Tidak Yakin dengan AS, Asia Berencana Bangun Aliansi Baru Hadapi China

0
98
PM Australia Malcolm Turnbull memberikan pidato pada Dialog Shangri-La di Singapura pada 2 Juni 2017. REUTERS

Nusantara.news, Singapura – Konflik geoekonomi dan geopolitik di kawasan Asia, khususnya Laut China Selatan (LCS) dikhawatirkan tidak menemukan titik penyelesaian. Apalagi jika Amerika Serikat (AS) sebagai penyeimbang China, menarik diri dari keterlibatan untuk menyelesaikan konflik di kawasan tersebut. China dan sejumlah negara seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam terlibat saling klaim sejumlah kepulauan di LCS.

Sikap presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mulai menarik diri dari kesepakatan-kesepakatan internasional, dan menyatakan akan lebih mendahulukan kepentingan AS (America First) ditanggapi oleh sejumlah negara di sejumlah kawasan dengan merencanakan semacam pembentukan aliansi bidang pertahanan dan keamanan baru di antara mereka. AS dianggap akan mundur dari posisinya sebagai “polisi dunia” seperti yang berlaku selama ini.

Di Eropa, karena Trump tidak lagi sepenuhnya mendukung NATO, dan terakhir dia menarik diri dari Kesepakatan Paris, negara-negara Eropa kini seperti menginginkan aliansi baru tanpa bergantung kepada AS, mungkin dengan mengajak China atau Rusia, negara kuat lain selain AS.

Hal yang sama juga terjadi di Asia, beberapa negara di Asia berusaha untuk membuat aliansi informal di antara mereka sendiri, kata seorang diplomat di Singapura, sebagaimana dilansir Reuters, yang tidak tenang karena meningkatnya kekhawatiran bahwa AS tidak dapat lagi diandalkan untuk menjadi penyangga pertahanan terhadap agresivitas China di kawasan Asia, khususnya di LCS.

Negara-negara termasuk Australia, Jepang, India dan Vietnam secara diam-diam meningkatkan diskusi dan kerja sama, walaupun dengan sangat hati-hati agar mereka tidak “mengganggu” Beijing, kata para diplomat tersebut. Namun, belum ada yang membicarakan aliansi secara formal.

Ketika membuka Dialog Shangri-La, sebuah forum keamanan utama di kawasan Asia pada akhir pekan lalu di Singapura, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull mengatakan, “Di dunia baru yang menantang ini, kita tidak dapat mengandalkan kekuatan besar untuk melindungi kepentingan kita.”

“Kita harus bertanggung jawab atas keamanan dan kemakmuran kita sendiri, sambil menyadari bahwa kita lebih kuat saat berbagi beban kepemimpinan kolektif dengan mitra dan teman terpercaya,” kata Turnbull dalam pidatonya. Dialog Shangri-La, IISS (The International Institute for Strategic Studies) ke-16 di Singapura, 2-4 Juni lalu, adalah KTT tentang Keamanan di kawasan Asia.

Pernyataan Turnbull dalam forum tersebut mengingatkan pada pernyataan Kanselir Jerman Angela Merkel belum lama ini, yang mengatakan bahwa “sudah saatnya negara-negara Eropa menentukan nasibnya sendiri, tidak tergantung dengan negara lain.” Pernyataan tersebut karena “pentolan” Uni Eropa itu tidak lagi mempercayai AS sebagai penyangga pertahanan di Eropa. Pernyataan Turnbull menjadi pembahasan menarik dalam forum keamanan tersebut yang berakhir Minggu (4/5) lalu.

Para pejabat dan analis regional mengatakan bahwa telah tumbuh ketidakpercayaan terhadap pemerintahan Presiden AS Donald Trump, terutama karena penarikannya dari Trans-Pacific Partnership (TPP) dalam perdagangan dan kemudian, pekan lalu, penarikan dari kesepakatan Iklim Paris.

Banyak yang khawatir Trump memberi isyarat akan mundur lebih jauh dari peran tradisional keamanan AS yang telah mendukung kawasan Asia selama beberapa dekade.

Sebagaimana dikutip Reuters, Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, mengatakan kepada forum Singapura tersebut, bahwa Washington masih tetap berkomitmen terhadap wilayah Asia dan bersikeras bahwa pihaknya akan menentang militerisasi China di Laut China Selatan yang sedang disengketakan, salah satu titik api di Asia yang paling mudah meletup.

Seorang pejabat yang ikut dalam forum tersebut mengatakan bahwa mereka khawatir dengan ketidakpastian Trump dan khawatir pula bahwa pujian hangat Trump terhadap Presiden China Xi Jinping pada pertemuan mereka bulan April lalu bakal mempengaruhi keputusanya di Asia.

“Kami percaya Mattis dan kami juga percaya (Komandan Pasifik AS, Harry) Harris tapi bagaimana dengan yang paling atas (Presiden Trump)? Kesenjangan kepercayaan itu sangat luas,” kata seorang perwira militer senior di dari negara di kawasan Asia.

“Ketakutan kita didorong oleh kenyataan bahwa hanya Amerika Serikat yang cukup kuat untuk mengatur garis merah dengan China,” katanya.

Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein mengatakan, Asia masih berusaha untuk mengetahui kebijakan Trump di wilayah tersebut.

“Saya ingin tahu dengan jelas apa maksud sebenarnya dari pemerintahan baru ini,” katanya.

Lima kekuatan negara

Sementara itu secara umum, Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen menegaskan tentang percepatan kerja sama di antara para negara mitra, namun dia juga mengatakan menyambut baik pernyataan Mattis.

Australia, Selandia Baru, Inggris, Malaysia dan Singapura sebagai lima kekuatan negara pertahanan (Five Power Deffence) kembali memperkuat persatuan mereka dalam pertemuan di Singapura, para pejabat dari negara-negara tersebut mengatakan, mereka ingin menghubungkan kembali kemampuan militer baru dengan lebih baik serta mendorong upaya anti-terorisme dan kerja sama di bidang keamanan maritim.

Tim Huxley, seorang pakar keamanan kawasan, menyatakan bahwa kelima negara tersebut perlu memperbaiki keterkaitan antar-militer mereka karena keseimbangan kekuatan regional saat ini telah bergeser.

Sementara, China menjadi lebih kaya dan lebih asertif, strategi dan kebijakan AS telah memasuki “Periode, paling tinggi tingkat ketidakpastiannya di bawah Presiden Donald Trump,” katanya Huxley.

“Di tengah ketidakpastian ini, sebagian besar negara berusaha meningkatkan kemampuan militer mereka,” tambahnya.

India tidak mengirim delegasi ke forum Shangri-La di Singapura itu, namun mereka telah aktif dalam memperkuat kerja sama di wilayah tersebut.

India telah mengirimkan empat kapal dan sebuah pesawat patroli maritim P-8 Poseidon ke sebuah latihan Angkatan Laut dengan Singapura pada bulan lalu, dan secara diam-diam memperbaiki pertahanan Vietnam. Beberapa perusahaan pertahanan India juga menghadiri Pameran dan Konferensi Pertahanan Maritim Internasional di Singapura bulan lalu, termasuk produsen rudal jarak dekat.

New Delhi menolak permintaan Australia untuk mengikuti latihan Angkatan Laut Malabar bulan depan dengan Jepang dan AS karena takut dianggap menentang China, yang telah memperingatkan agar tidak melakukan latihan, kata pejabat AL dan diplomat Singapura.

Namun, para pejabat itu mengatakan latihan dengan India akan dilakukan secara bertahap, pasalnya India memiliki perjanjian pertahanan bilateral dengan negara-negara seperti Australia, Singapura dan Vietnam.

Beijing mengirimkan delegasinya ke forum Shangri-La Singapura tahun ini, tapi para pejabatnya dengan hati-hati memperhatikan perkembangan dan dorongan “pemikiran Perang Dingin” di balik gerakan untuk memperkuat aliansi.

“Ini akan menciptakan semacam ancaman dan menggunakan China sebagai ancaman adalah sebuah kesalahan besar,” kata Kolonel Senior Zhao Xiaozhuo, dari Akademi Ilmu Militer Angkatan Darat Rakyat China. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here