Teror di Inggris yang Semakin Sering

0
93
Dua perempuan terbungkus selimut thermal berdiri di dekat Manchester Arena, dimana penyanyi Amerika Serikat Ariana Grande tampil, di Manchester, utara Inggris, Inggris, Selasa (23/5). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news, Manchester – Inggris mulai sering mengalami serangan teroris, hanya berselang kira-kira dua bulan setelah serangan teror di depan gedung parlemen (Westminster Bridge) Maret lalu yang membunuh 4 orang, negara yang tengah dalam proses menarik diri dari Uni Eropa ini, kembali diguncang teror pada Senin (22/5) malam. Kali ini, dengan skala yang lebih besar dan memakan korban lebih banyak. Ledakan besar terjadi pada sebuah konser musik pop di Menchester Arena. Sedikitnya 22 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Tingkat ancaman terorisme di Inggris untuk beberapa waktu memang berada pada tingkat tertinggi kedua di Eropa, yang mengisyaratkan bahwa serangan teroris dianggap sangat mungkin terjadi kapan saja. Padahal, pihak keamanan Inggris mengatakan mereka telah menghancurkan sel-sel teroris akhir-akhir ini.

Meski belum terungkap penyebab juga pelaku ledakan dahsyat yang membuat para penonton konser penyanyi asal Amerika Serikat, Ariana Grande, yang rata-rata remaja itu berhamburan. Kelompok ISIS pada Selasa (23/5) mengklaim telah bertanggung jawab atas pemboman di lokasi tersebut. Namun pihak pemerintah Inggris belum mau berkomentar soal klaim ISIS tersebut. Ledakan Manchester Arena, jika kemudian terkonfirmasi sebagai serangan kelompok teroris, merupakan teror paling mematikan di Inggris sejak 2005, ketika 52 orang meninggal bersama dengan empat penyerang dalam sebuah serangan sistem transit di London.

Terlalu dini untuk mengetahui motif serangan mematikan di sebuah tempat konser terbesar di Eropa dengan pengamanan yang ketat itu. Tapi, Manchester pernah menjadi lokasi pemboman oleh Tentara Republik Irlandia pada tahun 1996 yang menghancurkan pusat kota itu, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

Negara-negara Eropa secara keseluruhan dalam beberapa tahun terakhir, akrab dengan serangan-serangan terorisme. Tapi tetap saja serangan Manchester menyebabkan kemarahan dan rasa sakit karena menargetkan sebuah konser yang mengorbankan kebanyakan gadis remaja.

Ledakan yang diduga bom itu memporak-porandakan sebuah lorong masuk Manchester Arena yang berkapasitas 21 ribu tempat duduk sekitar pukul 10.30 malam, saat konser berakhir dan kerumunan remaja mulai membubarkan diri.

Pada Selasa (23/5), polisi mengumumkan telah menangkap seorang pria berusia 23 tahun di barat daya pusat kota Manchester terkait ledakan tersebut, namun mereka belum memberikan perincian. Polisi juga belum mau mengomentari klaim ISIS yang diungkap lewat SITE Intelligence Group yang memantau komunikasi militan. Tapi pernyataan ISIS itu tidak mengidentifikasi pelaku pengeboman.

Sebagaimana dilansir The New York Times, Perdana Menteri Inggris Theresa May dalam sebuah pernyataan di televisi Inggris mengatakan, “Kami sekarang tahu bahwa teroris meledakkan alat peledaknya yang di dekat salah satu pintu keluar tempat tersebut, dengan sengaja memilih waktu dan tempat untuk menyebabkan pembantaian total dan untuk membunuh serta melukai tanpa pandang bulu.”

“Ledakan itu bertepatan dengan berakhirnya konser pop yang dihadiri oleh banyak keluarga muda dan anak-anak,” tambah May. “Serangan ini menunjukkan seorang pengecut yang mengerikan dan memuakkan, dengan sengaja menargetkan anak-anak dan remaja yang tidak berdosa dan tak berdaya yang seharusnya menikmati malam paling diingat dalam hidup mereka,” kata May.

Sebagaimana dilansir BBC, Selasa (23/5) para ahli keamanan mengatakan, penggunaan bom bunuh diri di Manchester, jika benar, menunjukkan tingkat kecanggihan yang menyiratkan adanya kolaborasi, dan kemungkinan bom-bom lain juga telah dibuat pada saat bersamaan.

“Ini melibatkan banyak perencanaan, dan berarti sedikit langkah maju,” kata Chris Phillips, mantan kepala National Counter Terrorism Security Office di Inggris. “Ini adalah serangan gaya yang jauh lebih profesional,” katanya kepada BBC.

Sebelumnya, pada 22 Maret lalu ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas serangan oleh seorang pria Inggris yang menyerang 4 pejalan kaki di Westminster Bridge sebelum membunuh seorang perwira polisi di depan gedung Parlemen.

Richard Barrett, mantan direktur Operasi Penanggulangan Terorisme Global di M I6, badan intelijen Inggris, mengatakan bahwa pasukan keamanan dan polisi Inggris saat ini harus memantau lebih dari 400 orang yang kembali dari jihad di Timur Tengah dan 600 orang lainnya yang pernah mencoba berangkat “berjihad” tapi berhasil dicegah.

“Jadi sudah 1.000 orang, belum menghitung simpatisan lain di Inggris,” katanya.

Barret juga menjelaskan, bahwa untuk membuat bom tidak harus seseorang berangkat ke Suriah atau negara lainnya untuk mendapatkan keahlian merakit bom.

Dengan kasus ini, Barrett mendesak pihak berwenang untuk lebih terlibat lagi dengan komunitas Muslim di Inggris, untuk memahami kenapa seseorang melakukan hal tersebut. Menurutnya, informasi dari masyarakat lokal lebih penting dalam menghentikan terorisme ketimbang menghalang-halangi pengebom dari Timur Tengah.

“Ini tentang melibatkan masyarakat dan membiarkan masyarakat menginformasikan kepada kami tentang bagaimana menghindari teror,” kata dia.

Sementara itu, Presiden AS Trump, di sela-sela konferensi pers di kota Bethlehem, Tepi Barat, Selasa (23/5) bersama Mahmoud Abbas, presiden Otoritas Palestina, mengutuk serangan tersebut. Dia menyebut pelaku pengeboman sebagai “pecundang yang jahat”.

Serangan teror Manchester terjadi di masa-masa terakhir kampanye, sebelum pemilu Inggris digelar pada 8 Juni mendatang.

Seorang politisi oposisi pemerintah, Jeremy Corbyn, dari Partai Buruh dan Tim Farron dari Demokrat Liberal, serta Nicola Sturgeon dari Partai Nasional Skotlandia bergabung bersama dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk mengungkapkan kesedihan dan keprihatinan mereka.

Belum bisa diprediksi apakah serangan Manchester akan berpengaruh terhadap pemilu Inggris. Namun, sejumlah pengamat politik memperkirakan peristiwa tersebut akan membantu citra Theresa May sebagai Ketua Partai Konservatif, yang sebelumnya juga pernah menjabat Menteri Dalam Negeri Inggris Raya yang bertanggung jawab atas keamanan dalam negeri Inggris, dan secara umum dia dianggap sebagai pemimpin perempuan yang tangguh. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here