Tiga Skenario dalam Teror Bom Bunuh Diri

0
477
Personil Kepolisian berjaga di lokasi ledakan bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5) malam.

Nusantara.news, Jakarta – Teror bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, diduga adalah aksi bom bunuh diri yang dilakukan dua orang. Ledakan pertama terjadi pukul 21.00 WIB, sedangkan ledakan kedua terjadi 5 menit kemudian. Orang yang diduga pelaku itu tewas bersama korban meninggal lainnya.

“Sementara ini korban yang diduga pelaku sedang diidentifikasi. Belum bisa dipastikan siapa,” ujar Wakapolri Komjen Pol Syafruddin kepada wartawan di dekat lokasi kejadian. Semua polisi ini menjadi korban ketika berusaha menolong korban ledakan bom pertama.

Total orang tewas akibat bom di Kampung Melayu sebanyak 5 orang. Dua orang yang tewas diduga pelaku, 3 orang lainnya adalah anggota Unit Turjawali (Pengaturan, Penjagaan dan Patroli) Satuan Tugas Umum (Satgasum) Direktorat Sabhara Polda Metro Jaya. “Anggota Polri yang gugur adalah Bripda Taufan, Bripda Ridho dan Bripda Adinata,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto kepada wartawan di tempat kejadian, dini hari Kamis (25/4/2017). Sedangkan 10 orang korban luka adalah 5 personel polisi dan 5 orang warga sipil.

Bom yang digunakan kelihatannya merupakan kategori hi-explosive. “Dari hasil olah TKP dan diduga dari lukanya, tubuh korban tercerai berai. Patut diduga akibat ledakan yang kuat,” kata Setyo Wasisto

Dugaan bahwa ini bom bunuh diri sangat beralasan. Sebab, dalam satu setengah dasawarsa terakhir, aksi bom bunuh diri memang banyak terjadi melalui teroris siap mati, atau yang sering disebut “pengantin” itu.

Aksi teror bom terbesar dalam sejarah Indonesia, Bom Bali I pada 12 Oktober 2012, semula juga dirancang sebagai aksi bom bunuh diri untuk meledakkan dua target sekaligus, yakni Sari Club dan Paddy’s Café di Legian, Kuta. Dalam tragedi itu korban luka-luka tercatat 209 orang, dan yang tewas 202 orang. Sebanyak 164 orang di antara yang tewas itu adalah warga negara asing dari 24 negara, dan 38 lainnya berasal dari Indonesia.

Niat bom bunuh diri dengan kemasan ringkas berupa rompi terpaksa diurungkan, karena komplotan pelaku yang dipimpin Hambali dan Dr Azahari Husin itu tidak berhasil mendapatkan bahan peledak senyawa tunggal dalam jumlah yang cukup untuk mendapatkan efek ledakan sesuai rencana. Bahan peledak senyawa tunggal adalah bahan peledak yang terdiri dari satu macam senyawa bahan peledak saja.

Karena tak cukup, mereka lalu meracik bahan peledak sendiri yang bahan kimianya dibeli oleh Amrozi di toko Aneka Kimia dan Tidar Kimia Surabaya. Peracikan dipandu oleh Azahari dan Dul Matin dan dikerjakan oleh Ali Imron. Bahan peledak campuran itu antara lain Potassium Chloride (KCl), Ammonium Nitrate Fuel Oil (ANFO), Kalium Nitrat (saltpeter, atau KNO2) dan sejenisnya.

Bahan peledak senyawa tunggal yang terbatas itu digunakan untuk detonator dan booster. Isinya antara lain Tetryl, PETN (Pentaerythritol Tetranitrate), TNT (Trinitrotoluena) dan RDX (Royal Demolition Explosive) yang juga disebut sikloit, heksogen, atau T4.

Itu sebabnya, bahan bom yang diledakkan di Sari Club  di Legian, Denpasar itu, diangkut dengan menggunakan minibus Mitsubishi L-300. Karena total beratnya 1.250 kilogram. “Jika jumlah itu dikonversi ke bahan peledak senyawa tunggal, maka jumlahnya cukup 95 kilogram saja,” ujar seorang perwira Labfor Denpasar, kepada wartawan Nusantara.news ketika ituJumlah sebanyak itu bisa dibawa dalam tas punggung dan disisipkan ke dalam rompi yang dirancang khusus.

Barang bukti Amonium Nitrat sebanyak 63,8 ton yang diselundupkan melalui perairan Selat Bali, 15 Mei 2017.

Dalam Bom Bali I itu, hanya satu yang menggunakan bom rompi berisi bahan peledak senyawa tunggal, yakni yang dibawa “pengantin” bernama Iqbal ke Paddy’s Café atas instruksi Ali Imron. Bahan peledak senyawa tunggal yang berdaya ledak tinggi adalah syarat untuk bom bunuh diri, terutama jika dibawa dalam kemasan yang ringkas. Bom bunuh diri juga bisa dilakukan dengan senyawa campuran, namun harus menggunakan alat angkut, seperti mobil, karena jumlah bahan peledaknya banyak.

Bom mobil ini digunakan oleh Asmar Latin Sani di Hotel JW Marriott 5 Agustus 2003. Alumnus Pesantren Ngruki ini membawanya dengan minibus Toyota Kijang yang diparkirnya di depan lobi hotel.

Selain itu, ada dua lagi modus bom mobil lagi yang sudah terjadi, yakni di Sari Club Bali yang menggunakan Mitsubishi L-300, dan di depan Kedubes Australia Kuningan Jakarta yang menggunakan mobil boks.

Modus bom bunuh diri dengan kemasan ringkas juga dilakukan Dani Dwi Permana ketika meledakkan bom di di Hotel JW Marriott di Mega Kuningan, Jakarta pada 17 Juli 2009. Hanya saja Dani membawa bom masuk ke hotel dengan memakai tas punggung. Tujuh orang meninggal dunia dan lebih dari 50 orang terluka dalam serangan bom yang dikoordinasi Noordin M. Top itu.

Mudah dipahami mengapa Dani bisa lolos membawa bom ke dalam hotel. Sebab, kendati hotel mewah itu dipagari dengan pintu pendeteksi logam (metal detector), alat tersebut hanya bisa memindai logam dan sejenisnya, tapi tidak bisa mencium bahan kimia.

Pada 15 April 2010, Muhammad Syarif juga meledakkan bom yang terpasang di tubuhnya di masjid yang terletak di dalam Mapolresta Cirebon. Akibat aksinya, Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco dan 25 orang anak buahnya yang hendak menunaikan shalat Jumat, terluka.

Di tahun yang sama, pada 29 September, kembali terjadi aksi bom bunuh diri. Kali ini modusnya tidak dengan menggunakan tas punggung, tapi diikatkan di sepeda yang dikendarai pelaku. Abu Ali, begitu nama pelaku, meledakkan bom dekat AKP Herry, seorang anggota polisi Polres Metro Bekasi. Untungnya, pelaku dan polisi itu luput dari maut.

Pada 25 September 2011, di halaman Gereja Bethel Injil, Solo, Jawa Tengah, seorang “pengantin” bernama Achmad Yosepa Hayat, meledakkan diri. Achmad satu jaringan dengan Muhammad Syarif. Kantor polisi, atau polisi yang sedang bertugas di lapangan, memang sering sasaran aksi bom bunuh diri. Seperti yang terjadi pada 3 Juni 2013, ketika seorang teroris yang tidak dikenal  meletuskan bom yang digendongnya di depan Mapolres Poso.

Dalam melakukan aksi bunuh diri, biasanya ada tiga skenario yang disiapkan teroris. Skenario pertama, adalah “sang pengantin” memantik sendiri alat pemicu bom yang dibawanya. Tetapi, biasanya, pemimpin kelompok tidak begitu saja mempercayakan peledakan kepada si “pengantin”. Sebab, ada kemungkinan, pada saat-saat terakhir, si pembawa bom mendadak takut, berubah pikiran atau tertangkap. Untuk itu, disiapkan skenario kedua, yakni meledakkan detonator melalui hubungan telepon selular. Handset telepon dicopot speaker-nya, dan kabelnya disambungkan ke detonating cord.

Ketika sang “pengantin”  tidak menekan tombol bom yang dibawanya pada jam, menit dan detik yang sudah dirancang secara presisi, pemimpin kelompok akan menelepon ke nomor telepon selular yang ditempelkan ke paket bom tersebut. Ketika nada panggil masuk, arus listrik yang semula akan menimbulkan bunyi pada speaker, akan mengalirkan gelombang detonasi ke detonating cord sehingga meledakkan induk bom.

Kemungkinan gagal masih ada, misalnya apabila sinyal telepon tidak kuat. Untuk mencegah kegagalan, rencana ketiga disiapkan, yakni dengan bom waktu. Pola kerjanya hampir sama dengan bom yang dikendalikan jarak jauh melalui ponsel. Alarm jam disetel pada waktu tertentu. Ketika alarm menyala, aliran listrik langsung masuk ke kabel detonator, karena speaker atau lonceng jam sudah dicopot.

Bom di Kampung Melayu ini, jika hasil penyelidikan polisi berhasil membuktikan sebagai aksi bom bunuh diri, besar kemungkinan juga dirancang dengan tiga skenario tersebut.

Aksi-aksi bom bunuh diri ini menunjukkan satu hal, yakni betapa mudahnya para teroris itu mendapatkan bahan peledak senyawa tunggal, sehingga tidak perlu bersusah payah membawa bom berbahan campuran yang beratnya ratusan kilo.

Padahal dalam Pasal 1 aat (1) UU Darurat No. 15 Tahun 1951 yang mengubah Ordonnantie Tijdelijke Byzondere Strafbepalingen  (Stbl. 1948 No. 17) dan UU Nomor 8 Tahun 1948, sudah ditegaskan bahwa siapa yang tanpa hak mempunyai bahan peledak dihukum dengan hukuman mati, hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya 20 tahun. Dan Peraturan Kapolri Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Pengawasan, Pengendalian dan Pengamanan Bahan Peledak Komersial juga sudah mengatur rambu-rambu yang  sangat ketat.

Lalu, mengapa bahan peledak masih bisa diperoleh para penebar bencana itu? Artinya, tidak cukup hanya sekadar rajin berburu teroris seperti selama ini. Tapi pengawasan peredaran bahan peledak juga menjadi pekerjaan rumah yang sangat mendesak diselesaikan.

Selain meningkatkan pengawasan bahan peledak, cara pengamanan di sejumlah tempat vital  yang menggunakan metal detector juga perlu dievaluasi. Cara seperti ini bukan saja sudah sangat ketinggalan zaman, tapi juga memang tidak tepat untuk mencegah teror bom. Karena alat ini hanya bisa mendeteksi logam dan tidak bisa mencium bahan kimia. Di sejumlah negara, selain menggunakan metal detector, petugas keamanan juga sudah dilengkapi radiation detector yang dapat mendeteksi radiasi bahan kimia.

Meski Indonesia punya riwayat panjang sebagai sasaran aksi teror bom, ternyata dalam banyak hal selalu terlambat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here