Tidak Terdampak Koalisi Pilgub, PKB Lumajang Tetap Usung Kader Sendiri

0
159
Gerakan masif mencari dukungan warga terus dilakukan Thoriqul Haq menghadapi Pilkada Kabupaten Lumajang 2018

Nusantara.news, Lumajang – Massa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di beberapa kota dan kabupaten yang menggelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2018, harus benar-benar berbesar hati merelakan calon pilihannya tidak berpartisipasi. Koalisi dengan PDI Perjuangan menghadapi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur berimbas pada pencalonan kader-kader terbaik PKB di beberapa daerah.

Memberikan rekomendasi kepada pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Abdullah Azwar Anas, Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tentu punya perhitungan sendiri dibanding mengusung kader sendiri. Partai berlambang banteng moncong putih memilih realistis untuk tidak mengulang  kesalahan sebelumnya yang berakhir menyakitkan di Pilgub Jawa Timur. Sebagai wilayah basis NU, partai hijau jelas lebih berpeluang meraup suara besar kendati dalam 2 edisi sejak 2008, justru partai nasionalis yang memenangi pertarungan.

Hitung-hitungan ini yang bisa berdampak pada pencalonan kader PKB di beberapa kota dan kabupaten. Kendati punya modal elektabilitas namun koalisi yang terbangun dengan PDI Perjuangan bisa membuat kader PKB harus ‘ngalah’ sebelum pencoblosan. Fenomena ini kemungkinan besar juga akan melanda Kabupaten Lumajang setelah rekomendasi Megawati turun kepada incumbent As’ad Malik.

Padahal di kota pisang ini, nama Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) PKB Jawa Timur, Thoriqul Haq menjadi kandidat kuat dalam pertarungan 27 Juni 2018 nanti. Track record sebagai salah satu kader muda terbaik PKB sudah dibuktikan dengan posisinya sebagai anggota DPRD Jawa Timur dua periode.

Dihubungi redaksi Nusantara.News, Thoriq panggilan akrabnya, mengaku tunduk pada ketetapan partai. Termasuk jika ada konsensus lain terkait pencalonan pada pilkada. Namun karena rekomendasi dari PKB sudah diterima, menjadi isyarat jika di Lumajang konsensus itu tidak berlaku. “Saya kader partai (PKB, RED). Tentunya harus patuh dan tunduk pada keputusan partai,” terangnya, Rabu (1/11/2017).

Statemen ini menjadi sinyal bagi partai di luar PDI Perjuangan untuk ikut dalam gerbong koalisi PKB. Dengan keterwakilan 9 kursi di DPRD Lumajang 2014-2019, PKB hanya butuh tambahan 1 kursi sesuai regulasi untuk mengusung mengusung calon bupati-calon wakil bupati (cabup-cawabup). Peluang ini yang ditawarkan ke Partai Gerindra.

Ketua DPC PKB Lumajang Achmad Anang Saifuddin menyebutkan, Gerindra jadi fokus utama dengan menawarkan kursi cawabup. “Kami kini intens melakukan komunikasi dengan beberapa partai. Terutama Gerindra yang punya 5 kursi di legislatif. Tentunya ada syarat lain, cawabup yang ditawarkan harus punya visi dan misi yang sama dengan cabup PKB,” sebutnya kepada media beberapa waktu lalu.

Komposisi partai hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 di Lumajang memang tidak ada yang dominan. Dari 50 kursi, ada 10 partai yang memiliki keterwakilan. PDI Perjuangan memimpin dengan 10 kursi diikuti PKB (9) dan Demokrat (6). Sedangkan NasDem, Golkar dan Gerindra masing-masing mendapat 5 kursi. Namun 4 partai lain tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. PKS dan PAN yang mendapat 3 kursi serta Hanura dan PPP yang ‘hanya’ kebagian 2 kursi akan bisa sangat menentukan jika Pilkada nanti diikuti lebih dari 2 pasangan calon.

Namun ada catatan menarik yang bisa mendongkrak popularitas Thoriq. Yakni pilihan politik As’ad Malik dengan meninggalkan 3 partai pengusungnya di Pilkada 2015 (Golkar, PAN, Demokrat). Belum

lagi ditambah dengan tragedi konflik tambang yang sempat go nasional di masa pemerintahan incumbent, membuat Thoriq yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur punya nilai lebih untuk melewati popularitas As’ad Malik.

Fenomena ini mau tidak mau disadari bakal menjadi celah menguras elektabilitas penguasa saat ini. Tak heran, As’ad Malik ketika menggelar sosialisasi Pilkada yang dihadiri jajaran asisten, inspektorat, sekretariat DPRD, badan, dinas, bagian, camat hingga kelurahan se-Kabupaten Lumajang, menekankan netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dengan kepastian pecah kongsi PKB-PDI Perjuangan di Lumajang, menjadikan dinamika politik di kabupaten yang terletak di kaki Gunug Semeru ini lebih hangat. Harapannya, tentu saja kepala daerah terpilih nanti benar-benar mengemban amanah yang diberikan pemilihnya untuk memimpin 1,34 juta lebih warganya menghadapi perubahan ekonomi global menjadi lebih baik.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here