Tindak Tegas Sponsor dan Pengguna TKA Ilegal

0
186
Ada kalanya izinnya sebagai pekerja level manajer, tidak tahunya hanya menjadi buruh kasar / foto ilustrasi andi

Nusantara.news, Jakarta – Meskipun jumlahnya belum mencapai ribuan, namun serbuan tenaga kerja asing (TKA) ilegal bukan isapan jempol. Setidaknya dalam dua minggu terakhir pada awal 2017, aparat Imigrasi Kelas I Bogor telah menciduk 34 TKA ilegal.

“Tidak semua dari Cina, ada 4 orang dari Maroko,” beber Kepala Imigrasi Kelas I Bogor Herman Lukman, kepada wartawan, Minggu (15/1/2017) lalu.

Ke-30 TKA ilegal asal Cina diciduk aparat imigrasi dari dua lokasi. Pertama, di sebuah pabrik Kecamatan Cileungsi petugas membekuk 18 TKA asal Cina, dan kedua, di hutan wilayah pertambangan galian C, Desa Banyuwangi, Kecamatan Cigudeg, petugas mencokok 12 WNA asal Cina. Sedangkan ke-4 warga Maroko dibekuk di kawasan puncak. Diduga mereka menjalankan bisnis prostitusi.

Saat penggerebekan sebuah perusahaan di Cileungsi, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja setempat enggan bertanggung-jawab atas keberadaan TKA ilegal itu. “Izin tinggal dikeluarkan Direktorat Jenderal Imigrasi dan izin kerja dikeluarkan Direktorat Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing Kementerian Ketenagakerjaan,” kilahnya.

Ulah TKA ilegal asal Cina itu memang aneh-aneh. Sebut saja di Bekasi. Ada 3 orang TKA asal Cina mengantongi izin kerja sebagai direksi. Eh ternyata mereka tertangkap basah sedang mencetak batu bata di PT Batawang Indonesia, Kabupaten Bekasi. Karena petugas imigrasi menemukan sponsor yang mendatangkan mereka, maka kini sponsor itu dengan empuknya hanya dikenai sanksi memulangkan ketiganya.

Di Cigudeg, petugas hanya menemukan TKA ilegal 12 orang. Padahal informasinya ada puluhan TKA ilegal bekerja di sana. “Mungkin informasinya bocor sehingga mereka sudah kabur duluan,” terang Herman. Ke-12 orang itu ditangkap di lokasi pertambangan milik PT Bintang Cindai Mineral Geologi (BCMG) dan PT Sinoman Resources Indonesia (SRI). Kedua perusahaan pertabangan itu  mengantongi izin galian C. Batu andesit dan batuan galena tampaknya menjadi andalan keduanya.

Memang, PT BCMG sudah beroperasi di Cigudeg sejak 2009. Selama ini penduduk setempat mengeluh. Perusahaan itu sama sekali tak pernah membantu keperluan warga. Yang ada justru pekerjanya yang keturunan Cina tengil-tengil. “Mereka sering membuat masalah dengan warga,” cerita Asep, warga Desa Banyuwangi  yang kerap pergi ke Jakarta.

“Sebelum ada PT BCMG sudah ada PT Ronsen. Katanya PT Ronsen ini ganti nama jadi PT BCMG tahun 2009. Selama galian dipegang PT Ronsen tidak ada masalah antara penambang dan warga. Baru setelah ganti nama BCMG, boro-boro membantu warga. Penambangnya juga kerap mencari masalah dengan warga,” lanjut Asep.

Terlebih saat muncul isu PT BCMG menambang emas. Akses warga ke hutan yang menjadi wilayah pertambangan menjadi sulit. Padahal untuk ke kebun, tidak sedikit warga yang harus melintas wilayah petambangan. “Jadi keberadaan tambang itu semakin menyengsarakan rakyat. Yang ngasih izin mungkin kaya raya, tapi kami ini jauh lebih menderita setelah pertambangan itu ada,” keluh Asep.

Ternyata, dalam dua minggu terakhir, TKA ilegal asal Cina yang dibekuk petugas imigrasi bukan hanya di Bogor. Melainkan juga di Madiun hingga Kota Mataram. Di kota Mataram, 2 orang WNA asal Cina sempat membuka toko perhiasan mutiara, bahkan kalau tidak keburu ditangkap, kedua WNA itu berencana investasi Rp8 miliar untuk budi daya mutiara air laut. “Kalau sukses mereka pasti ajak-ajak tetangganya dari Cina menjadi karyawan,” komentar Jalaludin (56) asal Bima yang bekerja sebagai PNS di Mataram.

Diantara TKA ilegal yang ditangkap kebanyakan menggunakan penyalahgunaan visa bisnis, dan ada pula yang menyalahgunakan kartu izin tinggal sementara (Kitas). Untuk TKA yang ditangkap di Bogor kebanyakan sudah tinggal di Indonesia dan masuk lewat Bandara Soekarno-Hatta sejak 3 bulan lalu. Sedangkan 2 WNA asal Cina yang buka toko di Mataram masuk lewat Yogya, sejak Maret dan Mei 2016.

Kini, 12 TKA asal Cina yang tertangkap di Cigudeg akan secepatnya dideportasi. “Inginnya sesegera mungkin, tapi ini pas menjelang hari raya Imlek, pesawat penuh, jadi mereka akan kami deportasi setelah imlek nanti,” ujar Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I bogor Arief Hazairin Satoto, Selasa (17/1/2017) kemarin.

Memang, pekerja asing ilegal yang dibekuk petugas imigrasi belum terlalu banyak. Tapi bukan berarti faktanya hanya puluhan. Terlepas dari itu semua, beri sanksi yang tegas dong para sponsor dan perusahaan yang telah mempekerjakan mereka. Berani? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here