Kapitalisme Global (1)

The Fed Pengatur Sistem Moneter Dunia

0
347
Ilustrasi: Seseorang berjalan melewati kantor The Fed di Washington. Foto: Reuters

Nusantara.news – Terasa aneh jika Bank Sentral suatu negara (The Fed) dimiliki oleh 12 pemegang saham non pemerintah, tidak saja menjadi acuan sistem moneter Amerika Serikat (AS) tapi juga moneter dunia. Saat The Fed menaikkan suku bunga maka akan berdampak pada suku bunga dan mata uang di dunia. Sebagian menyebutnya kartel perbankan atau lengkapnya The Federal Reserve.

The Fed dilahirkan di Jekyll Island, Amerika Serikat oleh 7 pengusaha yang kekayaannya merupakan 25% kekayaan dunia saat itu. Adapun 7 pendiri terdiri dari:

  1. Nelson Aldrich Rockefeller, Senator Partai Republik (1910), Ketua Komisi Moneter Nasional AS, sejawat bisnis JP Morgan dan ayah mertua dari John D. Rockefeller Jr
  2. Abram Piatt Andrew, asisten Menteri Keuangan AS
  3. Frank Arthur Vanderlip, Presiden The National City Bank of New York, bank paling kuat saat itu, mewakili William Rockefeller dan the International Investment Banking House of Kuhn, Loeb & Co.
  4. Henry P. Davidson, mitra senior JP Morgan Company
  5. Charles D. Norton, Presiden JP Morgan’s First National Bank of New York
  6. Benjamin Strong, Kepala JP Morgan Bankers Trust Company dan menjadi Kepala Federal Reserve System pertama (1910)
  7. Paul M. Warburg, partner Kuhn, Loeb & Company dan wakil dari Dinasti Rothschild Inggris, Perancis, dan Jerman.

Di AS dikuasai dua kelompok bisnis utama, yakni JP. Morgan dan Rockefeller sebagai jaringan dalam sistem keuangan AS. Di Eropa proses yang sama dikuasai oleh Keluarga Rothschild dan Warburg.

Mereka setelah mendirikan The Fed dikenal dengan kelompok Jekyll Island, sebagai persekutuan bisnis Yahudi yang menguasai sistem keuangan global. Pada tahun 1913 The Fed dikukuhkan dalam Undang-undang menjadi ‘The Federal Reserve Act’, undang-undang sub-komite dari the House Committee on Currency Banking di bawah pimpinan Arsene P. Pujo.

The Fed awalnya kartel murni

Pertemuan dari orang kaya dunia (AS dan Eropa) melakukan koordinasi dalam produksi, penentuan harga dan jaringan pemasaran. Jaringan JP. Morgan, Rockefeller, Rothschild, Warburg, Kuhn Loeb, sebelumnya sangat bersaing, namun setelah terbentuknya The Fed, mereka bersatu menjadi kartel perbankan dunia. Tapi dalam pendiriannya, Paul M. Warburg dominan, karena terlibat pendirian beberapa Bank Sentral di Eropa. Berasal dari Jerman, bersama Rothschild yang juga asal Jerman bermukim di Inggris, membeli mayoritas saham Kuhn Loeb company dalam 20 tahun kemudian Warburg sudah menjadi salah satu orang terkaya di AS. Saudaranya yang ketiga, Max Warburg juga arsitek Bank Sentral Jerman Reichsbank.

The Fed bagi pengamat kala itu adalah kartel bank yang dilegalisir, namun begitulah kehebatan dari para maestro keuangan global ini, sebagian menyebutnya Emporium Jewish Conspiracy (Konspirasi Yahudi Emporium).

Kenapa disebut konspirasi? Karena pertemuan di Jekyll Island merumuskan 5 kesepakatan rahasia: (1) Monopoli perbankan; (2) Monopoli penciptaan uang untuk dipinjamkan; (3) Menguasai cadangan seluruh bank; (4) Memindahkan kerugian pada pembayaran pajak/nasabah sebagai bail-out; (5) Meyakinkan kongres bahwa skema itu melindungi publik karena The Fed sebagai soko guru stabilitas moneter AS.

The Fed yang super power lahir karena resesi di AS tahun 1907, tapi juga sebagai saksi keruntuhan ekonomi AS, 1921, 1929, 1953, 1969, 1975, 1981, 1987, dan 2008, yang terakhir hancurnya salah satu soko guru keuangan global Lehman Brothers.

Dari 7 nama besar tersebut, JP Morgan terkait dengan Indonesia, tercatat mantan Presiden JP Morgan Indonesia, Gita Wirjawan, pernah menjadi Menteri Perdagangan Republik Indonesia pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2004–2009. Sri Mulyani Indrawati terkait dengan keberaniannya memutuskan kontrak kerja sama dengan JP Morgan sebagai konsultan, karena menurunkan ranking Indonesia 2 peringkat dalam hal investasi, menjadi tidak layak, dan sekaligus memutus sebagai dealer utama surat-surat berharga Indonesia, seperti: SUN (Surat Utang Negara).

Di Indonesia, Rothschild terkait dengan partner bisnis Bumi Resources (Holding batubara & pertambangan Bakrie) yang sebagian sahamnya dibeli oleh Rothschild. Dalam perjalanan, terjadi sengketa bisnis yang berujung peradilan bisnis di Singapura.

Banyak pengamat moneter dunia menganggap bahwa setelah 2008 The Fed telah gagal akan menjalankan misinya, kecuali mampu mengubah kapabilitasnya. Resesi 2008 telah melemahkan kapitalisme Yahudi dan menjadi momentum kebangkitan Cina sebagai State Capitalism. Keberhasilan Cina mengadaptasi kapitalisme dengan One State Two Systems membuat amarah Trump dan sangat ingin memenangkan perang dingin dengan Cina.

Dalam konteks proxy war bertemu Cina dengan AS dalam hal kasus nuklir Semenanjung Korea (Utara). Selain soal nuklir, ada faktor Energy Security (ketahanan energi) di Pulau Spratly yang dikuasai Cina, padahal masih bersengketa dengan Jepang, Korea, Taiwan, dan beberapa negara ASEAN, karena cadangan minyak di Kepulauan tersebut mencapai 17,7 miliar barel (No. 4 terbesar di dunia).

AS akan memainkan peran dalam konteks geostrategi, karena sistem pertahanannya yang canggih dalam militer sulit untuk ditandingi Cina. Dalam perdagangan Cina sudah unggul, dan AS unggul dalam militer. Untuk kasus Korea Utara, Cina akan ditekan secara psikologis dan ujungnya bargaining tentang cadangan dan pengelolaan migas pulau Spratly.

Jerman sebagai penguasa Eropa saat ini yang dikenal anti Yahudi, dan sengketa AS dengan Rusia, sehingga jika bergabung (Cina, Jerman, dan Rusia) secara umum kekuatan baru akan berimbang.

Power 13 dan One Global Government

Dalam konteks penguasaan, Yahudi menyebut ada 13 kekuatan yang mendominasi dunia. Pertama, sebut saja Illuminasi berdiri tahun 1776 oleh Yahudi Adam Weishaupt, mengontrol Freemason yang lebih dulu lahir bertujuan menguasai dunia dengan menghapuskan kerajaan, warisan, dan lahirnya rasionalitas. Illuminasi tahun 1859 membentuk International Communism. Engels pengusaha Yahudi membantu sahabatnya Karl Marx menulis “The Communist Manifesto”, sebagai keseimbangan untuk kapitalisme, namun suatu saat Komunis harus dikalahkan.

Kedua, Protocol Zion sebagai kekuatan berikutnya, didirikan tahun 1842, dan dipublikasikan tahun 1897 oleh Phillip Stepanov, dicetak ulang tahun 1905, dikenal dengan Zionist Congress, melahirkan 24 protokol yang intinya kedaulatan dunia di tangan zionis.

Pada 24 Protocol Zion ditetapkan sebagai strategi kekacauan dunia, seperti Balkan, Arab Springs, keseimbangan kekuasaan, komunisme, kapitalisme, HAM (Hak Azasi Manusia), Interpol, bunga atas pinjaman, obligasi agar menguasai dunia melalui ekonomi lewat rezim portfolio.

Ketiga, Round Table Groups, didirikan tahun 1870 oleh John Ruskin. Dengan asumsi orang yang lebih baik akan memperoleh hidup yang lebih baik dengan New World Order (NWO)/Tata Dunia Baru dan One World Government (satu pemerintah dunia). Tokoh sentralnya adalah, Cecil Rhodes dan Lord Rothschild, dengan beranggotakan politisi, ekonom, dan bankir internasional. Di Inggris bernama Royal Institute of International Affairs; di AS disebut Council of Foreign Relations, dan di level internasional adalah Bilderberg Conference.

Jasa Round Table Group memaksa delegasi Indonesia yang dipimpin Bung Hatta menanggung utang Hindia Belanda sebesar USD 3,8 miliar kepada IMF (International Monetary Fund/Dana Moneter Internasional). Tahun 1957 Bung Karno membalas dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia dan membuat negara-negara kapitalis marah.

Keempat, Federal Reserve, yang berfungsi sebagai Bank Sentral AS, mencetak uang melalui Badan Swasta IRS (Internal Revenue Service), berfungsi mengontrol keuangan dunia.

Kelima, CFR (Council on Foreign Relations/Dewan Hubungan Internasional), berfungsi untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri AS, berdiri pada tahun 1921. Tujuannya membentuk sebuah sistem yang mendorong monopoli kapitalisme yang dapat membawa perbedaan mata uang, sistem perbankan, kredit, manufaktur, dan bahan baku dalam pengendalian korporasi besar (multi-national corporations), di negara-negara yang potensial secara ekonomi dan geostrategis.

Presiden AS, Richard Nixon menunjuk 115 anggota CFR, termasuk Henry Kissinger (Menteri Luar Negeri AS) yang legendaris dengan slogan “The New World Order”. Interdependensi kata kunci agar dunia menyerahkan kedaulatannya dengan supra-pemerintahan dunia dalam kendali zionis. Bung Karno mengeluarkan Trisakti untuk kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Keenam, Operator Keuangan Global (bank, bursa saham, bursa uang, Obligasi/Surat Utang) sebagai jaringan keuangan Yahudi global seperti: City Bank, JP Morgan Chase, Goldman–Sachs, Bank of England, Swiss Banks,  Bank of Austria, Bank of France, Lazard Freres, Warburgs, Schroeder, Grindlays, Deutsche Bank. Bank-bank ini membuka cabang di seluruh negara yang menjadi target untuk pengendalian ekonomi.

Ketujuh, Club of Rome, didirikan tahun 1968 oleh Morgenthau Group yang terdiri dari bankir, industrialis, ilmuwan, ekolog, ekonom, dan tokoh-tokoh HAM, memprediksi akan terjadi kelaparan di tahun 1970-an karena limitnya pertumbuhan. Secara faktual terjadi kelaparan di negara miskin, khususnya di Afrika, dan beberapa negara miskin Asia. Dengan konsep economic depression, maka timbul ketergantungan pada negara kuat yang dikendalikan Yahudi (AS dan Inggris). Diprakarsai oleh Aurelio Peccei dengan beranggotakan 100 orang dari 25 negara. Prinsip utama Club of Rome adalah konsep globalisasi dimana dunia dibagi dalam 10 klasifikasi penguasanya Yahudi atau binaannya di setiap negara.

Kedelapan, Bilderberg Group, didirikan pada tahun 1954 dengan anggota Eropa, Kanada, AS. Dipimpin oleh Pangeran Bernhard. Tujuan utamanya, mengontrol ekonomi dunia untuk menciptakan One World Government. Anggotanya, Baron de Rothschild, Helmut Schmidt (Kanselir Jerman), Agnelli (bos Fiat/Ferrari), Presiden Bank Dunia (ex-officio) David Rockefeller, Lehman Brothers (raksasa keuangan AS yang bangkrut pada tahun 2008), dan Henry Kissinger (Menteri Luar Negeri AS). Enam Presiden AS sejak tahun 1976 adalah anggota Bilderberg Group.

Kesembilan, Trilteral, berdiri pada tahun 1973. Didirikan oleh keluarga Rockefeller, Ford, dan Rothschild. Direkturnya Zbigniew Brzenski dan merupakan kelanjutan dari Bilderberg. International upper class (kelas atas internasional) bersatu untuk melindungi negara maju. Setiap penguasa di negara masing-masing harus mampu menjamin aset dari penggagas di belahan dunia. Diinisiasi oleh Rockefeller, dan 200 anggota, diantaranya Jimmy Carter yang dibina Trilateralism selama 3 tahun. Tahun 1976 terpilih menjadi Presiden AS.

Kesepuluh, pembentukan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang difungsikan sebagai badan pengatur dunia, sehingga seluruh kebijakan zionis memperoleh justifikasi secara legal formal. Dengan pengendalian beberapa negara besar memiliki hak veto yang akan digunakan jika kesepakatan tidak sesuai. Maka itu, seluruh pelanggaran yang dilakukan Israel terhadap Palestina tidak pernah dilakukan tindakan serius. Sebaliknya jika Israel mempunyai keinginan sanksi untuk negara-negara Arab seterunya akan ditindak secara cepat. Saat ini misalnya, nuklir Iran yang sudah disepakati, kemudian “dimentahkan” kembali.

Kesebelas, Komunisme, dilahirkan untuk demokrasi dan kapitalisme agar ada keseimbangan dan kontrol secara alami dan menjadi “sparring partner”. Dengan catatan, jika sudah besar komunisme harus dihancurkan, seperti yang terjadi dengan Uni Soviet (1991).

Keduabelas dan ketigabelas, saudara kembar IMF dan Bank Dunia, sebagai operator resmi dari PBB yang mengatur negara berkembang yang kaya sumber daya alamnya, di antaranya Indonesia, dengan dibuat jebakan utang di era Orde Baru.

Penyebab utama Soeharto “jatuh” adalah IMF dan Bank Dunia, karena sebagai “macan Asia” kala itu, Indonesia ingin lepas landas dan melunasi utangnya. Artinya, Soeharto dianggap mulai mandiri dan ingin lepas dari jerat utang IMF dan Bank Dunia. Dengan currency war (perang mata uang) operasi dari Soros generasi termuda Yahudi, mata uang Rupiah anjlok dari Rp 2.500 per USD menjadi Rp 13.000 – Rp 15.000 per USD kala itu, sehingga terjadi rush (serbuan) perbankan dan ekonomi Indonesia runtuh. Akibatnya, rakyat tergerak menuntut reformasi kepada pemerintahan Soeharto. Akhirnya pada tahun 1998 Soeharto lengser. Saat itulah kapitalisme global menguasai demokrasi dan ekonomi Indonesia dengan meregulasi UUD 1945 dan undang-undang lainnya, serta turunannya, agar multi-national corporations menguasai industri dan sektor-sektor strategis, khususnya energi dan pangan.

Untuk sistem keuangan global diatur oleh The Fed, IMF, dan Bank Dunia. Untuk energi dalam rangka Energy Security dipegang oleh Seven Sisters, dan untuk pangan, teknologi pangan oleh Israel, dan Operator Cargill International (Food Security), ini terjadi khususnya di dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004 – 2014). Di era pemerintahan Joko Widodo, bandulan ekonomi lebih condong ke Cina, walau saat ini realisasi pembangunan infrastruktur yang didanai Cina belum optimal berjalan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here