Teror London dan Solidaritas Eropa yang Masih Ada

0
71

Nusantara.news, London – Teror London terjadi tepat sehari setelah peringatan setahun tragedi Bom Brussel Belgia. Selain menyisakan kesedihan dan keprihatinan, teror London ternyata juga menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan tetap berada di atas segala kepentingan politik.

Seperti diketahui, Eropa saat ini tengah dilanda kemelut politik terkait keluarnya Inggris dari blok Uni Eropa (Brexit). Ketegangan antara Inggris dengan negara-negara UE terutama Jerman dan Prancis berlangsung naik-turun, lebih-lebih mendekati peristiwa penting negosiasi resmi Brexit yang akan dimulai 29 Maret nanti.

Mengesampingkan ketegangan politik yang memanas belakangan hari, Kanselir Jerman Angela Merkel yang mengaku shock dengan peristiwa teror itu mengatakan, dia merasa sedih dengan kejadian teror Rabu kemarin di London dan bahwa pikirannya bersama dengan “teman-teman kita di Inggris dan semua orang di London.”

Merkel juga menegaskan komitmen Jerman untuk mendukung Inggris memerangi teror. “Saya ingin mengatakan atas nama Jerman dan warganya: Kami berdiri tegak dan tegas di pihak Inggris dalam memerangi segala bentuk terorisme,” katanya.

Sementara itu, Presiden Prancis Francois Hollande yang selama ini juga tidak terlalu baik hubungannya dengan Inggris karena Brexit, tetap memberi dukungan terhadap Inggris. “Kita semua prihatin dengan terorisme,” kata Hollande.

Menara Eiffel menjadi gelap pada Rabu malam karena berkabung untuk orang-orang yang tewas dalam serangan itu.

Menteri dalam negeri baru Perancis mengirim pesan persahabatan dan solidaritas penuh untuk Inggris.

“Sebuah tempat demokrasi yang tinggi telah diserang,” kata Matthias Fekl.

“Kami menawarkan solidaritas sepenuh hati kami ke Inggris. Prancis siap untuk menawarkan dukungan apapun jika itu diperlukan,” katanya.

Tiga murid dari sekolah tinggi Saint-Joseph di Concarneau di Brittany termasuk di antara yang terluka dalam serangan London itu.

Pada Kamis (23/3), calon presiden sayap kanan Prancis Marine Le Pen juga mengatakan, serangan itu menyoroti pentingnya melindungi perbatasan nasional dan meningkatkan langkah-langkah keamanan.

Pemimpin Partai Front Nasional itu mengatakan pada BFM TV dan radio RMC bahwa negara-negara harus bekerja sama dengan satu sama lain untuk berbagi informasi intelijen.

“Masalah yang kita miliki saat ini adalah terlalu murah terhadap terorisme,” kata Ms Le Pen yang menganjurkan kontrol lebih terhadap wilayah perbatasan.

Anggota parlemen Italia mengatakan, serangan London menunjukkan bahwa kerja sama intelijen antara Inggris dan seluruh Eropa harus terus dilakukan meskipun Inggris memilih Brexit.

“Teror London menunjukkan bahwa Eropa harus memperkuat kerja sama bidang keamanan dengan atau tanpa Brexit,” kata Mariastella Gelmini, mantan menteri pemerintah dan anggota senior dari partai tengah-kanan Forza Italia.

Donald Tusk, Presiden Dewan Eropa mengatakan lewat akun Twitternya, “Pikiran saya bersama korban serangan Westminster London, Eropa teguh dengan Inggris melawan teror dan siap untuk membantu.”

Teror London terjadi tepat sehari setelah peringatan setahun bom Brussel yang diperingati di Brussel Belgia. Pada 22 Maret 2016, tiga ledakan terjadi di Brussel, Belgia dua di Bandar Udara Brussel dan satu di stasiun bawah tanah Maelbeek/Maalbeek. Sedikitnya 34 orang tewas dan puluhan lainnya terluka. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here