Heboh Permen Dot Impor

Tidak Mengandung Narkoba, Distributor Minta Dipulihkan Nama Baiknya

0
116

Nusantara.news, Surabaya – Setelah sebelumnya diberitakan permen dot mengadung narkoba,  dan  Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menyita permen tersebut di sejumlah lokasi di Kota Surabaya, pemilik PT Petrona Inti Chemindo, importir yang juga distributor permen tersebut, melalui kuasa hukumnya Prihadi Saputro memberikan klarifikasi dan meminta Pemerintah Kota Surabaya memulihkan nama baik perusahaan. Prihadi mengatakan, kliennya dirugikan ratusan juta rupiah akibat tindakan Satpol PP Kota Surabaya, yang telah melakukan razia dan menyita permen dot dari para pedagang.

“Manajemen PT Petrona Inti Chemindo, sebagai importir dan distributor permen dot merek Penguin Brand telah dirugikan ratusan juta rupiah. Untuk itu, sebagai kuasa hukum kami meminta Pemerintah Kota Surabaya memulihkan nama baik perusahaan, dan Pemerintah Kota Surabaya juga melakukan sosialisasi ke masyarakat, 14 hari terhitung mulai hari ini,” kata Prihadi Saputro mendampingi kliennya, Johanes Direktur PT Petrona Inti Chemindo, di depan puluhan wartawan saat menggelar konferensi pers di Hotel JW Marriott, Surabaya, Senin (13/3/2017).

Prihadi menambahkan, Pemerintah Kota Surabaya harus melakukan sosialisasi ke masyarakat atas kekeliruan atas tindakan yang dilakukan oleh perangkat keamanannya, Sat Pol PP. Selain sosialisasi, Pemkot juga  diminta  merehabilitasi  nama baik perusahaan di media massa.

“Waktu 14 hari tersebut terhitung sejak dibacakan tuntutan ini Senin 13/3/2017,   Klien kami meminta Pemkot Surabaya untuk merehabilitasi nama baik perusahaan sekaligus juga mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa permen dot yang setelah dilakukan razia oleh petugas Pol PP dan disebutkan terindikasi mengandung narkoba ternyata tidak terbukti dan aman dikonsumsi,” urai kuasa hokum tersebut.

Meski tidak menyebut jumlah persisnya, Prihadi menambahkan perusahaan kliennya yang telah dirintis 10 tahun lalu itu harus menanggung kerugian yang besar. “Klien kami  beriktikad baik, tidak menyebut jumlah nominal kerugian, yang pasti kerugian itu sangat dirasakan dan mengganggu keberadaan bisnisnya,” tambahnya.

Melalui kuasa hukumnya, pemilik perusahaan berharap Pemerintah Kota Surabaya juga punya itikad baik untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan cara memenuhi permintaan kliennya.

“Jadi Pemkot Surabaya harus  mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa permen dot tidak mengandung zat adiktif yang sebelumnya disebutkan berbahaya,” tambahnya.

Kuasa hukum tersebut juga menyuarakan kekecewaan kliennya atas tindakan penyitaan yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya. Padahal, produk permen tersebut telah mengantongi izin legal dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Timur dari tahun 2008-2013 dan diperpanjang hingga tahun 2018.

Kasus permen dot tersebut mencuat setelah Pemerintah Kota Surabaya melalui Sat Pol PP melakukan razia dan melakukan penyitaan dari para pedagang. Salah satunya di warung internet yang biasa dijadikan tempat nongkrong siswa ketika membolos.

Dalam operasi itu tim menemukan seorang siswa sekolah dasar kedapatan pusing kepala, dan mengaku setelah mengkonsumsi permen dot. Setelah itu pemberitaan media massa tentang permen dot menjadi viral, ramai diperbincangkan di media sosial.

Namun kemudian, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya permen tersebut negatif alias tidak ada kandungan adiktif atau kandungan narkotika. “Mana mungkin harga permen yang seribu rupiah mengandung narkoba,” kata Johanes.

Ini menarik untuk menjadi perhatian semua pihak. Selain para orang tua yang sangat beralasan melarang anaknya mengkonsumsi permen dot karena tersebar berita mengandung narkoba. Pemerintah dan pihak terkait juga harus jeli dalam melakukan aksi razia. Tindakan cermat harus diperhitungkan, agar tidak merugikan produsen atau perusahaan yang mengedarkannya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here