Teror di Mako Brimob Dirancang Sejak Lama

1
721

Nusantara.news, Jakarta – Penyerangan dan penyanderaan terhadap enam anggota Polri oleh sekelompok tahanan teroris di Rutan Salemba cabang Mako Brimob, Depok, Selasa malam (8 Mei 2018) lalu, adalah modus terbaru teroris untuk membalas dendam kepada polisi. Lima anggota Densus 88/Antiteror Polri gugur dalam kejadian itu. Satu anggota Polri sempat menjadi sandera namun berhasil diselamatkan meski dalam keadaan terluka. Satu orang teroris juga tewas dalam aksi menegangkan yang terjadi selama 40 jam itu.

Ini adalah jumlah korban polisi terbanyak sepanjang sejarah teror terhadap kepolisian di Indonesia. Sebelumnya rekor korban terbanyak adalah ketika kantor Komando Sektor Kota (Kosekta) 65 Cicendo Bandung diserbu oleh 14 orang anggota Jamaah Imran pada 11 Maret 1981, yang menewaskan empat anggota Polri. Kemudian tiga orang polisi tewas dalam peristiwa bom di Terminal Kampung Melayu Jakarta, yang terjadi tepat setahun lalu (24 Mei 2017).

Kerusuhan di Mako Brimob itu berawal dari makanan. “Pemicunya hal sepele, masalah makanan,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal. Kejadian diawali Wawan Kurniawan alias Abu Afif (43 tahun),  tahanan penghuni Blok C di Rutan tersebut, yang menanyakan kiriman makanan dari keluarganya kepada anggota Polri yang menjadi petugas jaga. Namun, titipan makanan itu rupanya dipegang oleh petugas yang lain. Entah apa sebabnya, si tahanan tersebut tidak terima dan menghasut tahanan lain untuk melakukan keributan di Blok C dan Blok B. Mereka kemudian membobol sel dan menyerang petugas.

Tak siap dengan kerusuhan mendadak itu, petugas yang kalah jumlah berhasil dilumpuhkan. Berdasarkan otopsi tim Puslabfor Polri, lima anggota yang yang gugur itu dieksekusi dengan cara yang sangat sadistis. “Luka yang diderita oleh rekan-rekan kami yang gugur adalah luka yang sangat dalam di leher akibat sayatan senjata tajam, dan satu orang karena luka akibat tembakan di bagian kepala,” ujar Iqbal kepada Nusantara.NewsBelakangan ada keterangan tambahan dari Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setya Wasisto, bahwa sayatan itu dilakukan dengan pecahan kaca.

Ribut soal kiriman makanan ini kelihatannya hanya soal momentum saja. Polisi adalah target utama terorisme sejak beberapa tahun terakhir. Jika dulu sasaran aksi teror adalah kepentingan asing, terutama Amerika Serikat dan sekutunya, sekarang mereka beralih menyasar polisi.

“Karena kepolisian itu dianggap sebagai kafir harbi. Kafir harbi itu kafir yang memerangi mereka. Jadi siapa yang memerangi mereka, itu menjadi prioritas untuk diserang,” kata Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian usai meninjau Rutan Salemba Cabang Mako Brimob pasca kerusuhan yang mengakibatkan lima anggota Polri gugur.

Karena itu kehadiran sejumlah anggota Densus 88/AT di Rutan Mako Brimob pasti sudah dipelajari sejak lama. Sebab hanya di situlah mereka bisa melakukan serangan langsung kepada kesatuan yang sejak lama mereka incar ini.

Artinya, secara psikologis,  para napi teroris itu sudah dalam keadaan siap perang untuk membalas dendam kepada polisi, terutama yang berasal dari Densus 88/Antiteror. Detasemen yang dibentuk tidak lama setelah Bom Bali I ini memang menjadi musuh besar para teroris, karena kesatuan inilah yang melakukan penangkapan massif teroris di berbagai tempat. Hanya saja serangan langsung kepada kesatuan ini tidak pernah bisa dilakukan, karena kesulitan mengidentifikasi sasaran. Sebab, Densus ini bergerak dengan kerahasiaan tinggi dan penampilan keseharian mereka tidak menggunakan atribut-atribut kepolisian.

Itu sebabnya, aksi balas dendam itu lebih banyak dilakukan secara acak kepada polisi yang bertugas dengan seragam atau kantor-kantor kepolisian. Jadi kesempatan emas bagi teroris untuk menyerang Densus 88/AT memang hanya di Rutan tersebut.

Sementara, di sisi lain,  kendati anggota Densus yang berjaga di situ dalam kondisi yang sangat bersiaga, ada faktor psikologis yang dapat memancing kelengahan, yakni karena merasa para teroris itu berada dalam jeruji tahanan. Apalagi Rutan Brimob ini berada di tengah markas komando polisi paramiliter itu, yang dijaga secara berlapis oleh polisi bersenjata lengkap. Hal ini bisa menimbulkan persepsi bahwa napi tidak terlalu bernyali untuk melawan. Inilah yang dapat mengakibatkan kelengahan tersebut.

Usai membunuh lima anggota Polri, sejumlah tahanan teroris yang digiring ke luar sel tahanan.

Fakta bahwa kerusuhan memang sering terjadi di sejumlah rutan dan lapas, bisa jadi kurang dipertimbangkan. Jika fakta ini kurang diperhitungkan, dapat dimaklumi. Sebab, tahanan di lapas atau rutan bisa jadi lebih bernyali karena penjagaan hanya dilakukan oleh sipir yang tak bersenjata. Senjata api, itu pun seadanya, biasanya di-pool di ruang tertentu yang hanya dikeluarkan pada saat kritis. Penjagaan seperti itu dapat memunculkan keberanian napi untuk melakukan perlawanan atau membuat kerusuhan. Kerusuhan di lapas biasanya langsung bisa dikendalikan ketika datang bantuan dari polisi terdekat.

Mudahnya pengendalian kerusuhan di lapas atau rutan oleh polisi disebabkan keberingasan para tahanan akan langsung ciut ketika ditodong laras senjata. Ini berbeda dengan tahanan terorisme. Mereka jauh lebih berani, bahkan menantang maut sekalipun. Sebab, karena pemahaman yang keliru tentang syahid, mati adalah risiko yang memang mereka cari dalam melakukan aksi.

Ditambah lagi kemungkinan lain bahwa secara mental anggota Densus lebih terbiasa melakukan penyergapan atau penyerangan, namun belum tentu siap dalam tugas penjagaan.

Faktor-faktor psikologis ini jelas sudah dipelajari oleh para napi terorisme itu. Bukti bahwa mereka memahami betul psikologi polisi bukan hanya dalam kasus di Mako Brimob ini saja. Dalam kasus bom di Terminal Kampung Melayu, juga menunjukkan bahwa mereka sudah mempelajari kebiasaan polisi.

Dalam kejadian itu, bom diledakkan dua kali dengan selang waktu beberapa menit. Ledakan pertama terjadi pukul 21.00 WIB, sedangkan ledakan kedua terjadi 5 menit kemudian.

Efek yang diharapkan dari ledakan berantai ini adalah reaksi polisi yang sedang mengadakan tugas Turjawali (Pengaturan, Penjagaan dan Patroli) di sekitar terminal itu untuk segera mendekati sumber ledakan. Sebab, secara psikologis, polisi pasti secara refleks untuk segera menghambur ke lokasi ledakan, baik untuk menolong korban maupun mengamankan TKP.

Begitu polisi mendekat dan berada di radius sasaran, bom kedua diledakkan. Akibatnya, semua polisi muda yang berada di killing ground langsung diterkam ledakan. Dalam kejadian itu tiga polisi gugur. Mereka adalah Bripda Taufan, Bripda Ridho dan Bripda Adinata. Sedangkan 10 orang korban luka adalah 5 personel polisi dan 5 orang warga sipil. Semua polisi ini menjadi korban ketika berusaha menolong korban ledakan bom pertama. (Lihat: https://nusantara.news/bom-berantai-modus-baru-mengincar-polisi/

Terlihat bagaimana para teroris paham mengenai reaksi refleks polisi yang pasti segera bertindak mendekati TKP. Pada saat mendekat, bom berikut meledak atau diledakkan, entah melalui timer atau remote control untuk peledakan jarak jauh.

Serangan teroris untuk membalas dendam kepada polisi memang selalu berubah dengan pola yang berbeda. Dan semakin hari semakin canggih dengan perencanaan yang nyaris presisi.

Selama ini, serangan dilakukan ke sejumlah kantor polisi dengan pola spekulatif. Modus umumnya adalah pelaku bom bunuh diri, atau disebut “pengantin” itu, membawa bom ke dalam markas polisi atau mendekati tempat polisi berseragam yang sedang bertugas, lalu meledakkannya di dekat sasaran.

Pola itu terlihat dalam serangan bom di depan Masjid Mapolres Poso pada 9 Juni 2013 yang menewaskan pelaku tewas dan melukai seorang pekerja bangunan terluka. Cara serupa juga terlihat ketika teroris Muhammad Syarif meledakkan bom yang terpasang di tubuhnya di masjid yang terletak di dalam Mapolresta Cirebon, pada 15 April 2010. Juga ketika Nur Rohman melakukan aksi bom bunuh diri di Polresta Solo pada 5 Juli 2016. Demikian pula dengan serangan terhadap pos polisi di Sarinah Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari 2016.

Namun serangan tersebut bisa mengenai sasaran, namun bisa pula meleset atau tidak sesuai rencana. Pola spekulatif ini tampaknya dievaluasi oleh para teroris. Sebab serangan seperti itu tidak membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan, yakni menewaskan polisi sebanyak mungkin. Dalam aksi-aksi tersebut, ternyata target tidak tercapai.

Aksi di Mapolresta Cirebon hanya melukai Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco dan 25 orang anak buahnya yang hendak menunaikan shalat Jumat. Bom Sarinah Thamrin juga hanya menciderai Ipda Denny Mahieu, anggota Sat Gatur Ditlantas Polda Metro Jaya, yang sedang bertugas di Pos Lantas di situ. AKP Herry, seorang anggota polisi Polres Metro Bekasi, yang menjadi sasaran bom bunuh diri dengan sepeda berisi bom oleh teroris bernama Abu Ali pada 29 September 2010, juga selamat.

Serangan terhadap polisi ini memang ciri khas jaringan  teror Jamaah Anshorud Daulah (JAD) yang dipimpin Aman Abdurrahman. Mereka  sudah menyusun daftar markas-markas polisi yang bakal jadi sasaran ledakan bom demi menuntut temannya yang ditahan Densus 88 dilepaskan. Antara lain Polda Jabar, Polres Cianjur, pos lalu lintas di Buah Batu dan Gegerkalong.

Perubahan sasaran mulai terjadi sejak tahun 2010, ketika peranan Jamaah Islamiyah (JI) mulai berkurang. Di era JI, sejak bom Bali tahun 2001, sasarannya adalah simbol-simbol Amerika dan sekutunya. Seperti hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Indonesia pada 5 Agustus 2003 atau bom di depan Kedubes Australia pada 9 September 2004.[]

1 KOMENTAR

  1. daripada meneror ada baik nya menjadikan 70% jamaah masjid2 yg tak hafal terjemahan Faatichah,
    segera dijadikan hafal.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here