Testimoni Santri Kesayangan Gus Dur (3)

2
217
Khofifah Indar Parawansa berdoa di makam KH Abdurrahmad Wahid atau Gus Dur dalam acara haul sewindu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (28/12/2017).

Nusantara.news, Jombang – Selain Mahfud MD dan Rizal Ramli, Khofifah Indar Parawansa juga memberi testimoni dalam acara haul sewindu KH Abdurrahmad Wahid atau Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (28/12/2017).

Di depan ribuan santri yang memadati area makam, Khofifah menceritakan wasiat Gus Dur yang disampaikan padanya sebelum wafat. Gus Dur saat itu meminta agar di batu nisannya ditulisi kalimat dalam bahasa Inggris: The Humanist Died Here. Bahkan pesan itu disampaikan Gus Dur ke Khofifah sampai tiga kali.

Lima tahun sebelumnya, tepatnya 31 Desember 2009, sebenarnya Khofifah sudah mengungkapkan wasiat tersebut ke wartawan usai pemakaman ‘bapak ideologinya’ di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Namun hal itu baru terlaksana pada haul ke-5.

“Ada wasiat Gus Dur. Tapi saya tidak berani matur (bilang). Sebelum wafat beliau minta di batu nisannya ditulisi tulisan The Humanist Died Here. Saya baru berani bilang setelah haul ke-5,” ungkap calon Gubernur Jawa Timur ini.

Meski dengan kalimat agak berbeda, keluarga Gus Dur memenuhi wasiat tersebut dengan menuliskan: Here Rest a Humanist. Selain ditulis dalam Bahasa Indonesia juga Bahasa Arab, Inggris serta huruf kanji.

Pemasangan batu nisan itu sebenarnya untuk memudahkan para peziarah mengetahui posisi makam Gus Dur. Selama ini masih banyak peziarah yang bertanya-tanya, sehingga dengan batu nisan itu peziarah juga langsung tahu makam Gus Dur. Batu nisan tersebut dibuat dengan ukuran lebih rendah dari batu nisan kakek Gus Dur, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

“Gus Dur dikenal sebagai Bapak Pluralisme, tetapi pluralisme itu dibangun atas nama humanisme. Atas nama kemanusiaan-lah Gus Dur menghargai keberagaman ini. Jadi humanisme itu di atasnya pluralisme,” terang Khofifah.

Gus Dur Melindungi Minoritas

Diceritakan Khofifah, Gus Dur selama ini sangat melindungi kaum minoritas. Pesan Gus Dur untuk melindungi minoritas sangat mendalam. Hal itu juga sesuai dengan yang dilakukan dan diajarkan Gus Dur selama ini, yaitu mencintai sesama.

“Pernah suatu ketika Gus Dur berbicara di Amerika. Beliau sudah menjadi presiden. Di negeri Paman Sam tersebut Gus Dur bilang, saya melindungi minoritas. Tolong di negeri Anda lindungi juga minoritas,” kenang Khofifah.

Lanjut Khofifah, selama ini memang hanya Gus Dur yang berani menyampaikan hal itu. Di Tanah Air, Gus Dur benar-benar membuktikan kata-katanya. Semua minoritas (Kristen, Hindu, Budha dan lain-lain) dilindungi. Tujuannya agar proses timbal balik. “Ada proses timbal balik yang dilakukan Gus Dur. Di sini dia melindungi minoritas, tapi di negeri lain Gus Dur berharap minoritas (Islam) juga dilindungi,” urainya.

Menurut Khofifah, cintanya Gus Dur ke sesama sangat luar biasa. Gus Dur selalu memberi perlindungan, memberi payung, jangan sampai di kemudian ada kerusakan terhadap kelompok dan golongan tertentu.

Gus Dur dalam menentukan jabatan strategis, kata Khofifah, sangat berhati-hati. Sebelum memilih orang, presiden ke-4 RI tersebut selalu mencari second opinion. Kalau selama ini menelusuri rekam jejak  seseorang kerap melibatkan lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan Badan Intelijen Negara (BIN), namun Gus Dur tidak cukup sampai di situ saja.

“Beliau pernah menyuruh saya untuk mengecek alamat orang, melihat rumahnya, dan berbicara dengan orangnya. Intinya, Gus Dur ingin tahu sosok orang tersebut. Beliau selalu menugaskan santri-santrinya. Bukan berarti Gus Dur tidak percaya BIN atau PPATK. Tapi beliau ingin menilai personality orang tersebut, apakah punya integritas moral atau tidak,” sebut Khofifah.

“Karena itu menjadi kelengkapan Gus Dur saat mengambil pertimbangan dan keputusan apakah orang ini memiliki integritas moral untuk menduduki pos-pos strategis tertentu,” tutur dia.

Khofifah menceritakan wasiat Gus Dur yang disampaikan padanya sebelum wafat. Gus Dur meminta agar di batu nisannya ditulisi kalimat dalam bahasa Inggris: The Humanist Died Here.

Karena sikap kehati-hatian itu, lanjut Khofifah, meski hanya menjabat sebagai Presiden RI selama kurang lebih 21 bulan, sudah ada banyak keberhasilan yang dirasakan oleh bangsa dan negara Indonesia ini.

Khofifah lantas mencontohkan saat Gus Dur merumuskan kabinet pemerintahan. Saat itu Khofifah membawa usulan dari 7 guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB). Diusulkanlah nama Mochtar Kusumaatmadja sebagai Menteri Kelautan. Yang mengejutkan, Gus Dur malah memilih Sarwono Kusumaatmadja. Khofifah pun kaget.

“Lho Gus, yang pakar kelautan kan kakaknya Sarwono (Mochtar). Kenapa malah pilih adiknya. Jawab Gus Dur ‘Nggak papa, nanti biar adiknya tanya ke kakaknya’. Saat itu Gus Dur memilih Sarwono karena memiliki integritas moral,” terang Khofifah yang mengundang gelak tawa.

Dalam kisah lain, Khofifah juga mendapat tugas dari Gus Dur menelepon beberapa orang untuk mengisi jabatan sebagai menteri. Sebenarnya bukan Khofifah yang diminta jadi menteri oleh Gus Dur. Dia hanya diutus saja. Salah satunya Khofifah menemui Saparinah Sadli untuk jadi menteri peranan wanita.

“Tapi Bu Saparinah Sadli secara halus menolak dengan alasan usia sudah lanjut. Bu Saparinah Sadli justru mengajukan saya untuk menjadi menteri peranan wanita,” katanya.

Pesan Saparinah Sadli kemudian disampaikan kepada Gus Dur. Uniknya, Gus Dur malah setuju. “Ya sudah, Mbak Khofifah saja jadi menteri,” kata Khofifah menirukan ucapan Gus Dur.

Kain Jarek dan Sedekah Jelang Gus Dur Lengser

Saat ditawari menjadi menteri, Khofifah sebenarnya mengaku keberatan. Pasalnya dia pernah mengusulkan kementerian peranan wanita dibubarkan saja. “Tapi Gus Dur malah santai saja menjawab, ‘ya ganti saja nama kementeriannya’. Beliau juga bilang saya percaya Bu Saparinah Sadli, karena itu saya juga percaya kepada orang yang ditunjuknya. Jadilah saya menteri, namun nama saya ganti jadi Pemberdayaan Perempuan,” imbuh Khofifah yang kini menjadi Menteri Sosial itu.

Khofifah masih teringat dengan pesan Bu Nyai Wahid Hasyim untuk membuatkan buku keluarga sejahtera. Namun setelah 12 hari wafat, janji itu belum terealisasi. Oleh Gus Dur, kemudian ide Khofifah diamini.

Selain menjabat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Khofifah juga menjabat Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Khofifah makin bingung. Dia kembali wadul Gus Dur.

“Gus, kok jadi Kepala BKKBN, anak saya kan sudah tiga, Masa cocok jadi Kepala BKKBN. Nanti bisa-bisa dipermasalahkan oleh banyak orang. Gus Dur menjawab dengan santai begini ‘ya sudah tagline nya diganti jadi keluarga berkualitas’,” tuturnya.

Belum lama menjabat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKBN, Khofifah hamil lagi. Dia semakin bingung dengan jabatannya yang dianggap tidak cocok. Nah, di sinilah sikap kesederhanaan Gus Dur ditunjukkan.

Gus Dur dinilai memiliki keilmuan yang dalam. Percaya atau tidak, Gus Dur juga mempercayai kekuatan mistis, kekuatan yang datangnya dari Allah melalui benda-benda mati. Cucu Khadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU ini meminta Khofifah kain jarek Bu Sinta untuk proses kelahiran.

“Mbak, nanti kalau dekat dekat melahirkan, kasih tahu ibunya anak-anak (istri Gus Dur), saya itu punya jarek yang kalau melahirkan kemudian pakai jarek itu, itu akan membantu memperlancar kelahiran,” kenang Khofifah  menirukan Gus Dur.

Saat sudah hamil tua, Ketua PP Muslimat NU ini kemudian pinjam jareknya Gus Dur. Benar saja apa yang pernah dikatakan Gus Dur sebelumnya, proses persalinan dirinya diberikan kemudahan saat memakai jarek tersebut. “Dan itu betul (mempermudah proses persalinan). Saya pada waktu itu pinjam ke Bu Sinta,” beber salah satu mantan kabinet kerja Gus Dur ini.

Gus Dur pun yang saat itu menjabat sebagai presiden lantas menceritakan perihal jimatnya itu pada Hari Keluarga Nasional. Termasuk pembuktian saat dipakai Khofifah waktu hendak melahirkan. “Karena ini yang menyampaikan presiden, yang namanya Kepala BKKBN saat itu, sehari itu saya bisa dapat 100 telpon atau SMS. Namun saya tidak tahu jarek itu sekarang ada dimana. Pokoknya saat itu kain jarek tersebut dipinjam secara bergilir, berputar dari sana ke sini. Mungkin orang-orang melihat kain jarek itu punya jiwa Gus Dur,” tandasnya.

Diakui Khofifah, memang tidak semua warga Nahdlatul Ulama (NU) paham dengan cara berpikir Gus Dur. Khofifah dengan mata berkaca-kaca sempat menukil sebuah ayat.

“Kenapa kita ber-NU. Kenapa kita bermuslimat, kenapa kita harus bereferensi. Kita tidak bisa berhenti mengikuti teladan Hasyim Asyari. Ha-hal penting ini kita bangun sebagai refrensi bersama. Mudah-mudahan semua yang hadir di sini mengikuti surganya beliau,” pesan Khofifah dengan nada serak hendak menangis.

Ada kisah menarik ketika gejolak perpolitikan di tanah air memanas untuk melengserkan Gus Dur dari kursi presiden. Salah seorang ‘nyletuk’ Gus Dur mungkin kurang sodaqoh karena tidak sempat dan jadwalnya padat.

Ya, sebelum Gus Dur lengser, Khofifah termasuk orang yang paling gelisah. Seperti dikatakan Mahfud MD, dia memang sempat mengumpulkan uang Rp 20 ribu untuk bersedekah kepada orang-orang tidak mampu selama kurun waktu 2 bulan.

“Apa yang dikatakan Pak Mahfud benar, tapi saat bukan zakat melainkan sodaqoh/sedekah. Saya melihat saat itu banyak orang tidak suka dengan Gus Dur. Padahal Gus Dur orangnya lurus. Banyak orang mau cari kesalahannya. Kenapa Gus Dur menerima banyak bala’. Saya berpikir mungkin sedekah itu lidaf’il bala’ (penangkal kesulitan). Saya pun berinisiatif untuk mengumpulkan uang dan membagikannya di traffic light, tempat pemukiman, dan kampung-kampung. Bahkan Pak Rizal juga kirim Rp 60 juta, saya masih ingat. Saat itu dalam pecahan Rp 20 ribuan. Saya bilang ke masyarakat, tolong doakan Gus Dur ya,” tambah Khofifah.

Meskipun sebetulnya, dalam persoalan itu, tidak sedikitpun Gus Dur merasa cemas bahwa akan diturunkan dari jabatannya, justru yang cemas dan khawatir adalah sahabat-sahabat Gus Dur. Menurutnya pembagian uang itu bukan untuk mendoakan Gus Dur tapi juga mendoakan seluruh bangsa dan rakyat agar terhindarkan dari sifat-sifat destruktif. “Ada banyak yang bisa kita pelajari dari seorang Gus Dur. Setelah 8 tahun beliau meninggalkan kita, tapi pemikiran-pemikirannya bisa kita jadikan proses pembelajaran bermakna. Jadi pengkayaan,” pungkasnya.[]

 

 

 

2 KOMENTAR

  1. […] kelompok penolak belum membaca draft RUU itu (2006) Sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan –mengubah nama jabatan Menteri Urusan Peranan Wanita menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan –mengecam Raperda antimaksiat Sumatra Barat yang melarang perempuan berada di luar rumah pada […]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here