Terlalu Murah, PPP Romi Dukung Ahok Demi Selembar SK

1
615

Nusantara.news, Jakarta – Keputusan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kubu Romahurmuziy yang merapat ke pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat ternyata tidak hanya ditentang oleh kader muda dan sejumlah pengurus di tingkat Dewan Pimpinan Cabang. Keputusan juga membuat murka sejumlah sesepuh partai berlambang Ka’bah itu. Salah satunya adalah Bachtiar Chamsyah, anggota Majelis Tinggi (A’la) PPP.

“PPP itu kan asasnya Islam. Itu artinya asas itu segala tindak tanduk harus bernafaskan Islam dong. Jangan kita melanggar asas itu,” kata mantan Menteri Sosial ini, Kamis (30/3).

Ia pun menganalisis, keputusan elite PPP merapat ke Ahok-Djarot bersifat politis demi melanggengkan koalisi parpol pemerintah. Tujuannya, demi mendapatkan legalitas kepengurusan PPP Kubu Romi dari pemerintah, karena khawatir dengan PPP Kubu Djan Faridz juga mendukung pasangan yang sama.

“Jadi, jika kemudian ada dukungan PPP Kubu Romi terhadap pasangan Ahok- Djarot, itu semata-mata hanya keputusan elite DPP tanpa mempertimbangkan suara yang lain. Padahal, dalam rapat sebelumnya, banyak kader PPP yang tidak sepakat dengan keputusan tersebut,” pungkas Bachtiar.

Hal serupa diungkapkan sesepuh PPP lainnya, Zarkasih Nur. Ia meyakini, bahwa kader partai berlambang Ka’bah tak akan mengikuti seruan para elite untuk memilih pasangan Ahok-Djarot pada pilkada DKI putaran kedua 2017.

“Andaikata DPP mengumumkan 100 kali pun, supaya anggota kader pilih Ahok, saya kira nggak ada gunanya. Nggak mungkin mereka memilih. Saya yakin (seruan DPP) tidak diikuti.” kata mantan Menteri Koperasi ini.

Di luar partai, kritik tajam juga dilontarkan oleh seorang tokoh Tionghoa Lieus Sungkharisma, Ketua Umum Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (PARTI). Menurutnya, dukungan PPP Romi terhadap Ahok-Djarot dalam pilgub DKI pasti dengan mudah dinilai rakyat, yaitu kepentingan pribadi pengurus yang haus akan kekuasaan.

Kebangetan PPP Romi ikut-ikutan bergabung ke Ahok-Djarot. Katanya Parpol Islam tapi kok malah mendukung Ahok yang menista agama Islam? Ini blunder besar bagi PPP Rommy. Logikanya di mana? Kok pake jurus jungkir balik gitu. Mungkin dikiranya rakyat bodoh semua,” kata Lieus melalui sambungan telepon.

Menanggapi penolakan dari sejumlah pihak, politikus PPP kubu Romi, Saifullah Tamliha, mengatakan hal yang wajar jika pihaknya memutuskan untuk bergabung ke partai pendukung paslon nomor urut dua bersama PDI Perjuangan, Golkar, Nasdem, dan Hanura. “Kami memiliki alasan politis. Kami ingin partai pendukung pemerintah ini tetap solid dan tidak terpecah hanya karena Pilkada DKI Jakarta. Apalagi, kami berharap koalisi pemerintah ini awet sampai 2019 mendatang,” kata Tamliha.

Sedangkan PPP kubu Djan yang lebih dulu mendukung Ahok-Djarot sepertinya tidak lagi mengambil pusing terhadap pandangan negatif dari luar maupun internal partai soal dukungannya itu. Yang jelas, salah satu alasan Djan mendukung Ahok karena mantan Bupati Bangka Belitung itu membuat beberapa kebijakan untuk umat Islam. Di antaranya adalah membangun masjid raya. Padahal, masjid raya Jakarta di Daan Mogot yang kini pembangunannya sudah tahap akhir, merupakan buah inisiatif Jokowi ketika menjabat Gubernur DKI.

Selain itu, Djan mengaku senang dengan kepemimpinan Ahok yang merupakan adik iparnya sendiri dari istri ketiganya. “Kalau si Ahok perempuan, gue kawinin juga dia jadi istri keempat. Tapi enggak bisa, gue bersaudara sama dia,” kata Djan berseloroh beberapa waktu lalu.

Tampaknya, dukungan yang diberikan PPP kubu Djan Faridz dan kubu Romi kepada Ahok-Djarot merupakan manuver politik saja. Sebab, baik Djan maupun Romi ingin mengambil hati Presiden Jokowi yang dianggap ada di belakang Ahok-Djarot yang diusung oleh PDIP. Ujungnya, keduanya berebut “selembar Surat Keputusan (SK)” demi legalitas kepengurusan versi masing-masing dari pemerintah.

Dampaknya, saat ini pengurus PPP kedua kubu tengah mengalami apa yang disebut sebagai “pendangkalan politik”. Yaitu cara memutuskan kebijakan strategis partai yang lebih mementingkan pertimbangan-pertimbangan pragmatis, dan meminggirkan pertimbangan atas dasar asas, ideologi, dan aspirasi kader partai.

Pengamat politik dari Populi Center, Pangi Syarwi, menilai dukungan PPP kubu Djan Faridz dan kubu Romi untuk Ahok-Djarot ini akan menjadi catatan kelam dan kenangan buruk bagi simpatisan partai berbasis agama tersebut, karena dianggap bukan lagi bagian dari representasi suara umat.

“Ini menjadi catatan kelam dan akan menjadi kenangan buruk yang tersimpan di benak publik mayoritas pemilih basis Islam. Bahwa PPP tak lagi bagian dari representasi suara umat dan satu-satunya partai ideologi Islam yang mengusung Ahok,” tegas Pangi. []

1 KOMENTAR

  1. Buat gue n keluarga besar gue…PPP wassalam n good bye….bisa2xnya menggadaikan iman….ngaku partai Islam …koq belain ahok

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here