Teror Sudah Jadi Bagian Hidup Novel Baswedan

0
85

Nusanrara.news, JAKARTA – Kasus penyiraman air keras yang dialami penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan bukanlah yang pertama. Sejak berkiprah di lembaga antirasuah itu, teror dan tawaran berbau materi pernah diterima Novel. Teror sudah menjadi bagian hidup Novel Baswedan.

Dari penelusuran Nusantara.news, Novel yang sejak November 2014 resmi pensiun dari polisi dan menjadi pegawai tetap KPK memang kerap mengalami teror saat menangani kasus besar.

Pada 2011, Novel nyaris jadi korban   penabrakan. Novel selamat karena penabraknya salah mengidentifikasi targetnya. Saat itu, yang jadi korban rekan sesama penyidik bernama Dwi Samayo. Tampaknya, pelaku mengira Dwi itu Novel lantaran keduanya secara fisik ada kemiripan. Saat itu, Novel menangani kasus cek pelelawat pemilihan Deputi Gubernur BI, Miranda Gultom. Kasus ini menyeret juga  Nunun Nurbaeti, istri mantan Wakapolri Adang Darajatun.

Dwi yang baru pulang kerja pada malam hari sedang mengendarai sepeda motornya. Tidak jaug dari KPK, seketika sebuah mobil menabraknya dari belakang. Akibatnya, kaki Dwi mengalami retak hingga dirawat di rumah sakit.

Pada pertengahan tahun 2016, Novel yang mengendarai sepeda motor ditabrak sebuah mobil Avanza di jalan tak jauh dari rumahnya. Saat itu jalanan masih sepi, Novel yang hendak menuju kantor seketika diseruduk hingga terpental dan jatuh berguling. Si penabraknya langsung kabur. Beruntung, Novel hanya luka ringan, meskipun jalannya harus tertatih-tatih saat masuk kantor.

Tal sampai disitu, saat Novel jadi Kasatgas kasus Simulator SIM yang menjerat Irjen Djoko Susilo selaku Kakorlantas, Novel pun mendapat cobaan. Dia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penembakan pencuri sarang burung walet di Lampung. Kasus ini terjadi saat Novel menjabat kepala satuan reserse kriminal di Polres Lampung pada 2004.

Novel bahkan sempat ditangkap di rumahnya di Kelapa Gading. Namun, larena tidak cukup bukti, Novel dibebaskan. Kejaksaan Agung  pun akhirnya menerbitkan surat keputusan penghentian penuntutan (SKPP).

Selain teror, Novel juga sempat mendapat tawaran untuk menjadi komisaris dari pimpinan KPK yang baru. Saat tawaran itu, Novel masih tersangka kasus penembakan pencuri sarang burung walet. Namun, tawaran itu ditolaknya.

Wakil Ketua KPK, Saut Sitomorang mengaku tawaran itu sebagai solusi untuk menyelesaikan kasus yang tengah melilit Novel.

Terakhir, pada 21 Maret lalu, saat Novel tengah berusaha membongkar kasus e-KTP, tiba-tiba Ketua KPK, Agus Rahardjo memberikan Surat Peringatan (SP) 2 kepada Novel.

SP 2 untuk Novel dalam kapasitas sebagai Ketua Wadah Pegawai (WP) yang keberatan dengan keinginan Direktur Penyidikan KPK Aris Budiman terkait rekrutmen penyidik.

Kabarnya, masalah itu berawal dari nota dinas Aris kepada pimpinan KPK yang meminta perwira tinggi dari Polri untuk dijadikan Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) penyidikan.

Namun, Novel menolak karena sejumlah alasan. Inti dari penolakan Novel adalah mengkhawatirkan integritas calon yang direkrut tanpa prosedur reguler. Selain itu, masih banyak penyidik KPK yang mampu dan layak untuk duduk di posisi tersebut.

Lantaran itu, Novel dianggap menghambat pelaksanaan tugas sehingga diberikan SP 2.

Kini pertanyannya, atas teror, intimidasi hingga bujuk rayu tersebut, akankah Novel dan penyidik KPK lainnya mundur dari niat awal menjadi pendekar pembarantasan korupsi?

Jubir KPK, Febridiansyah menegaskan, KPK tak pernah berhenti membongkar kasus korupsi hanya karena teror. Apalagi, setiap penyidik KPK sudah tahu risiko yang akan dihadapinya. “Saat akan bergabung di KPK pasti sudah tahu risikonya. Jadi, tak ada kata mundur atau kalah,” ujarnya. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here