Teroris Ditembak Mati, Beda Gaya Dulu dan Sekarang

0
185
Petugas Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim mendorong kereta jenazah terduga teroris yang ditembak mati Tuban. Foto; Antara.

Nusantara.news, Jakarta – Polisi kembali menembak mati enam orang terduga teroris. Kali ini di Kawasan Hutan Jati Peteng, Kecamatan Jenu, Tuban, Sabtu (8/4). Petugas gabungan dari Polres Tuban, Brimob dan TNI menembak mati enam orang dan menangkap satu orang terduga teroris melalui kontak senjata sekitar pukul 17.00 WIB. Petugas mengejar ketujuh orang itu seusai menembak dua Polantas yang sedang berjaga di Pos Pantau Lalu Lintas di Hutan Jati Peteng.

Untungnya anggota Satlantas Polres Tuban tersebut, Aiptu Tatang dan Aiptu Yudi, luput dari tembakan karena sigap menghindar. Belakangan diketahui, penyerang adalah kelompok teroris yang berusaha membalas dendam atas rekannya yang sempat diamankan pada Kamis (6/4).

“Yang jelas ada kaitannya teroris kelompok JAD (Jamaah Ansarud Daulah) yang dua hari lalu ditangkap. Ada tiga orang yang ditangkap di Lamongan, sekarang masih dalam proses Densus 88. Kemudian teman-temannya melakukan amaliyah, balas dendam,” kata Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin, Sabtu (8/4) malam.

Selain menembak mati enam orang dan menangkap satu lainnya, petugas mengamankan satu unit mobil Daihatsu Terios warna putih nopol H 9037 BZ, beberapa HT, satu kotak peluru aktif dan beberapa buku.

Kepala BNPT Suhardi Alius menilai cara kerja kepolisian yang berakibat tewasnya enam orang sekaligus terduga teroris tersebut, sudah benar. Sebab mereka semua bersenjata. “Kalau mereka bersenjata, kan susah juga. Anggota Polri juga dalam posisi terancam jiwanya. Kalau enggak menembak, anggota kita yang mati,” ujar Suhardi di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Senin (10/4) pagi, seusai melapor kepada Presiden.

Kendati, secara operasional tindakan itu dapat dibenarkan mengingat nyawa petugas jadi taruhannya, namun penanganan terduga aksi terorisme oleh Polri belakangan ini berbeda jauh dengan penanganan pelaku teror pada Bom Bali I tahun 2012 silam. Waktu itu, seluruh pelaku ditangkap hidup-hidup, bahkan tidak ada yang terluka. “Tidak ada teroris yang ditembak. Kalaupun ada letusan senjata dari petugas, itu hanya tembakan peringatan, tidak ada yang diarahkan ke tubuh pelaku,” ujar Kombes Pol Rusbagio Ishak, salah satu perwira senior yang memimpin pengejaran terhadap pelaku Bom Bali I, waktu itu.

Seperti diketahui, Bom Bali I merupakan terjadi aksi teror di Paddy’s Cafe dan Sari Club, di Kuta, Denpasar, 12 Oktober 2012. Dua cafe itu jadi sasaran konon karena di situ banyak wisatawan Amerika dan Australia. Peristiwa yang terjadi tepat 1 tahun 1 bulan dan 1 hari setelah Bom WTC pada 11 September 2001 itu adalah peristiwa “pembuka” dalam perburuan besar-besaran teroris di Indonesia.

Sebelumnya memang beberapa kali terjadi aksi teror, tetapi polisi masih memahaminya sebagai kejahatan biasa, belum dipandang sebagai extra-ordinary crime seperti sekarang. Walaupun menjelang terjadinya Bom Bali I, sudah ada beberapa aksi pemanasan terorisme. Di tahun 2002 saja, sebelum Bom Bali I, ada granat meledak di Restoran Ayam Goreng Bulungan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 1 Januari 2002. Pelakunya seorang pemuda asal Aceh yang tewas di tempat. 9 Juni 2002, tempat parkir lagi-lagi jadi tempat peledakan bom. Kali ini terjadi di Hotel Jayakarta dan Diskotik Eksotis, Jakarta Barat. Lalu, 1 Juli 2002, terjadi lagi aksi bom. Bom kali ini mengagetkan, karena terjadi di Mal Graha Cijantung, Jakarta dekat Komplek Kopassus. Mal itu sendiri milik yayasan pasukan komando itu.

Penggolongan teror sebagai “kejahatan luar biasa” itu baru terjadi setelah teror dahsyat yang meruntuhkan gedung WTC New York dan juga menyasar Gedung Putih dan Pentagon, 9 September 2001, yang kemudian dikenal dengan istilah 911. Sejak itu, Amerika Serikat yang waktu itu dipimpin Presiden George Bush Jr., mencanangkan perang global melawan terorisme. Amerika Serikat patut marah. Bukan saja terhadap aksi teror itu semata, tapi juga karena yang diserang adalah lambang-lambang kedigjayaan Amerika. WTC, bisa disebut sebagai lambang supremasi ekonomi Paman Sam. Dua sasaran lagi, Gedung Putih dan Pentagon, adalah simbol kekuasaan politik dan militer yang dapat mendikte dunia.

Dalam sekejap, pemberantasan terorisme sudah menjadi gerak langkah dunia, termasuk Indonesia. Indonesia bergerak cepat. Seminggu setelah peristiwa teror itu, tepatnya pada pada 18 Oktober 2002, pemerintah mengeluarkan Perppu Nomor 1 Tahun /2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Mengapa perppu? Secara hukum, perppu itu memang memenuhi syarat, yakni adanya hal ihwal kegentingan yang memaksa, adanya kekosongan hukum dan sebagainya. Namun, yang mendasar adalah hal itu menunjukkan keinginan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan teror secara hukum. UU yang ada, KUHP, tidak bisa menjangkau tindak pidana ini. Karena KUHP hanya mengatur tentang kejahatan biasa, sementara terorisme terkategori kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime).

Keinginan  pemerintah untuk menyelesaikan persoalan teror secara hukum ini sejalan dengan praktek yang terjadi dalam perburuan teroris Bom Bali I. Sampai seluruh kasus ini diungkap, seperti dikatakan Kombes Pol Rusbagio Ishak tadi, tidak ada satu pun yang ditembak mati, atau bahkan terluka. Hal ini menyebabkan semua tersangka bisa diadili di meja hijau.

Beberapa penangkapan justru dilakukan melalui adu fisik. Ali Ghufron alias Mukhlas dilumpuhkan di Sukoharjo setelah bergulat dengan Aiptu Julianto dari Poltabes Denpasar. Sementara, Imam Samudera ditangkap tanpa perlawanan oleh dua reserse Polda Metro Jaya dan Polwil Banten di atas bus antarkota “Kurnia” tujuan Pekanbaru di Pelabuhan Merak, ketika sedang antri menaiki ferry.

Adanya tersangka yang ditangkap hidup-hidup ini memberi keuntungan lain bagi tim pemburu teroris yang kemudian dikukuhkan menjadi Detasemen Khusus Anti Teror/88 itu. Mereka mendapatkan kesempatan berharga menginterogasi para tersangka. Dari hasil interogasi itulah kemudian dikembangkan pola dan jaringan teroris yang waktu itu diduga berafiliasi ke Al Qaidah yang dipimpin Osama bin Laden.

Beberapa tersangka itu kemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati, seperti dua teroris bersaudara, Ali Ghufron dan Amrozi. Keduanya diesekusi di Nusa Kambangan, 8 November 2008. Sementara adik mereka, Ali Imron, dihukum penjara seumur hidup. Alik, demikian sapaannya, sampai sekarang masih sering diminta masukan tentang jaringan teror generasi baru.

Sayangnya, perburuan teroris pasca Bom Bali I, selalu berakhir dengan matinya tersangka. Kondisi di lapangan bisa jadi memaksa petugas untuk melepaskan peluru ke titik yang mematikan, tetapi akibatnya tidak ada keterangan yang bisa dikorek dari mulut tersangka.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here