Terkuak Nama Emil dan Ipong, Cawagub Mataraman Siap-siap Deklarasi

0
211
Menurut survei iPol Indonesia, peluang Emil Dardak lebih besar dipilih Khofifah Indar Parawansa untuk mendampinginya.

Nusantara.news, Surabaya – Sekjen Partai Golkar Idrus Marham bicara blak-blakan soal dua nama bakal Cawagub Jatim hasil musyawarah Tim 9 untuk Khofifah Indar Parawansa. Terkuak sudah, dua nama itu adalah Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. Idrus mengaku mendapatkan info tersebut setelah mendapatkan penjelasan secara langsung dari Khofifah saat bertemu.

“Saudari Khofifah memberi penjelasan kepada kami bagaimana tentang langkah-langkah yang dilakukan para ulama yang tergabung di dalam Tim 9. Saya kira ini sudah jalan semua. Dan sudah sampai pembicaraan dari orang,” ungkap Idrus di Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta, belum lama ini.

Emil dan Ipong, kata Idrus merupakan dua nama Cawagub pendamping Khofifah yang telah dikerucutkan dari 8 nama oleh Tim 9. Pihaknya pun telah melakukan pembicaraan intensif dengan Emil dan Ipong sebelum dipilih oleh Khofifah.

“Dari Golkar sudah ada pembicaraan juga dan nama-nama yang sudah beredar memang cukup banyak berkembang. Terakhir saudara Emil Dardak Bupati Trenggalek dan Ipong,” imbuhnya.

Lantas Golkar akan condong ke mana dari dua nama tersebut? Menurut Idrus, Partai Golkar lebih tertarik pada sosok Emil. Sebab, Emil dinilainya adalah sosok yang mewakili generasi milenial, sarat prestasi, dan berasal dari wilayah Mataraman.

Karena itu pihaknya kini sudah intens menjalin komunikasi dengan Emil. Bahkan pembicaraan sudah mulai mengarah pada langkah pemenangan di Pilgub Jatim. “Kita sudah banyak komunikasi dengan saudara Emil, bicara panjang lebar bagaimana komitmennya,” ucapnya.

“Dan kalau saudara Emil misalkan dipilih oleh Khofifah, bagaimana kontribusinya terhadap pemenangan posisinya seperti apa dalam rangka menggalang generasi milenial, dan bagaimana kontribusinya dalam membantu kepemimpinan ini sudah kota diskusikan,” imbuhnya.

Namun demikian, Partai Golkar akan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Khofifah untuk memilih pendampingnya, antara Emil dan Ipong. Sebab, keduanya sama-sama sosok pemimpin yang baik dan berasal dari wilayah sama yakni Mataraman.

“Semua kembali pada Khofifah sebagai Cagub untuk menentukan pasangannya, sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada,” tuturnya.

Sejalan dengan Idrus, Ketua Bidang Pemenangan DPP Partai Golkar Yahya Zaini menyarankan jika Khofifah ingin menang maka harus memilih calon pendamping dari wilayah Mataraman. Emil dan Ipong mewakili wilayah tersebut. “Tentu kalau Khofifah ingin memenangkan pertarungan maka yang ideal berpasangan dengan figur-figur tokoh yang berasal dari Mataraman,” tandasnya.

Yahya menjelaskan, partainya menilai Emil memiliki keunggulan dibanding Ipong. Emil, kata Yahya, merupakan tokoh muda yang bisa mewakili generasi milenial. Strategi tersebut telah dibaca oleh Khofifah.

“Ya kira kira begitu saya kira khofifah memahami kontelasi ini karena ini juga berkembang di partai koalisi dan yang pasti Golkar sudah beberapa kali bertemu dengan saudara Emil kita diskusi bagaimana komitmen tentang pemenangan ini dan kita sudah intensifkan,” tukasnya.

Kans Besar Cawagub Pilihan Khofifah

Antara Emil dan Ipong, keduanya memiliki kans kuat untuk dipilih Khofifah. Namun lembaga riset IT Research Politic Consultant (iPol) Indonesia menilai, peluang Emil lebih besar dipilih Khofifah untuk mendampinginya. Asumsi ini berdasarkan jumlah pemberitaan media massa yang dipantau iPol, sejak tim 9 pimpinan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah mengumumkan hasil survei 10 nama yang diusulkan sebagai pendamping Khofifah tanggal 5 November lalu.

Partai Golkar lebih sreg Emil Dardak mendampingi Khofifah karena mewakili generasi milenial, sarat prestasi, dan berasal dari wilayah Mataraman.

Menurut CEO iPol Indonesia, Petrus Hariyanto, awalnya hasil survei tertinggi mengerucut pada tiga nama. Tapi setelah diforumkan bersama kiai dan ibu nyai yang tergabung dalam tim 9, hasilnya mengerucut dua nama. Selama ini iPol turut memantau pergerakan politik jelang Pilgub Jawa Timur, dan menelusuri dua nama tersebut melalui pemberitaan media massa. Termasuk di media sosial.

Dari tren pemberitaan memperlihatkan index, sentimen, passion dan tone pemberitaan, mengerucut pada nama Emil Dardak dan Ipong Muchlisoni.

“Riset kami memantau pemberitaan di 352 media massa, dan hasilnya menguat pada dua nama yaitu Emil dan Ipong. Kata kunci yang kami gunakan adalah Pilgub Jatim 2018,” terang Petrus di Surabaya, Selasa (7/11/2017).

Dari probabilitas 38,9 persen posisi tertinggi suami artis Arumi Bachsin (Emil). Disusul Ipong dengan poin 37,6 persen dan Hasan Aminuddin dengan probabilitas 33,7 persen.

Tidak hanya itu, tone pemberitaan positif tentang Emil terus menguat, karena ditopang para influencer melalui statement di media massa. “Sentimen positif ini menjadi indikator bahwa Emil layak menjadi wakil dari Khofifah,” sambung alumus Stikosa AWS angkatan 1998 ini.

Kendati demikian, ada tone negatif terkait Emil. Dan itu dilontarkan petinggi PDIP, yang menyebut bahwa Emil harus memegang janji untuk mengabdi di Trenggalek hingga habis masa jabatannya.

Sementara untuk Ipong, probabilitasnya makin meningkat setelah bergabung dengan NasDem, yang notabene partai pengusung Khofifah. Sinyalemen kuat tentang Ipong menjadi bayang-bayang untuk menggantikan posisi Emil.

Ketua DPW Partai Nasdem Jawa Timur Rendra Kresna menyatakan, keputusan Cawagub diserahkan pada Khofifah. Pihaknya melihat ada beberapa nama yang mencuat selain Emil dan Ipong, yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Saya rata-rata kenal baik semua, kecuali Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) karena yang bersangkutan lebih banyak berada di Jakarta. Semua bagus, namun siapa yang bakal digandeng dan mendampingi bu Khofifah tergantung beliau,” sebut Rendra Kresna di Malang, Jawa Timur, Kamis (8/11/2017).

Dikatakan Rendra, nama-nama calon pendamping Khofifah tersebut memiliki elektabilitas yang bagus. Ipong dan Emil, lanjutnya, merupakan tokoh publik yang memiliki kinerja bagus dan diterima masyarakat daerahnya masing-masing. Namun demikian, sebagai kader Nasdem, Rendra mengaku akan mengikuti instruksi pimpinan meski yang mendampingi Khofifah bukan kader Partai Nasdem sekalipun. “Siapa yang mendampingi Bu Khofifah, Nasdem Jatim akan tetap solid dalam satu barisan,” kata Rendra yang juga Bupati Malang tersebut.

Ipong ke Surabaya untuk Deklarasi?

Menguat posisi Ipong siap menggelar deklarasi Cawagub setelah dikabarkan dipilih oleh Khofifah. Pasalnya, Ipong saat ini tidak nampak menghadiri beberapa acara Pemkab Ponorogo. Bahkan pada Jumat (10/11/2017), Ipong tidak menjadi inspektur upacara Hari Pahlawan di Ponorogo. Usut punya usut, ternyata Ipong berada di Surabaya sejak Kamis (9/11/2017).

Hal itu diketahui saat Ipong menghadiri undangan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jatim di kantor Lensa Indonesia. Bersama sejumlah media, Ipong tampak berdiskusi membahas permasalahan di Jawa Timur, termasuk posisi dia sebagai Cawagub. Seperti diketahui, Khofifah sedianya akan mengumumkan pasangannya pada Hari Pahlawan.

Namun saat dikonfirmasi, Ipong mengatakan siap jika memang digandeng Khofifah dalam Pilgub Jatim. “Sebagai politisi, tentu harapannya kariernya selalu naik, saya siap demi bangsa,” ujarnya.

Sejauh ini, ada beberapa partai yang menjalin komunikasi dengan dirinya. Yaitu Partai Nasdem, Partai Golkar dan Partai Demokrat. Bahkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sudah berbicara dengannya. “Pak Prabowo juga sudah menjalin komunikasi,” ujarnya.

Cerita Ipong, dirinya pernah ditanya Prabowo terkait keinginannya maju di Pilgub. “Saya bilang, nggak ada,” ujarnya.

Prabowo sambung Ipong lantas bertanya lagi soal sosok calon gubernur yang bisa diduetkan dengan dirinya. Prabowo kemudian menyodorkan nama Khofifah. “Dengan Bu Khofifah untuk bangsa dan negara, saya siap saja,” terangnya.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni saat berkunjung ke kantor redaksi media di Surabaya.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada partai yang secara terbuka menunjuk dirinya untuk mendampingi Khofifah. “Pakde Karwo (Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, red) hanya mengatakan ‘Gus Ipul sudah dengan Anas, kan sama-sama Tapal Kuda. Yang dari Mataraman harus siap.’ Sudah itu saja,” ungkapnya.

Ipong sendiri tidak terlalu memikirkan apakah dirinya jadi digandeng oleh Khofifah atau tidak. Dia menganggap santernya pemberitaan dirinya berdampak positif, termasuk bagi masyarakat Ponorogo itu sendiri.

“Saya siap digandeng namun saya sendiri tidak berniat untuk maju. Kan saya juga tidak ke parpol-parpol. Keadaan yang membuatnya (melejit), bukan karena saya. Alhamdulillah dan terima kasih, namanya saya masuk dalam hitungan. Terima kasih kepada para kiai, Bu Khofifah, partai yang mempertimbangkan saya (berpeluang menjadi cawagub). Tapi saya belum berani siap. Ditawari oleh partai, kiai, Bu Khofifah secara langsung juga belum pernah,” ungkapnya.

Disinggung kedekatannya dengan Khofifah, Ipong mengatakan bahwa hubungan dirinya dan Khofifah baik-baik saja. Dia juga tidak membantah sering bertemu dengan Menteri Sosial. Tapi pertemuan itu sebatas menyambut kunjungan kerja di salah satu pondok pesantren di Ponorogo.

“Kan Bu Khofifah yang datang ke Ponorogo. Kan bukan saya yang mendatangi Bu Khofifah. Saya sebagai Bupati, hanya menerima dan menjamunya sebagai menteri,” tegasnya.

Dia juga menyebut tidak pernah bicara soal pencalonan diri menjadi pendamping Khofifah yang maju di Pilgub Jatim. Ipong tak mau gede rumongso.

Soal blusukannya ke Surabaya, Ipong mengatakan bahwa dirinya berkunjung ke Kota Pahlawan dalam rangka dinas, dan bukan untuk deklarasi. “Saya ke Grahadi. Saya menyambangi beberapa kantor media dan teman wartawan. Nah, ke Surabaya itu dinas. Untuk ke kantor itu ya istilahnya dolan. Bukan karena deklarasi menjadi Cawagub,” pungkasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here