Tingkat Disnaker Harus Sigap, Pengangguran Kota Malang Lebih Tinggi dari Jatim

0
94
Ilustrasi Pencari Kerja di Job Fair (Sumber: Vivamedia)

Nusantara.news, Kota Malang – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Malang termasuk yang paling tinggi di Jawa Timur. Bahkan, apabila dihitung rata-rata pengangguran Jawa Timur dengan Kota Malang masih tinggi kota bunga tersebut.

Hal tersebut yang kemudian menjadi PR bagi disnaker untk terus menekan tingkat pengangguran yang ada di Kota Malang. Salah satu faktornya setiap tahun kota pendidikan ini selalu menjadi langganan para mahasiswa baru. Alhasil, pengangguran terbuka pun semakin terbuka luas.

Berdasarkan data yang dihimpun dari BPS menyebutkan, TPT Kota Malang termasuk penyumbang terbesar kedua setelah Kota Kediri. Tercatat TPT Kota Kediri sebesar 8.46, Kota Malang 7.28 dan Kota Surabaya 7.10, apabila dibandingkan dengan rata-rata TPT di Jawa Timur hanya 4.47.

Aktivis Serikat Pekerja Buruh Indonesia Kota Malang, Rudi Kusbiantoro menilai fenomena pengangguran tersebut kiranya perlu disikapi dengan cepat dan tanggap.  “Perlu adanya satu langkah dan upaya untuk mendongkrak tingkat pengangguran tersebut, seperti memasifkan jobfair, stimulus, motivasi kerja dan lainnya,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis (3/8/2017).

Ia mengingatkan terkait fenomena ini jangan sampai terus dibiarkan, “Apabila ini terus dibiarkan maka akan berdampak pada tingkat kemiskinan kota, karena pengangguran dekat dengan jurang kemiskinan,” imbuh pria yang kerap dipanggil Cak Roto.

Masyarakat pengangguran tersebut menunjukan sinyal ketidakberdayaan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat. Ini adalah PR bagi semua khalayak yang mampu, terlebih peran pemerintah juga harus dominan dalam hal mengentaskan permasalahan pengangguran.

Fenomena terkait tingginya tingkat pengangguran dipertegas oleh Wakil Walikota Malang, Sutiaji yang mengatakan. “Jumlah pengangguran di Kota Malang salah satu yang terbanyak di Jatim,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (2/8/2017).

Sutiaji mengatakan bahwa fenomena ini perlu menjadi acuan untuk kami dan dinas terkait dalam memacu penyelesaian permasalahan pengangguran. “Ketika terjadi permasalahan penagguran yang cukup besar, pemerintah memang dituntut untuk dapat memberi solusinya,” terangnya.

Dalam mengentaskan pengangguran tersebut perlunya peran yang sinergis dengan peran Perguruan Tinggi untuk membantu mengarahkan dan memberikan fasilitas seperi pembukaan jaringan dan Job Fair.

Sutiaji mengungkapkan, setiap tahun, jumlah pendatang baru selalu lebih besar dibanding warga yang kembali ke daerahnya setelah mengemban ilmu. “Hampir 50 persen, mahasiswa di Kota Malang enggan kembali ke daerahnya masing-masing dan memilih menetap di Malang. Ini yang membuat pengangguran terbuka semakin besar,” tutur pria berkacamata tersebut.

Di Indonesia, tahun ini setidaknya ada tujuh juta pengangguran yang 60 persen berasal perkotaan, dan sisanya dari pedesaan. Sedangkan di Jawa Timur, lanjutnya, ada sekitar 840 ribu pengangguran sepanjang 2016. Sementara di Kota Malang, tercatat ada 6.250 pengangguran tercatat sepanjang 2016.

Perlunya perhatian yang khusus terhadap fenomena pengangguran, bimbingan dan pendampingan untuk berinovasi dan kreasi perlu digalakkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan, agar masyarakat tidak bergantung pada lapangan kerja yang ada namun dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, hal tersebut yangmenunjang terwujudnya masyarakat dapat mandiri secara ekonomi.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here