Teror Lone Wolf Ala Paddock Lebih Berbahaya, Ini Penjelasannya

1
258
Pelaku penembakan brutal di Mandalay Bay, Las Vegas yang menewaskan sedikitnya 58 orang dengan korban luka 517 orang Foto : teh Independent

Nusantara.news, California – Pelaku penembakan di Las Vegas yang menewaskan 58 orang ternyata seorang kakek 64 tahun, berkulit putih, dan kehidupan pribadinya dikenal baik, penyayang dan pendiam.

Setidaknya itulah kesaksian Marilou Danley yang menjadi kekasih Stephen Paddock yang menembakkan mitraliur dari kamarnya di Mandalay Bay Hotel ke pengunjung festival musik Country di hotel itu.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media, pada 1 Oktober pukul 22.08 waktu setempat, Paddock melepaskan tembakan secara acak ke pengunjung festival musik country. Dalam aksinya seorang diri selama sekitar 10 menit, Paddock berhasil menewaskan 58 orang dan 517 lainnya terluka.

Serangan itu langsung ditanggapi Presiden Donald Trump sebagai serangan “orang gila”. Trump menampik kalau serangan itu dilakukan oleh terorisme domestic kendati dampaknya menghadirkan teror yang luar biasa bagi masyarakat luas.

Penilaian Trump juga dibantah seorang pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS yang memberikan keterangan kepada kantor berita Reuter tentang tidak adanya bukti Paddock mengidap “sakit jiwa” atau “cedera otak”.

Memang ada dua pandangan tentang definisi terorisme itu sendiri. Definisi legal formal menyebutkan bahwa kegiatan terorisme dilakuan secara berkelompok, terorganisasi dan memiliki tujuan tertentu. Sedangkan aksi Stephen Paddock dianggap tidak memenuhi unsur terorisme karena dilakukan oleh seorang diri tanpa tujuan yang jelas.

Polisi setempat bahkan menyebut tindakan pensiunan akuntan kaya raya yang tinggal di Mesquite, Nevada itu, adalah tindakan Lone Wolf, serigala tunggal yang menyerang secara membabi buta. Namun pernyataan itu mendapat tanggapan luas di media massa, khususnya twitter. Bahkan ada yang curiga, kenapa tidak disebut teroris karena pelakunya kulit putih, bukan warga berkulit gelap.

Aksi penembakan Paddock disebut-sebut sebagai aksi penembakan paling mematikan dalam 8 kali penembakan massal di Amerika Serikat sejak 1999. Toh demikian Paddock dipastikan oleh FBI tidak memiliki kaitan dengan kelompok terorisme Internasional, termasuk ISIS yang mengklaim aksi penyerangan itu.

Bahkan sebelumnya Paddock yang terakhir kali dikenal sebagai seorang penjudi tidak memiliki catatan criminal di sepanjang perjalanan hidupnya. Polisi hanya menemukan Paddock hanya memiliki sejarah masalah psikologis.

Namun pandangan itu ditentang oleh sejumlah pemilik akun twitter yang bahkan menuding sebagai bentuk keengganan aparat penegak hukum untuk menetapkan Stephen Paddock sebagai teroris dan aksi yang dilakukannya sebagai tindakan terorisme.

Seorang sutradara film “Selma” bernama Ava DuVernay yang disebarkan oleh banyak orang dalam akun twitternya menulis : “Lone wolf. Penembak lokal. Pria bersenjata. Apapun dan semuanya, Namun bukan teroris. Entah kenapa.” Cuitan Ava DuVernayitu di-retweet sampai 50.000 kali.

Bukan hanya DuVernay yang menentang anggapan FBI yang menyebut aksi Paddock bukan aksi terorisme. Secara gamblang, anggota kelompok musik pop Fifth Harmony, Lauren Jauregui, bahkan menyebut, “Kenapa dia bukan ‘teroris’ kenapa ‘lone wolf’” dia sudah membunuh lebih dari 50 orang dan melukai hampir 500… ohhh! Karena dia bukan orang berkulit cokelat kan? Saya paham.” Pandangan Lauren diretweet oleh setidaknya 11-an ribu netizen.

Tidak adanya kata teroris juga disesalkan oleh Gigi Hadid, seorang model keturunan Palestina-Belanda-Amerika. “Ini bukan penembakan pertama, dan bukan kematian yang pertama. Terlepas dari itu dia seorang teroris. Salahkan dia, bukan hanya aturan hukum soal senjata.”

Sedangkan penulis muslim, warga negara Bangladesh menyebut, “pria yang meneror 22.000 orang, membunuh dan melukai ratusan orang, dia tidak disebut teroris! apa perlu jadi orang islam untuk mendapat sebutan itu?”

Pengguna media sosial lainnya yang juga muslim dengan heran bertanya-tanya, “bisa membunuh 58 orang dan belum disebut teroris? jika (pelakunya) ini adalah seorang penganut Islam, itu hal pertama yang mereka tanyakan.”

Namun ada juga pengguna media sosial lain yang ikut memberi penjelasan, seperti kata pengguna catskilldelta1, “Definisi seorang teroris adalah menggunakan kekerasan terhadap warga sipil untuk mencapai tujuan politis. Sampai fakta-faktanya lengkap, ini bukan aksi terorisme, tapi tindakan kriminal. Jika faktanya salah, maka harap saya dikoreksi.”

Sejumlah media arus utama (mainstream) di negeri Paman Sam seperti New York Times, Washington Post, NPR dan Vox juga menjelaskan apakah yang dilakukan Stephen Paddock layak disebut terorisme, dan semua media menyimpulkan, untuk bisa disebut terorisme, suatu tindak kriminal harus memenuhi unsur-unsur hukum tertentu.

Definisi terorisme domestik, menurut Patriot Act atau undang-undang terorisme AS, terorisme domestik adalah upaya untuk “mengintimidasi atau memaksa warga sipil; mempengaruhi kebijakan pemerintah dengan intimidasi atau tekanan; atau untuk mempengaruhi tindakan pemerintah dengan melakukan penghancuran massal, pembunuhan atau penculikan.”

Penembakan di klub malam Pulse di Orlando digolongkan ke aksi terorisme domestik karena pelakunya, Omar Mateen, menyatakan kesetiaannya kepada kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Dan agar bisa dikenai tuduhan terorisme, seseorang harus bertindak mewakili satu dari sekitar 60 kelompok yang digolongkan sebagai organisasi teror oleh Kementerian Luar Negeri AS, dan ini termasuk kelompok-kelompok seperti ISIS dan Al-Qaida.

Padahal, akibat dari tindakan yang dilakukan oleh Stephen Paddock menimbulkan ketakutan yang luar biasa. Terlebih tindakan Paddock sulit dideteksi dan diduga. Lain halnya dengan teroris yang sudah digolongkan pemerintah AS dalam 60 kelompok, dengan kelompok besar ISIS dan Al-Qaeda, tentu lebih mudah dideteksi dan diantisipasi.

Tindakan serangan massal Paddock bukan sekali ini saja terjadi. Sejak 1999 setidaknya ada 8 serangan tembakan massal yang menewaskan lebih dari 10 orang, antara lain meliputi serangan massal di Colorado (1999) yang menewaskan 13 orang, serangan massal di Texas (2009) yang membunuh 13 orang, tembakan massal di San Bernardino (2015) yang menewaskan 14 orang, Killen Texas (1991) yang menewaskan 23 orang.

Selanjutnya penembakan massal di Sandy Hook, Connecticut (2012) yang membunuh 27 orang, pembantaian Virginia Tech, Virginia (2007) yang menewaskan 32 orang, dan penembakan Orlando, Florida (2016) yang menewaskan 49 orang. Diantara 8 pembantaian massal itu baru Orlando yang disebut tindakan terorisme karena pelakunya kebetulan muslim Amerika.

Padahal tindakan teror yang sulit diduga asal-usulnya ini yang sebenarnya lebih ditakutkan ketimbang tindakan-tindakan kelompok teroris yang sudah jelas organisasinya. Bukan begitu?[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here