Teror terhadap Novel, Aktivis Antikorupsi: Negara Selalu Absen

0
129
Seorang aktivis yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi membentang poster aksi dukungan kepada penyidik KPK Novel Baswedan di depan gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (11/4/2017). ANTARA FOTO

Nusantara.news, Jakarta – Penyidik terbaik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mendapat musibah, Selasa pagi (11/4/2017). Seusai salat Subuh di masjid sekitar rumahnya kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Novel tiba-tiba diserang dua orang misterius. Wajah penyidik yang dikenal sebagai sosok bersih dan profesional itu disiram air keras. Akibatnya, kedua mata dan dahi Novel mengalami luka cukup parah. Sementara, kedua pelaku berhasil kabur dengan mengendarai sepeda motor matic.

Penyerangan terhadap Novel memantik reaksi dan kecaman keras berbagai pihak. Tak terkecuali, aktivis anti-korupsi Mathur Husyairi. Aktivis yang beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan dari penembakan orang tak dikenal saat gigih bersuara mengsusut kasus korupsi di Bangkalan, Madura, ini mengungkapkan kegeraman dan keprihatinannya.

“Miris dengan kondisi bangsa dan negara saat ini. Kejadian ini bakal membuat kepercayaan rakyat makin pudar terhadap pemerintah. Saya sangat mengecam tindakan tak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh orang yang bermental pengecut seperti itu,” kata Mathur kepada Nusantara.news, Rabu (12/4/2017).

Insiden yang menimpa Novel tidak terjadi kali ini saja. Keluarganya mencatat sudah lima kali Novel mengalami teror dan serangan. Karena itu, aktivis dari LSM Center for Islam and Democracy Studies (CIDe’) ini sangat menyayangkan pemerintah yang menurutnya selalu terlambat dan abai memberi jaminan keamanan pada setiap warga negara. Terutama, saat menjadi bagian dari penegakkan hukum.

“Negara selalu absen dalam memberikan keamanan pada warganya. Jangankan warga biasa, seorang penyidik KPK yang jadi aset bangsa saja diabaikan. Lalu, sampai kapan aksi serupa akan berhenti dan rakyat bisa hidup dengan rasa aman dan nyaman?” lanjutnya.

Resiko yang dihadapi seorang penyidik senior di lembaga anti-rasuah seperti Novel Baswedan memang sangat tinggi. Apalagi saat ini Novel sedang menyidik kasus mega-korupsi e-KTP yang diduga melibatkan mafia dan sejumlah nama politisi elit di negeri ini. Oleh sebab itu, Mathur mendesak agar pemerintah pro-aktif terutama pihak kepolisian untuk mengusut motif dan siapa yang bersembunyi di balik aksi penyerangan Novel.

“Entah dia (pelaku-red) punya masalah langsung atau hanya menerima orderan dari orang yang bermasalah dengan Aparat Penegak Hukum (APH), sekali lagi ini tanggungjawab bersama, terutama pihak kepolisian untuk secepatnya memburu pelaku dan mengusut siapa aktor di balik aksi teror itu,” tegasnya.

Tak hanya berbagai elemen masyarakat hingga aktivis anti-korupsi. Kecaman dan desakan kepada pemerintah yang langsung ditujukan pada Presiden Joko Widodo dan Kapolri Tito Karnivan juga dimunculkan dalam sebuah petisi online melalui Change.org. Petisi yang digagas oleh Amnesty International Indonesia itu berjudul: “Pak Jokowi, Pak Tito, Tegakkan Keadilan untuk Novel, Tangkap Pelaku dan Dalang Penyerangan!”.

Dalam petisinya, Amnesty meminta agar pelaku penyerangan Novel segera ditangkap dan diadili. Amnesty juga menyampaikan bahwa serangan ini adalah kelanjutan upaya menekan Novel agar menghentikan langkah-langkahnya dalam membongkar kasus-kasus korupsi besar. Amnesty menilai, respon negara dalam menyikapi kasus ini bisa menentukan masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia. Perlindungan terhadap orang-orang yang bertugas membongkar kasus-kasus korupsi sama pentingnya dengan upaya pemberantasan korupsi itu sendiri. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here