Teroris Kian Kalap, Waspadai Target Umum dan Acak

0
114

Nusantara.news, Jakarta – Serangan aksi teror di Indonesia selalu berubah-ubah, baik target maupun pola serangannya. Serangan ke pos penjagaan di Markas Polda Sumatera Utara oleh dua orang yang diduga pelaku terorisme, Minggu (25/6/2017) sekitar pukul 03.00 WIB, kemarin menunjukkan hal itu.

Seperti diberitakan, Minggu pagi, dua orang melompat pagar Mapolda Sumut, lalu dengan bersenjatakan pisau mereka menyerang petugas jaga di salah satu dari tiga pos penjagaan. Akibatnya, Aiptu Martua Sigalingging, yang sedang beristirahat di pos tersebut, gugur. “Korban ditikam di leher, dada, dan tangan,” kata  Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto.

Anggota Brimob yang berjaga di pos terpisah berhasil melumpuhkan kedua pelaku. Satu di antaranya berinisial AR (30 tahun), warga Simpang Limun, Medan, yang sehari-hari berjualan minuman jus, mati tertembak. Rekannya, berinisial SP (47 tahun), dalam kondisi kritis di RS Bhayangkara Medan. Warga Jalan Pelajar Timur, Gang Kecil, Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, Medan ini sehari-hari berdagang rokok.

Kedua pelaku, menurut  Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Serangan ke pos penjagaan Polda Sumut ini menunjukkan target serangan tidak berubah, yakni masih menyasar kantor-kantor polisi. Aksi teror yang mengincar kantor polisi memang khas kelompok JAD yang dipimpin Aman Abdurrahman ini.  Kelompok ini sejak Aman Abdurrahman ditangkap dan kini ditahan di Nusa Kambangan, memang dekat dengan Muhammad Bahrun Naim alias Anggih Tamtomo. Anak muda kelahiran Pekalongan 1983 tahun ini adalah otak di balik serangkaian aksi teror di Indonesia sejak 2013. Kini ahli komputer yang dulu berkuliah di UNS Solo ini berada di Suriah.

Meski target belum berubah, namun pola serangan teroris kelompok ini agak berbeda. Sebelumnya kelompok ini menebar teror dengan menggunakan bahan peledak. Pola serangan bom ini dapat dibagi dalam dua kategori. Pertama serangan spekulasi dengan mengirim pelaku bom bunuh diri ke dalam kantor polisi, dan meledakkan bom yang dibawanya dalam rompi atau kemasan ringkas lainnya itu. Itulah yang terlihat dalam serangan di sejumlah kantor polisi di berbagai daerah, sampai pos Polantas di depan Sarinah Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari 2016.

Lalu ada serangan bom berantai seperti yang terjadi di Kampung Melayu pada 24 Mei lalu. Efek yang diharapkan dari ledakan berantai ini adalah reaksi polisi yang sedang berada di sekitar kejadian untuk segera mendekati sumber ledakan, baik untuk menolong korban maupun mengamankan TKP. Begitu polisi mendekat dan berada di radius sasaran, bom kedua diledakkan. Akibatnya, semua polisi muda yang berada di killing ground bom Kampung Melayu itu langsung diterkam ledakan.

Tapi, di Medan, karena tidak memiliki bahan peledak atau senjata api, mereka menyerang hanya dengan berbekal pisau. Dari segi sasaran, jelas tingkat target mereka rendah. Sebab dengan serangan dadakan oleh dua orang teroris,  peluang kegagalan sangat besar.

Ketiadaan bahan peledak, memaksa pelaku tidak mengincar korban dalam jumlah banyak. Namun, yang perlu dicermati di balik serangan bersenjata ke kantor polisi sebesar Polda itu adalah sisi kenekatan pelaku. Kenekatan itu jelas lahir dari motivasi yang sangat kuat.

Ini menunjukkan, Bahrun Naim berhasil mengindoktrinasi para pengikutnya dengan semangat berani. Dalam situsnya www.bahrunnaim.co yang sekarang  sudah diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika, Bahrun Naim pernah memotivasi anak buahnya, bahwa “hasil akhir dari seluruh amaliah kita adalah mendapatkan rizqi kesyahidan”.

“Kita harus memahami bahwasanya operasi tidak boleh berhenti. Harus terus melaksanakan segala operasi sesuai apa yang ada di sekitar kita,” kata Bahrun. “Jenis persenjataan ini sering menjadi alasan bagi seorang yang lemah imannya untuk beramal. Darimana kita dapatkan senjata api? bagaimana kita bisa mendapatkan granat?” katanya.

Perintah untuk “melaksanakan segala operasi sesuai apa yang ada di sekitar kita” itulah yang dilakukan pengikutnya ketika menyerang pos pengamanan Polda Sumut.

Melihat pola serangan yang berstandar minimal ini, perlu diwaspadai bahwa sasarannya tidak saja polisi di kantor atau di pos-pos polisi, tetapi juga yang berada di tempat umum seperti yang terjadi dalam kasus bom Kampung Melayu.

Kapolri Tito Karnavian sudah memerintahkan seluruh Kapolda meningkatkan kewaspadaan seusai serangan di Polda Sumut tersebut. Ketika kantor polisi atau polisi berseragam semakin sulit dijadikan sasaran, maka sangat besar kemungkinan target teror akan dialihkan ke pusat-pusat keramaian yang tidak ada polisinya.

Pola serangan acak ini bisa jadi terinspirasi oleh serangan teror di Eropa belakangan ini, di mana yang jadi target adalah stasiun kereta api, pertunjukan musik, rumah ibadah dan sebagainya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here