Terus Membangkang, Mueller Ancam Somasi Trump

0
131
Donald J Trump Vs Robert Mueller

Nusantara.news, Washington – Di tengah semakin mengerecutnya penyelidikan tentang dugaan skandal keterlibatan Rusia dalam Pemilu Presiden Amerika Serikat (AS) 2016, Penyelidik Khusus Kejaksaan Agung AS Robert Muller mengancam Trump dengan asomasi apabila tidak segera memberikan keterangan di bawah sumpah dengan petugas penyidiknya.

Bahkan Mueller memperingatkan pihaknya bisa mengeluarkan perintah pengadilan agar Donald Trump bersedia memberikan keterangan di hadapan Grand Jury sebagai bagian dari penyelidikan dugaan keterlibatan Rusia yang memenangkannya, ungkap laporan sejumlah media di AS.

Mueller mengucapkan ancamannya itu selama pembicaraannya dengan penasehat hokum Presiden AS Donald J Trump pada bulan Maret lalu. Mantan Direktur FBI sebelum James Comey itu juga menandaskan surat panggilan dari pengadilan akan memaksa Trump  menghadapi para penyidik, lapor Washington Post.

Hal ini disebut-sebut sebagai hal, untuk pertama kalinya penyelidik khusus meningkatkan kemungkinan memaksa Trump memberikan kesaksian.

Selama pertemuan di bulan Maret itu, penasehat hokum Trump bersikeras presiden tidak berkewajiban menghadapi pertanyaan oleh penyidik federal terkait penyelidikaan mata-mata Rusia, tambah Washington Post  mengutip keterangan 4 sumber berita yang mengetahui pertemuan itu.

Namun Mueller segera menanggapi pernyataan penasehat hukum Trump dengan mengatakan pihaknya akan mengeluarkan surat panggilan dari pengadilan jika Trump menolak. Kedua belah pihak setuju penyelidik khusus memberikan informasi yang lebih spesifik tentang pertanyaan yang akan disampaikan oleh tim penyidik kepada Trump.

Pertanyaan Kunci

Mantan penasehat hukum presiden – John David – juga mengungkapkan kepada kantor berita Reuters hari Selasa (1/5) kemarin, pada pertemuan itu Mueller menyebutkan sejumlah pertanyaan kunci yang harus dijawab oleh Donald Trump.

Setelah satu setengah minggu dirinya bertemu Mueller, John Davis mengundurkan diri dari tim penasehat hukum presiden. Kala itu David mengingatkan Mueller bahwa penyelidikan itu bukan “permainan” sekaligus mengecam: “Anda bisa mengacaukan pekerjaan seorang presiden.”

Namun belakangan ini publik di AS oleh kritik Presiden AS Donald J Trump kepada New York Times yang membocorkan sekitar 40 pertanyaan dari penyelidik khusus Robert Mueller kepada dirinya.

Seperti biasanya, Trump segera tweet tentang bocornya pertanyaan penyelidikan kepada media adalah “memalukan” – sekaligus menambahkan: “Tampaknya sangat sulit untuk menghalangi keadilan atas kejahatan yang tidak pernah terjadi.”

Daftar pertanyaan Mueller yang bocor ke media – antara lain motivasi presiden saat memecat Direktur FBI James Comey, bulan Mei tahun lalu. Juga perlakuannya terhadap Jaksa Agung Jeff Sessions setelah dia mengingkari penyelidikan Rusia.

Satu lagi pertanyaan yang mengacu kepada keterlibatan bekas ketua tim suksesnya – Paul Manafort – tentang apa yang diketahui Trump tentang Manafort yang berdasarkan sejumlah bukti miliknya berhubungan dengar Rusia.

Daftar pertanyaan yang bocor ke New York Times itu juga menyebutkan adanya pertemuan antara tim kampanye utama dan seorang perempuan yang memiliki hubungan dengan pemerintah Rusia pada bulan Juni 2016.

Dan perubahan kebijakan terkait Rusia yang dimasukkan dalam platform Partai Republik serta pemecatan penasehat keamanan nasional Michael Flynn yang melakukan kontak dengan Dutra Besar Rusia Sergei Kislyak.

Lebih dari separuh daftar pertanyaan yang diperoleh New York Times terkait dengan kemungkinan  presiden melakukan obstruction of justice – atau penghalang-halangan terhadap keadilan – yang bisa berimplikasi kepada impeachment (pemakzulan).

Obstruction of justice yang dimaksud termasuk di dalamnya pengunduran diri Jaksa Agung Jeff Sessions dari penyelidikan dugaan keterlibatan Rusia, perseteruan presiden dengan mantan Direktur FBI James Comey, termasuk di dalamnya ancaman – dan setidaknya upaya-upaya melemahkan penyeldikan – terhadap Pnyelidik Khusus Robert Mueller.

Mengganggu Presiden

Mueller juga berencana meminta Trump memberikan keterangan tentang dugaan keterlibatan Rusia untuk memenangkan dirinya. Demikian ulas New York Times yang mengatakan wartawannya memperoleh daftar pertanyaan dari seseorang yang bukan berasal dari tim penasehat hukum Trump.

Juru Bicara Gedung Putih Raj Shah menyebutkan laporan New York Times “mengganggu”. “Seluruh premis dari penyelidikan ini adalah pada topic kolusi ini dan fokus yang luar biasa dari pertanyaan-pertanyaan itu bukan pada topik itu,” tudingnya.

Penyelidik Khusus Robert Mueller memang sedang mencari pembuktian tentang dugaan keterlibatan Rusia dalam pemilihan umum presiden AS 2016 – apakah ada kolusi antara Kremlin dan tim kampanye pemilihan Trump dan apakah Presiden AS Donald Trump secara tidak sah mencoba menghalangi penyelidikan.

Mueller ditunjuk sebagai Penyelidik Khusus oleh Wakil Jaksa Agung AS Rod Rosenstein tak lama setelah pemecatan Direktur FBI James Comey pada Mei 2017 lalu.

Namun sejak awal Presiden Trump bersikeras tidak ada kolusi antara Tim Kampanye Pemenangannya dan mata-mata Rusia. Toh demikian Mueller kepada tim penasehat hukum presiden pada bulan Maret lalu menyebutkan Trump adalah subyek dari penyelidikan, tetapi bukan target kriminal.

Namun hingga berita ditulis belum jelas kapan Trump diperiksa oleh penyelidik khsusus. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here