Time To Buy Dolar AS

1
54
Federal Reserve tahun in diperkirakan akan menaikkan suku bunga secara bertahap tiga kali. Kenaikan pertama diperkirakan pada medio Maret 2018 yang diperkirakan akan membuat dolar AS perkasa pada mata uang utama dunia.

Nusantara.news, Jakarta – Federal Reserve sepanjang 2018 diperkirakan bakal menaikkan suku bunga Fed Fund Rate sebanyak tiga kali. Tentu saja ini merupakan tantangan sekaligus tantangan buat para otoritas moneter dunia untuk menjaga mata uang masing-masing.

Bank Sentral Amerika Serikat diprediksi akan menaikkan suku bunga pada medio Maret 2018 dan berlanjut lagi di tahun depan. Hasil jajak pendapat Reuters kepada para ekonom, mayoritas memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunganya tiga kali lagi di tahun depan.

Ritme ini diyakini lebih sering ketimbang survei beberapa minggu lalu yang memperkirakan hanya akan ada dua kali kenaikan suku bunga di 2018

Survei tersebut dilakukan sebelum Senat AS menyetujui rencana pemotongan pajak yang diperkirakan akan menambah utang AS senilai US$1,4 triliun. Sekitar 80% ekonom yang disurvei pada bulan Oktober 2017 lalu mengatakan pemotongan pajak tersebut sebetulnya tidak diperlukan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga tiga kali Bank Sentral AS di tahun depan tersebut sejalan dengan proyeksi The Fed. Tapi pandangan pemimpin The Fed akan terpecah mengenai prospek inflasi AS yang masih rendah.

Itu adalah tantangan yang dihadapi bank sentral utama lainnya. Sejak krisis keuangan tahun 2008 silam, The Fed beralih ke kebijakan moneter yang longgar yakni dengan menurunkan bunga. Namun nyatanya inflasi masih melemah dan harga masih tertekan pada saat ini.

Indeks harga belanja konsumsi pribadi inti (PCE) yang tidak termasuk makanan dan energi masih lebih rendah dari target yakni 2% dalam lima setengah tahun yang lalu. Survei Reuters terbaru menunjukkan indeks PCE masih akan di bawah 2% pada 2019. Perkiraan paling optimis bahkan hanya ada di 3,7%.

Dalam survei yang dilakukan pada 103 ekonom termasuk 19 bank besar tersebut menyebutkan suku bunga akan naik lagi di Desember ini sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%–1,5%.

CPI menguatkan Fed

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (consumer price index–CPI) AS meningkat 0,5% daripada bulan sebelumnya, di atas estimasi median para ekonom di level 0,3%. Laporan itu membuat pasar bergolak.

Pasalnya, hal itu menambah spekulasi pasar untuk kenaikan inflasi. Kemudian akan memicu The Fed untuk kenaikan suku bunga lebih dari tiga kali. Pada proyeksinya Desember lalu, hanya ada empat pejabat yang menyatakan akan ada empat atau lebih kenaikan suku bunga di 2018.

Dengan membaiknya rilis data CPI Paman Sam pada Rabu (14/2), bukan tidak mungkin bagi The Fed untuk mengubah proyeksi kenaikan suku bunganya pada rapat kebijakan 20-21 Maret 2018 nanti.

Porsi yang banyak melambungkan indeks CPI AS adalah lonjakan harga pakaian bulanan sebanyak 1,7%, kenaikan tertinggi sejak 1990. Sementara kategori lain yang berkontribusi untuk kenaikan indeks harga konsumen AS itu juga datang dari faktor sewa dan sewa-antar-pemilik yang keduanya naik 0,3% dari Desember, perawatan medis juga naik ke level 0,4% dan asuransi kendaraan bermotor meningkat sebesar 1,3%, terbesar sejak 2001.

Paul Ashworth, kepala ekonom AS untuk Capital Economics menyatakan bahwa laporan itu menjelaskan dua hal. Yakni perekonomian sejatinya tidak sekuat yang dibayangkan, tetapi di sisi lain inflasi mungkin akan sedikit naik.

“The Fed sepertinya bergantung kepada sisi inflasi dalam cerita ini,” katanya seperti dikutip Bloomberg, Jumat (16/2).

Sementara Michael Gapen, Kepala Ekonom AS di Barclays Plc New York mengatakan bahwa The Fed akan memerlukan pengaturan ulang mengenai perkiraan kenaikan suku bunga.

“Hal itu akan membawa kepada kebijakan yang lebih ketat. Memindahkan mediannya pada Maret nanti mungkin akan menjadi tantangan yang sulit,” katanya.

Sudah berakhir

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo berpendapat tren suku bunga acuan rendah sudah berakhir, sehingga pelonggaran suku bunga acuan diprediksi takkan terjadi di tahun ini.

Gubernur BI mengungkapkan, pada Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (FOMC) dikatakan kenaikan Fed Fund Rate (FFR) bisa terjadi lebih dari 3 kali di tahun 2018. Ini menunjukan tren kenaikan suku bunga memang sedang berlangsung.

“Diduga ada kemungkinan lebih dari 3 kali yang membuat suatu kondisi terjadinya instability di sistem keuangan, karena ini adalah periode yang di negara-negara maju suku bunga acuan akan cenderung meningkat,” jelas Agus beberapa waktu lalu.

Gubernur BI menekankan era suku bunga rendah sudah terjadi sepanjang 2009-2015, sehingga kini sudah memasuki era suku bunga yang menguat. Oleh sebab itu, tak hanya AS tapi negara-negara maju lainnya juga diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan oleh bank sentralnya.

“Kondisi ini juga (kenaikan suku bunga acuan) terjadi di negara besar maju, di mana suku bunga acuan akan dinaikkan,” ucapnya.

Dia menjelaskan, untuk kenaikan suku bunga acuan negara Paman Sam, diperkirakan akan terjadi pada bulan Maret, Juni, dan Desember. Jelang kenaikan tentu akan terjadi volatilitas pasar yang juga akan berdampak pada Indonesia.

“Dan BI pasti akan hadir kalau seandainya itu tidak sejalan dengan fundamental kita. Arah kebijakan kita suku bunga acuan di 4,25%, kita yakini kebijakan rate dengan terjaganya makro ekonomi dan stabilitas ekonomi yang mendukung pemulihan ekonomi Indonesia,” pungkasnya

Saatnya borong dolar

Meskipun bank-bank sentral di dunia telah mengantisipasi dampak kenaikan suku bunga The Fed, menurut Paul Ashworth, dipastikan dolar AS akan perkasa terhadap mata uang dunia. Hanya saja pelemahan mata uang dunia tersebut masih dapat dikendalikan pada batas-batas tertentu.

Hanya saja dia memberi sweetener kepada para pelaku pasar, trader dan para analis, agar dapat melakukan ambil untung dalam transaksi valas. Diperkirakan ada sekitar US$5,5 triliun flying fund yang akan pulang kandang ke negeri Paman.

Pada saat yang bersamaan, tentu saja mata uang utama dunia saat itu akan melemah, terutama euro, yen, yuan, won, rupee, tanpa kecuali rupiah. Hari ini saja rupiah diperdagangkan melemah menembus level Rp13.600, sebelumnya rupiah sempat menguat di kisaran Rp13.200. Tapi jelang kebijakan kenaikan Fed Fund Rate, rupiah terus terkoreksi meskipun cadangan devisa kita terus bertambah hingga US$130 miliar.

Namun penguatan dolar terbesar, menurut para analis, akan dirasakan pada euro, yuan, yen, dan won. Sementara mata uang Asia Tenggara tetap akan melemah namun masih bisa bertahan lantaran adanya billateral swap arrangement (BSA).

BSA adalah perjanjian kesepakatan antar negara untuk saling melakukan pertukaran mata uang, dengan menetapkan bunga dan jumlah uang yang akan dipertukarkan selama jangka waktu berlakunya perjanjian tersebut. Indonesia menjalin BSA dengan Jepang, China, Korea, dan kemungkinan dengan Amerika. Tapi karena mata uang Eropa, Jepang, China dan Korea terlalu seksi, maka kurs tersebut tetap akan terhempas.

Rupiah diperkirakan melemah terbatas, karena juga telah melakukan perjanjian perdagangan menggunakan mata uang lokal, tanpa menggunakan dolar AS, dengan Thailand, Filipina, dan China. Sehingga efek pelemahan itu masih ada perisainya.

Pada saat yang sama, jika semua bank sentral di dunia melakukan BSA dan melakukan transaksi ekspor impor dengan mata uang bilateral, tanpa melibatkan dolar AS, maka bisa saja bencanan itu akan terjadi pada dolar AS. Namun peluangnya sangat kecil, karena untuk mata uang dolar sudah mendunia.

Namun demikian, dolar AS akan menjadi mata uang perkasa seiring membaiknya ekonomi Amerika dan ditambah dengan kenaikan bunga The Fed. Efek recovery ekonomi Amerika menjadi PR paling berat buat para Gubernur bank sentral di dunia, termasuk Gubernur BI.

Itu sebabnya gejala global ini akan sangat menantang buat para otoritas moneter, tapi ini adalah periode mengasikkan buat para trader global.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here