Tidak Penting Puti Trah Soekarno

0
339
Risma mengenalkan Puti Soekarno ke warga Surabaya saat acara car free day di Taman Bungkul.

Nusantara.news, Surabaya – Gelaran Pilkada ini menarik untuk dibicarakan. Karena memang menyangkut daya rangsang khalayak. Di sini betapa hasrat untuk berkuasa sedang dipanggungkan.

Banyak gambar di jalan-jalan yang dipajang dengan penuh aroma yang terkadang mengharumkan jalanan, meski tidak jarang membuat mual perut para “pengendara” yang semliwer untuk urusan hidupnya sendiri. Ada pula gambar dipajang dengan membawa-bawa leluhurnya agar orang tahu siapa dia sejatinya.

Gairah semakin kentara yang dilakukan partai pengusung yang sedang merangkak memberikan sanjungan calon yang digadang-gadang untuk menang. Partai pengusung memberikan energinya sambil membawa-bawa poster yang memuat tanda gambar sekaligus petinggi idamannya.

Sementara itu partai pendukung masih canggung karena dianggap pelengkap penderita yang “nunut” memeriahkan “akad nikah politik” Paslon semata.

Istilah Suparto Wijoyo, Akademisi Fakultas Hukum, dan koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, ini namanya Pilkada keturunan.

Mengapa demikian, karena untuk meraih suara dan menolehkan lirikan mata warga negara, para kandidat harus membopong trah keluarganya? Ada yang membusungkan diri dengan memberikan informasi bahwa dirinya adalah keturunan “ningrat negeri”. Bahkan dianggap pendiri sejati Republik ini.

Puti Guntur Soekarno boleh dibilang sebagai calon yang siap dengan membawa nama leluhurnya. Dia adalah keturunan Soekarno. Setelah dipilih sebagai Cawagub Jatim 2018, Puti langsung merangsek masuk ke Kota Pahlawan. Dia boyongan.

Tiba dari Jakarta ke Surabaya pada Sabtu 20 Januari 2018. Ibu dari dua anak ini langsung menyewa sebuah rumah di Surabaya sebagai tempat tinggal selama masa persiapan Pilkada Jawa Timur 2018. Puti datang tanpa membawa keluarga. Tujuannya memang untuk kerja menjadi pemenang. Yang dia bawa hanya koper besar berisi buku dan baju.

Kabar mulainya Puti menjadi warga Ibukota Jawa Timur itu disampaikan saat bersilaturahmi dengan sejumlah jurnalis di cafe alas daun, Rungkut Surabaya, Sabtu (20/1/2018) malam.

Dalam silaturahmi itu, Puti menghibur puluhan jurnalis dengan menyanyikan beberapa lagu. Mereka juga diajak menikmati kuliner “bebek hitam” khas Surabaya.

Di hari pertamanya, Puti tidak memilih istirahat. Dia langsung bergerak menuju Bangkalan. Kunjungannya dimulai ke Pondok Pesantren (Ponpes) Syaichona Cholil. Perempuan yang dua periode menjadi anggota DPR RI ini juga menyempatkan diri mendatangi  Pasar Baru Ki Lemah Duwur di Jalan Halim Perdana Kusuma Bangkalan.

Minggunya,  dia ditemani Wali Kota Tri Rismaharini mengenalkan sosok Puti Guntur Soekarno kepada warga Surabaya di sela senam pagi bersama warga di Car Free Day di Taman Bungkul.

Ditanya apa yang paling disukai di Jatim? Puti langsung menjawab, “Budaya dan kulinernya sungguh sangat saya kagumi. Sejak kecil saya sudah dikenalkan kuliner dan budaya Jatim dari kakek saya (Soekarno).”

Ya, Puti memang tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang Soekarno. Dari sekian banyak keturunan Sukarno, anak dan cucu dari hasil perkawinan dengan Fatmawati yang paling banyak mewarisi darah politik proklamator itu. Megawati, Rachmawati, Sukmawati, Guruh semua terlibat dalam politik. Guntur, anak tertua Fatmawati juga pernah terjun ke dunia politik. Kini, warisan darah politik itu mengalir kepada putrinya yang maju ke Pilkada Jatim.

Nama besar Soekarno itulah yang selama ini mengkatrol suara dukungan. Karena itulah Puti Guntur Soekarno dijagokan untuk maju mendampingi Gus Ipul di Jawa Timur.

Apa yang dilakukan Puti sama dengan yang dilakukan Guruh Soekarnoputra saat mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI di Dapil Jatim 1. Dengan membawa nama besar Soekarno, dukungan langsung membanjiri.

Karena alasan sama, PDIP memutuskan mengusung Puti Guntur sebagai pengganti Abdullah Azwar Anas di Pilgub Jatim. Partai banteng moncong putih itu percaya nama Soekarno masih memiliki taji untuk mendongkrak suara. Bagi partai, siapapun mereka, asal punya latar belakang, punya potensi vote getter, dan jika diramu dengan baik pasti akan menang.

Di saat semua Parpol dan politisi memetakan Jawa Timur untuk mencari pengganti Anas, tiba-tiba nama Puti muncul. Maka, hal itu membuat lawan-lawan politiknya ‘lemas’. Lagi-lagi PDIP, hanya untuk menang, menggunakan senjata “Soekarno” untuk mengimbangi kekuatan lawan.

Ya, meski sejarah tidak selalu menorehkan lakon yang seperhaluan, tetapi kisah historia yang dimiliki tokoh sekelas Soekarno masih banyak yang tersembunyi dengan cara membacanya kadang penuh elegi. Inilah yang menjadi banyak orang penasaran dengan sosok mereka hingga trahnya pun ikut membuat penasaran.

Lalu pentingkah keturunan itu? “Tentu penting, walau sama sekali tidak menentukan kualitas. Sebab lewat kaca mata awam pun orang bisa maklum betapa keturunan itu bukanlah apa-apa dan tidak seratus persen dominan. Taruhlah Anda itu memang keturunan Gajah Mada yang hebat, tapi yang penting siapakah Anda sekarang ini? Antara kehebatan Gajah Mada dan Anda tidak ada hubungannya sama sekali. Anda tak lebih sekadar pendompleng kebesarannya, tak lebih, sementara Anda tetap bukan siapa-siapa. Anda adalah Anda, habis perkara. Anda tidak perlu macam-macam dengan dongeng keturunan itu. Anda musti bekerja keras untuk jadi semacam Gajah Mada. Kualitas tidak jatuh dari keturunan, dan tidak juga dari langit,” Demikian Suparto.

Dalam sistem demokrasi, memang tidak ada yang salah seorang anak atau cucu dari tokoh maju dalam politik. Yang salah justru kalau ada pikiran yang kemudian direalisasikan melalui rekayasa yang tidak benar untuk terpilihnya seseorang karena dia termasuk trah dari seorang tokoh.

Menurut Said Zainal Abidin, Guru Besar STIA LAN, ada dua kesalahan dari politik dinasti ini. Pertama, kesalahan adanya pikiran tentang keharusan dipilihnya seorang pejabat karena trah atau hubungan kekeluargaan dengan pejabat sebelumnya yang dikagumi. Kedua, kesalahan kalau adanya upaya atau rekayasa yang tidak benar termasuk sebuah pelanggaran. Baik secara hukum maupun etika bernegara.

Said menyebut, kekaguman pada seorang tokoh atau pejabat tidak boleh sampai menutup atau mempersempit kesempatan bagi orang lain untuk maju. Ini adalah sebuah aksioma dalam sistem demokrasi terbuka. Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama di depan hukum dan untuk menduduki suatu jabatan.

Indonesia mempunyai banyak tokoh nasional mengagumkan. Menariknya, dari mereka kebanyakan bukan turunan dari seseorang yang sebelumnya berkedudukan tinggi. Mereka menjadi unggul semata-mata karena prestasi agung yang disumbangkan kepada bangsa dan negara. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir dan Pak Natsir, mereka menjadi pemimpin nasional bukan karena bapak atau kakeknya pernah menjadi pemimpin nasional.

Pada era perjuangan kemerdekaan, pikiran tentang dinasti atau trah itu sama sekali tidak ada. Kalau ada pikiran itu, tentu yang menjadi Presiden Pertama bukanlah Sukarno atau Hatta. Melainkan Sultan Hamengkubuwono IX atau Sultan Hamid II atau anak Sultan-Sultan lain.

Istilah trah atau politik dinasti ini sebenarnya merupakan hal baru dalam perpolitikan di Tanah Air. Sebuah penyimpangan pikiran dari mereka yang tidak mampu bersaing secara obyektif dalam berkarya. Padahal, dalam wadah Negara Kesatuan Indonesia, semua anak-anak bangsa bebas berkiprah, bebas mengabdi dan bebas bersaing secara obyektif dan wajar. Tanpa perbedaan berdasarkan keturunan dan suku bangsa. Tapi, ini kemudian dimelencengkan ke pemikiran-pemikiran seperti itu. Sudah saatnya kita menghilangkan pikiran tentang trah.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here