Terpilih Pimpin OJK, Wimboh Santoso Pikul Tujuh Beban

0
112
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terpilih 2017-2022 Wimboh Santoso

Nusantara.news, Jakarta – Komisaris Utama PT Bank Mandiri Tbk Wimboh Santoso resmi memenangkan pemungutan suara pemilihan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2017-2022.

Ini adalah awal dari dimulainya kepemimpinan Wimboh, di tengah rimba persoalan industri keuangan yang semakin berat baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.

Wimboh yang mendapat dukungan 50 dari 54 suara Komisi XI DPR RI, berhasil menyingkirkan pesaing tunggalnya, yakni Komisaris Independen PT Bank Central Asia Tbk Sigit Pramono yang hanya mendapat dukungan empat suara. Sedangkan satu suara menyatakan absen.

Yang akan ikut serta dalam kepemimpinan Wimboh di OJK adalah Nurhaida (Pengawas Pasar Modal), Tirta Segara (Edukasi dan Perlindungan Konsumen), Riswinandi (Komite Etik), Heru Kristiyana (Pengawas Perbankan), Hoesen (Lembaga Keuangan Bukan Bank) dan Ahmad Hidayat (Auditor).

“Jadi yang terpilih memimpin OJK adalah Pak Wimboh Santoso,” ungkap Ketua Komisi XI DPR RI Melchias Markus Mekeng Kamis (9/6/2017).

Wimboh yang juga mantan Direktur Direktorat Pengaturan Perbankan Bank Indonesia (BI) dianggap cukup mumpuni untuk berperan aktif memimpin OJK. Dia diharapkan dapat mengeluarkan kebijakan yang fokus untuk membangun ekonomi dari kawasan timur Indonesia.

Di samping itu, pengganti Muliaman D. Hadad ini diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang membuat investor nyaman untuk menempatkan dananya di Indonesia, khususnya di sektor keuangan.

Wimboh sendiri siap menjalankan amanah dengan memperkuat OJK dalam menciptakan industri keuangan nasional yang maju serta mampu mendorong peningkatan ekonomi nasional.

“Ke depan, saya tentu akan memperkuat sinergi dan kerjasama dengan pemerintah, Bank Indonesia, DPR, dan elemen lainnya,” tuturnya.

Mantan Executive Director Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund–IMF) ini dikenal aktif memberikan seminar, focus of discussion, bedah buku, kajian-kajian ekonomi, bahkan ikut serta dalam memberikan solusi atas persoalan-persoalan ekonomi nasional.

Tujuh tantangan

Kehadiran Wimboh di OJK bukan tanpa beban. Setidaknya ada tujuh tantangan menghadang di depan.

Pertama, ancaman kenaikan suku bunga Fed Fund Rate yang sempat tertunda beberapa bulan terakhir. Jika Federal Reserve merealisasi kenaikan bunga, maka ada sedikit ancaman pelarian modal (capital outflow).

Gubernur Federal Reserve Janet Yalen mengatakan bahwa Federal Reserve perlu menaikkan bunga guna merangsang perekonomian Amerika yang mulai menggeliat. Sifat kebijakan The Fed hanyalah sebuah rangsangan agar peningkatan ekonomi AS lebih bergairah.

Kedua, pesatnya inovasi produk keuangan yang semakin cepat dari regulasi industri keuangan yang ada, sehingga seringkali aplikasinya di lapangan sudah terjadi sementara regulasinya belum ada. Hal ini berpotensi menimbulkan kerancuan di masyarakat.

Ketiga, meningkatnya potensi kejahatan keuangan seperti maraknya investasi bodong di berbagai tempat yang mengatasnamakan koperasi atau perusahaan keuangan, tapi pada praktiknya menjalankan fungsi bank. Kejahatan ini seperti tak ada habis-habisnya, satu digulung, muncul yang baru, yang baru ditangkap, muncul lagi lainnya.

Keempat, ketidakpastian global, baik perlambatan ekonomi China dan Amerika, juga pemanasan politik Timur Tengah terkait pemutusan jalur diplomatik tujuh negara terhadap Qatar. Situasi ini tentu saja membuat ekonomi nasional selalu dibawa bayang-bayang ketidakpastian global.

Kelima, bagaimana OJK dapat menggiring suku bunga pinjaman bank lebih rendah menyusul rendahnya realisasi inflasi sepanjang tahun. Penurunan suku bunga ini akan menggairahkan perekonomian nasional yang selama bertahun-tahun disuguhi bunga tinggi.

Keenam, bagaimana OJK dapat mendorong industri keuangan agar dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Ketujuh, menyelesaikan masalah-masalah pending matters di industri keuangan, seperti antara lain menyelesaikan kasus Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912. Walaupun sudah mengalami masalah sejak 1998, dan diupayakan penyelesaiannya pada OJK jilid 1, namun masih belum tuntas restrukturisasinya.

Ketujuh masalah-masalah tersebut tentu saja membutuhkan tangan dingin Wimboh dkk. Tinggal seberapa kuat stamina Wimboh dkk mampu menghadapi tantangan tersebut. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here