Testimoni Santri Kesayangan Gus Dur (2)

0
335
Rizal Ramli memberikan testimoni di acara haul sewindu KH Abdurrahmad Wahid atau Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (28/12/2017).

Nusantara.news, Jombang – Haul sewindu KH Abdurrahmad Wahid atau Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (28/12/2017), Dr Rizal Ramli memberi testimoni setelah Mahfud MD.

Rizal mengawali cerita menjelang Gus Dur wafat. Saat itu Gus Dur sedang sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit. “Sewaktu saya berkunjung, beliau sangat pede luar biasa. Gus Dur bilang ke saya, ‘Pak Rizal, saya sekarang lebih sehat dari Pak Rizal lho’. Saya menjawab, ‘bagaimana Gus Dur lebih sehat, saya sekarang yang bisa berjalan kemana-mana. Sedang Gus Dur tidak bisa’. Beliau kemudian membalas, ‘Saya tiap dua minggu cuci darah. Lha kamu darah kotor…” ucapan Rizal langsung mengundang gelak tawa ribuan pengunjung yang memadati area makam Gus Dur.

Rizal menambahkan, sosok Gus Dur adalah seorang wali yang sesungguhnya. Diceritakannya, Gus Dur pernah bilang akan segera ‘naik pangkat’. “Saya sebentar lagi ‘naik pangkat’. Saya dapat penugasan dari Allah,” begitu kata Gus Dur pada Rizal.

Namun Rizal mengaku belum paham dengan kata-kata Gus Dur dengan istilah ‘naik pangkat’ dan dapat tugas dari Allah. “Saya baru paham setelah beliau dipanggil Sang Ilahi. Gus Dur sepertinya sudah tahu kapan ajal menjemput. Karena itu saya berani bilang kalau beliau adalah wali di Indonesia ke sepuluh (setelah Walisongo),” tuturnya.

Menurut Rizal, Gus Dur merupakan tokoh demokrasi yang tidak diragukan lagi keberpihakannya terhadap rakyat kecil. Perhatiannya untuk memperjuangkan kebenaran, keberaniannya, memperjuangkan minoritas sungguh luar biasa.

Kisah lain diceritakan Rizal saat dirinya pertama kali menjadi Menko. Rizal mendadak dipanggil menghadap Gus Dur. Waktu itu Gus Dur sudah menjadi presiden. Rizal mau diangkat menjadi ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan).

“Saya bilang ke Gus Dur, apa nggak salah jadi ketua BPK. Bukannya ketua BPK biasanya berumur 60 tahun ke atas. Sebab integritas ketua BPK itu sangat diperhitungkan dengan usia tersebut. Saya pun menolak tawaran Gus Dur,” terang Rizal.

Gagal menjadi ketua BPK, Gus Dur tidak berhenti sampai di situ. Rizal kembali ditawari menjadi Dubes Amerika Serikat. Namun untuk kedua kalinya Rizal menolak. Menurutnya, dia tidak layak menjadi Dubes AS. Sebab selalu melontarkan kritik anti asing.

“Akhirnya Gus Dur pun gerah sama saya. Beliau bilang begini ‘ya sudah saya capek mikir kamu. Kalau begitu kamu jadi kepala Bulog (Badan Urusan Logistik) saja’. Saya sebenarnya mau menolak, tapi Gus Dur terus memaksa. Akhirnya saya sanggupi bersedia menjadi kepala Bulog tapi hanya setahun,” ungkap Rizal.

Selama menjadi kepala Bulog, Rizal mengaku susah payah menjaga harga-harga tetap stabil dan tidak berubah. Menurutnya, jabatan kepala Bulog adalah amanah.

“Saya musti menjaga harga-harga tetap stabil. Tanpa impor. Kami menciptakan komoditi beras seperti halnya valuta. Jika ada harga beras naik 100 perak saja, saya langsung kontak kepala Bulog di daerah. Saya minta pertanggungjawaban mereka. Dan alhamdulillah, selama 21 bulan pemerintahan Gus Dur, Indonesia tidak melakukan impor tetap pertumbuhan ekonomi merangkak naik dari minus 3 menjadi plus 4,5,” urainya.

Dikatakan Rizal, jika biasanya ekonomi negara naik disertai dengan hutang. Tapi pemerintahan Gus Dur satu-satunya yang bisa menaikkan ekonomi sekaligus hutang berkurang. “Saat itu beras dan pangan stabil. Daya beli masyarakat juga stabil. Padahal negara dalam kondisi krisis,” ucapnya.

Apa rahasianya? Rizal menerangkan bahwa dalam kurun waktu singkat itu itu, pemerintahan Gus Dur berani naikan gaji PNS dua kali selama 21 bulan.

“Seperti kita tahu, PNS merupakan golongan masyarakat dengan gaji standard. Namun memiliki daya beli tinggi. Di situ kita naikkan gaji mereka sehingga daya beli PNS ikut naik. Dengan begitu ekonomi pun tumbuh,” imbuhnya.

Kalau Presidennya Bukan Gus Dur, PLN Amblas

 Rizal Ramli saat itu memang merasa bertanggungjawab agar dapat mengatasi berbagai problem ekonomi yang sangat pelik, yang menuntut proses pengambilan keputusan yang cepat, tepat, dan efektif. Dan itulah yang dilakukan oleh Rizal Ramli, meski harus berhadapan dengan berbagai ancaman serta teror dari pihak-pihak (sebut saja para mafia) yang berlawanan dengannya.

Umumnya, problem ekonomi yang harus dibenahi oleh Rizal Ramli adalah merupakan warisan Orde Baru. Sehingga di saat itu, tak salah jika Rizal Ramli disebut sebagai “tukang cuci piring” dari “pesta” yang dilakukan oleh para pejabat dan kroni penguasa Orde Baru. Salah satu yang paling spektakuler dilakukan Rizal Ramli adalah memberesi masalah PLN.

Pada era pemerintahan Soeharto, untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan tenaga listrik, pemerintahan Soeharto mengundang sektor swasta masuk ke bisnis pembangkit listrik. Produksi listriknya kemudian dijual kepada PLN. Paling tidak, saat itu terdapat 27 proyek listrik swasta, yang didirikan oleh perusahaan listrik dari negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Jerman. Mereka menggandeng keluarga dan kroni Soeharto untuk mendirikan perusahaan listrik swasta itu.

Penelusuran Nusantara.News, Sengkang Power, yang beroperasi di Sulawesi Selatan, dimiliki oleh Energy Equity dengan saham 47,5%; Elpaso Energy International 47,5%; dan PT Triharsa Sarana Jaya 5% (milik putri Soeharto Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut). Sementara itu, Jawa Power sahamnya dimiliki Siemens Power 50%, PowerGen Plc 35%, dan PT Bumi Pertiwi Tatapradipta – yang terkait dengan putra Soeharto Bambang Trihatmojo sebesar 15%. Dan hal inilah didalami dan sangat dipahami Rizal Ramli ketika itu.

Perusahaan listrik swasta independen tersebut membangun proyek pembangkit listrik dengan pola BOT (Build, Operate, Transfer), di mana kemudian akan melego energi listriknya kepada PLN selama jangka waktu 30 tahun.

Dan setelah 30 tahun, pembangkit listrik tadi menjadi milik pemerintah. Ke-27 perusahaan listrik swasta tadi pada tahun 1996 meneken perjanjian jualbeli listrik dari pembangkit swasta ke PLN yang tertuang dalam PPA (Power Purchase Agreement)/ESC (Energy Sales Contract).

Kiai Qosim memimpin doa di acara haul sewindu Gus Dur.

Harga jual energi listrik yang dibebankan kepada PLN saat itu ternyata sangat gila-gilaan, berkisar antara US$ cents 7– 9 per kWh. Bandingkan dengan penjualan listrik swasta di negara-negara Asia lainnya ketika itu yang cuma sekitar US$ cents 3,5 per kWh.

Jika berpegang pada kontrak PPA itu, PLN mesti merogoh koceknya dalam-dalam. Padahal, kemampuan keuangan PLN pada masa krisis ekonomi justru sangat jeblok. Bayangkan, pada tahun 2000, selama semester pertama saja PLN didera kerugian Rp 11,58 Triliun. Tahun 2001, kerugian PLN diproyeksikan melambung hingga Rp 24 Triliun. PLN pun akhirnya “lempar handuk”  karena tak sanggup membayar ke perusahaan listrik swasta.

Kata Rizal, jika utang pemerintah ditambah kewajiban kepada perusahaan listrik swasta, secara teknis Indonesia sudah bangkrut. Situasi rakyat memang kelihatan tenang-tenang saja karena rakyat sama sekali tak tahu “isi terdalam” dari setiap problem yang dihadapi oleh negara. Dan problem PLN ketika itu adalah sungguh merupakan persoalan yang sangat gawat, dan itu harus dihadapi oleh Rizal Ramli.

“Asing memang brengsek. Mereka deal dengan keluarga Soeharto. Mereka patgulipat dengan diktator. Rakyat dicharge tinggi. Ya, ini belum pernah terjadi sebelumnya, pemerintahan Gus Dur menyelamatkan BUMN tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Saat itu saya meminta pendapat Gus Dur, beliau bilang ‘terserah kamu saja’. Itu kalau presidennya bukan Gus Dur pasti hasilnya lain. Kalau presiden lain pasti penuh pertimbangan. Minta pendapat sana sini. Tetapi Gus Dur langsung bertindak tegas,” kenang Rizal.

Jadi, kalau dilihat dari posisi keuangannya, secara teknis PLN sudah bangkrut. PLN tidak bisa meminjam uang ke bank untuk membiayai modal kerja. Juga tak mungkin menerbitkan obligasi karena posisi keuangannya berantakan.

Lalu, Rizal memberikan solusi berupa langkah terobosan, yaitu dengan meminta PLN melakukan revaluasi asetnya. Soalnya, banyak aset PLN berupa tanah dan bangunan yang belum dilakukan revaluasi selama belasan tahun. Selain itu, banyak generator dan jaringan distribusi PLN yang dibeli sebelum krisis dengan kurs di bawah Rp 2.500/US$.

Setelah dilakukan revaluasi aset oleh PT Sucofindo, aset PLN terbukti melambung dari Rp 52 triliun menjadi Rp 202 triliun. Sedangkan modalnya yang semula minus Rp 9,1 triliun, naik pesat menjadi Rp 119,4 Triliun. PLN pun akhirnya sudah bankable.

Kebetulan Rizal memiliki seorang teman di Wall Street Journal. Berbagai keanehan PPA itu kemudian dilaporkan ke Wall Street Journal. Lapornnya dimuat selama empat hari berturut-turut.

Menurut Rizal Ramli, perusahaan listrik multinasional yang memberikan saham kosong kepada keluarga dan kroni Cendana (Soeharto) tidak mau memberikan secara gratis begitu saja. Sebagai kompensasi atas pemberian saham kosong itu, mereka meminta harga jual listriknya menjadi jauh lebih tinggi dari standar internasional. Dan itu dipenuhi dalam PPA. Di sini Rizal membaca adanya anggaran yang diduga kuat hanya untuk membiayai KKN dan mark up-nya, sehingga pihaknya ngotot agar biaya KKN tersebut harus segera diamputasi.

“Saya membeberkan fakta-fakta praktik KKN itu. Saya berpandangan, jika sebuah kontrak sudah ditandatangani tapi mengandung unsur KKN, maka terbuka kemungkinan untuk direnegosiasi,” tegasnya.

Berita di Wall Street Journal membuat geger. Setelah itu Tim Keppres 133/2000 yang dipimpin Rizal Ramli menyelesaikan 16 dari 27 kontrak pembelian listrik swasta. Dengan renegosiasi yang dilakukan tim Rizal Ramli Ramli itu, harga listrik swasta bisa ditekan menjadi di bawah US$ cents 4 per kWh. “Total kewajiban pemerintah dan PLN turun drastis dari US$ 80 miliar menjadi US$ 35 miliar,” kata Rizal disampaikan di hadapan ribuan pengunjung di acara haul Gus Dur.

Rizal Ramli mengaku puas karena berhasil menyelamatkan PLN dari kebangkrutan. Yang lebih penting lagi, negara terbebas dari tambahan beban utang yang besar. “Masyarakat, terutama rakyat kecil, juga terhindar dari kemungkinan membayar tarif listrik yang jauh lebih mahal seandainya harga listrik swasta tidak bisa diturunkan,” ujarnya.

Cuma Dua Pemimpin Hebat

Setelah PLN beres. Gus Dur kembali menelepon Rizal Ramli. Katanya, proyek Habibie di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) mengalami kerugian alias diambang kebangkrutan. “Saya kembali diminta untuk memberesi masalah di IPTN. Saya bilang ke Gus Dur begini, ‘Gus, salah telepon Gus. Saya kepala Bulog. Urusan itu telepon saja Menteri BUMN, Menteri Perindustrian,” terang Rizal.

Namun Gus Dur keukeuh dan memintanya untuk mengatasi kerugian yang diderita IPTN. Mantan Menko bidang Perekonomian berkilah bahwa dirinya menjabat sebagai Kepala Bulog dan bukan kapasitasnya membenahi industri penerbangan. “Gus Dur bilang, gitu aja kok repot. Kalau ada yang nanya kasih nomor telepon saya,” imbuhnya.

Rizal mengaku masih sempat menolak lagi dengan mengatakan bahwa saat muda dulu dirinya suka mengkritik gaya Habibie memimpin industri penerbangan. Sebab, Rizal menilai gaya Habibie serba mahal dan terlalu boros.

“Saya memang suka Habibie dengan ide-idenya. Tapi saya tidak suka gaya Habibie yang serba mahal. Beliau tidak peduli ekonomi. Padahal ada contoh industri penerbangan di Brazil, lebih murah, lebih efisien. Gus Dur bilang, ‘kamu kena karma. Ngapain waktu muda kamu kritik dia. Sekarang kamu harus beresin’,” tuturnya.

Akhirnya, Rizal pun luluh dan memutuskan untuk menerima perintah Gus Dur membereskan proyek pesawat terbang tersebut. Dia membuat gugus tugas (task force) untuk mengubah kerugian yang diderita hingga ratusan miliar bisa disulap menjadi keuntungan, yang paling tidak bisa puluhan miliar.

“‎Caranya bisnisnya bukan hanya bikin pesawat sendiri, tapi menggarap outsource sama Boeing dan Airbus. Saya ganti namanya IPTN jadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI),” bebernya.

Rizal pun harus mengubah gaya bisnis PT DI dari hanya industri pesawat terbang (aircraft industry), menjadi industri yang kompetitif. Direksinya pun diganti dengan generasi muda. “‎Direksinya saya ganti dengan yang muda-muda, penerusnya Habibie. Saya bilang bagaimana juga PT DI harus untung. Ternyata hanya dalam waktu dua tahun tadinya rugi ratusan miliar menjadi untung Rp16 miliar‎,” tandasnya.

Dalam waktu singkat, Rizal pun mengundang banyak pemegang saham dari negara lain untuk ikut mengatur industri Airbus. “Saat itu juga Boeing kalah. Banyak negara membeli pesawat Airbus dari Dirgantara Indonesia. Karena mereka pemegang saham, maka mereka seperti membeli milik sendiri. Di sinilah kehebatan Gus Dur dalam memimpin negara. Orang Indonesia itu banyak yang mahir membikin segala sesuatu, tapi tidak mahir dalam menjual. Karena itu Gus Dur sangat jeli memilih orang terbaik. Dan saya yakin saat ini Jokowi sulit mencari pengganti Khofifah,” sebut Rizal di hadapan Khofifah.

Menurut Rizal, sosok Gus Dur mahir dalam menerapkan sistem meritokrasi. “Keberanian Gus Dur meng-create anak muda cukup hebat. Dia sangat percaya dengan anak muda, yang kalau di jaman sekarang disebut anak muda jaman now. Walau, ada juga yang mengkhianatinya,” sindir Rizal.

Menurut Rizal Ramli hanya ada dua pemimpin hebat di negeri ini, Bung Karno dan Gus Dur.

Di akhir testimoni, Rizal mengutip joke-joke para sesepuh. Dikisahkan, perwakilan negara-negara dunia menghadap Allah untuk protes.

“Swiss, Norwegia, dan Swedia saling protes. Sebut Allah tidak adil karena hanya dikasih matahari 3 bulan. Meski begitu negara ini bisa menyimpan pangan. Sementara Indonesia sebagai negara yang disukai Allah karena setiap tahun diberi matahari. Sayangnya tidak bisa menyimpan pangan,” seru Rizal.

Selain itu ada negara Australia yang ikutan protes. Katanya Australia penuh dengan gurun pasir. Allah tidak adil, katanya. Sementara Indonesia berlimpah air hujan bahkan sampai banjir. Begitu pula dengan negara Taiwan, Korea, dan Jepang, sama-sama protes. Kata mereka, di negaranya tidak tersedia sumber daya alam. Mengapa justru SDM paling banyak di Indonesia. Allah pun menjawab, Indonesia banyak SDM. Semua negara beli SDM dari Indonesia untuk dikelola, tapi kemudian dijual kembali ke Indonesia.

Apa inti dari cerita tersebut, kata Rizal, Allah memang memberi semua kepada Indonesia. Tapi mohon maaf, Allah belum memberi pemimpin hebat, kecuali Bung Karno dan Gus Dur. “Ya, pemimpin hebat Indonesia, Allah cuma kasih dua saja. Tapi mudah-mudahan Allah memberi kita pemimpin yang amanah, hebat, memakmurkan bangsa, dan kembali disegani dunia,” pungkasnya.bersambung

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here