Tiga Calon KPU Petahana Terganjal di DPR, Ini Penyebabnya

0
350
Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Muhammad (kanan) yang terganjal di Timsel berbincang dengan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman (kiri) yang masih terpilih di DPR sebagai calon Komisioner KPU periode 2017-2022 ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc/17.

Nusantara.news, Jakarta – Tiga dari Lima anggota KPU petahana gagal memperpanjang jabatannya. Dalam pemilihan anggota Komisi II DPR-RI, Rabu (5/4) dini hari tadi, mereka gagal mendapatkan suara 7 terbanyak. Apa masalahnya?

Apabila merunut ke belakang, gagalnya mayoritas calon petahana itu tampaknya tidak terlepas dari “perseteruan”antara Timsel KPU-Bawaslu dan Komisi II DPR. Saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi II dan Timsel muncul tudingan dari sejumlah anggota Komisi II terhadap kinerja Timsel yang dinilai tidak profesional.

Ini tudingan-tudingan yang mengemuka dalam RDP Komisi II dan Timsel pada Kamis (30/3) lalu. Sebut saja anggota Komisi II Zulkifli Anwar dari Fraksi Partai Demokrat yang menyesalkan tidak terpilihnya Prof. Muhamad yang dinilainya cakap untuk kembali menjadi Komisioner Bawaslu.

Bahkan Zulkifli menuding Pansel tidak berguna. “Ada isu cara kerja Pansel untuk seleksi katanya seperti jaksa menanya terdakwa. Cara yang dibuat Pansel untuk meluluskan anggota KPU atau nominasi menggugurkan 500 ini ada kepentingan, ada udang di balik batu. Ini perkiraan saya saja,” tuding Zulkifli yang sulit menyembunyikan emosi.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media massa, dari 3 anggota Bawaslu yang kembali mendaftar untuk periode berikutnya, tidak diloloskan pansel. Sementara 5 anggota KPU yang mendaftar lolos seleksi menjadi calon incumbent komisioner,

“Ada 5 KPU yang masih lulus di sini. Selama ini (KPU) dengan komisi II sendiri bertentangan, bermasalah. Ini bukan tidak terima mereka mitra tapi kami diadukan ke MK. Mitra seperti apa itu,” gugat Zulkifli.

Cecaran senada diungkap anggota Komisi II Yandri Susanto. Meskipun dia tidak begitu memasalahkan lolosnya 5 komisioner KPU tapi menyesalkan kenapa 3 komisioner Bawaslu petahana yang mencalonkan kembali tidak lolos.

“Semua KPU incumbent lolos kami hormati, tapi menjadi pertanyaan publik seluruh anggota Bawaslu pusat tidak ada yang lolos. Dari sisi mana mereka tifak lolos. Kami mitra Bawaslu, penting ini Pak. Di mana letak kelemahan Bawaslu sampai tidak lolos,” gugat Yandri.

“Lah kalau Pansel memberikan masukan bahwa Bawaslu tidak bekerja baik padahal komisi II menilai Bawaslu baik. Ini menimbulkan gejolak memvonis, Pansel tidak objektif. Masa ketua Bawaslu tidak lolos. Di tahap mana tdk lolos Pak,” lanjut politisi PAN itu.

Senada dengan Zulkifli, Yandri juga menilai kinerja Muhammad sudah cukup baik dan memenuhi keterbukaan publik. Dengan tidak lolosnya sang ketua, itu akan menimbulkan opini negatif terhadap Bawaslu.

“Yang dianggap tidak bekerjasama, bapak-bapak tidak loloskan semua. Perlu klarifikasi jujur kalau ada sumbatan tidak objektif dan ada kebohongan. Ini penting, sampaikan tahap mana mereka tidak lolos dan tidak cakap. Bawaslu itu sudah khatam, laporan mereka bagus-bagus kok. Saya tidam setuju kalau dianggap tidak cakap,” tuding Yandri.

Karena permasalahan itu, muncul semacam suasana bathin di kalangan anggota Komisi II, semula akan menggagalkan semua calon KPU petahana. Tapi, ungkap sebuah sumber dari Fraksi PDI Perjuangan kepada nusantara.news, Hasyim Asy’ari akan tetap diloloskan karena sebagai anggota KPU antar waktu dia tidak terlalu terlihat berseberangan dengan Komisi II.

Saat pemilihan digelar pada Rabu (5/4) dini hari tadi, selain Hasyim Asy’’ari yang masih meraih  54 suara, hampir saja ke-4 anggota KPU petahana lainnya terganjal. Satu anggota KPU petahana yang mendapat suara 7 besar, Arief Budiman, hanya mendapatkan suara di nomer urut buncit dengan 30 suara. Maka hanya 3 dari 5 komisioner KPU yang gagal memperpanjang masa jabatannya.

Itulah penyebab kenapa 3 dari 5 calon petahana KPU terganjal di DPR, tentu saja itu tidak terlepas dari perseteruan, pertama, antara KPU dan Komisi II dalam hal peraturan KPU yang dianggap Komisi II melampaui wewenang, dan kedua, perseteruan antara Komisi II dan Timsel yang dianggap menganaktirikan calon petahana Bawaslu dan menganak-emaskan calon petahana KPU.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here