyebut negaranya akan memsok kapal patroli ke Myanmar. Disebutkan juga, Kepala angkatan laut Myanmar juga mengunjungi lokasi pembangunan kapal angkatan laut di Mumbai sebagai bagian dari perjalanan empat hari, yang berakhir pada Kamis besok.

“Myanmar adalah pilar kebijakan Look East kami dan urusan pertahanan merupakan bagian besar dari hubungan tersebut,” kujar pejabat itu.

Bukan sekali ini saja India menjalin kerja sama militer dengan Myanmar. Pda 2013 lalu India  memasok peralatan seperti senjata artileri, radar dan alat penglihatan malam ke tentara Myanmar. Tampaknya India sedang menyeret Myanmar agar fokus ke maritime dan meninggalkan darat dengan harapan Myanmar terlepas dari pengaruh China.

Dukungan India itu juga sebagai isyarat, saat Myanmar mendapatkan kecaman dunia terkait dengan Rohingya, India tetap bersama dengan pemerintah Myanmar. Pemimpin India juga mendukung pemimpin Aung Saan Suu Kyi dan mengecam keras kelompok ARSA yang memicu tindakan keras militer Myanmar terhadap Rohingya.

Bagi China, posisi geografis Myanmar dianggap sangat strategis dan penting untuk menjaga keamanan dan stabilitas wilayahnya. Kedua negara itu juga dibatasi oleh garis perbatasan sepanjang 2.185 Kilometer. Myanmar adalah negara yang diincarnya untuk bisa mengakses Laut Andaman dan Samudera India.

Selain itu, Myanmar juga bukan pepesan kosong. Di perut buminya tersimpan cadangan gas terbukti sebesar 97 triliun meter kubik dan cadangan minyak terbukti sebesar 50 juta barel.

Tiga perusahaan besar China, masing-masing Sinopec, PetroChina dan CNOOC sudah hadir di Rakhine dengan proyek pipanisasi gas senilai 5 miliar dolar AS lewat China-Myanmar Oil and Gas Pipelines sepanjang 2.380 Km yang berakhir ke Yunnan dan Chongqing.

Pipanisasi itu penting bagi China, karena dia tidak perlu lagi melintas selat Malaka yang rawan perompakan untuk distribusi minyak dan gasnya dari sejumlah negara di Afrika. Melainkan cukup melabuhkan kapal-kapal tankernya di Myanmar dan meneruskan minyak dan gas lewat pipa tanpa melewati selat Malaka.

Dengan begitu, pertarungan geo-politik dan geo-strategi akan seru, terutama perebutan pengaruh antara India dan China yang menganggap Myanmarnegara yang penting bagi keduanya. Maka, nasib Rohingya tidak bisa dharapkan baik dari India maupun China.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here