Tingkatkan Pasukan di Afghanistan, Arah Politik Trump Berbalik

0
131

Nusantara.news – Amerika Serikat mengumumkan strategi militer terbaru terhadap Afghanistan dengan memutuskan untuk memperkuat pasukan di negara tersebut, bukan menariknya sebagaimana digembar-gemborkan Donald Trump di awal pemerintahannya. Presiden Trump mengumumkan sendiri keputusan penting itu pada pada Senin (21/8) malam di pangkalan militer AS Fort Myer Arlington, Virginia.

Trump dalam pidatonya, menekankan perubahan visi bagi perang AS di Afghanistan. Dia akan mengakhiri strategi “national building” (pembangunan bangsa) dan menggantinya dengan menerapkan kebijakan yang menurutnya lebih tepat dalam menghadapi ancaman teroris di wilayah itu.

Dengan nada frustrasi, Trump mengatakan, di hadapan ratusan tentara AS, “Saya berbagi frustrasi rakyat Amerika,” katanya. “Rasa frustrasi mereka atas kebijakan luar negeri yang telah menghabiskan terlalu banyak waktu, energi, uang—dan yang terpenting, hidup mereka—untuk mencoba membangun kembali negara dengan citra kita sendiri…”

Keputusan Trump untuk meneruskan “perang terpanjang” di Afghanistan, dan bukannya menarik diri, mencerminkan pergeseran signifikan pendekatan politik luar negerinya ke Afghanistan sejak dia berkuasa. Selama ini, Trump menganggap bahwa ambil bagian dalam konflik seperti Afghanistan adalah pemborosan waktu dan anggaran negara.

Saat berkampanye sebagai calon presiden tahun 2016, Trump mencela kebijakan pemerintah sebelumnya terkait Afghanistan. Dia menyebutnya sebagai “bencana total”, dan mengkhawatirkan bahwa konflik termahal di Asia Tengah itu dapat menyedot sumber daya yang sangat besar bagi AS, sementara pada saat yang sama ada kebutuhan mendesak di dalam negeri.

Pendekatan baru politik luar negeri Trump ke Afghanistan ini merupakan hasil tinjauan kebijakan yang panjang dalam pemerintahannya yang diselesaikan pada pertemuan sang presiden dengan penasihat utamanya di Camp David hari Jumat pekan lalu.

Bagi sebagian kalangan, terutama Konservatif di AS keputusan berbalik arah politik Trump, menunjukkan kekhawatiran kalangan pemimpin militer bahwa menarik diri dari medan perang Afghanistan untuk melawan Taliban dan al-Qaeda telah menyebabkan situasi keamanan memburuk dengan cepat.

Trump tidak menyebut berapa jumlah kekuatan pasukan yang akan ditambahkan ke Afghanistan, namun sebagaimana dilansir Washington Post, Selasa (22/8) pejabat Kongres mengatakan, pemerintah telah memberi tahu mereka bahwa akan ada sekitar 4.000 lebih pasukan AS yang dikirik ke Afghanistan untuk menambah kekuatan yang ada saat ini (8.500 pasukan).

Dalam pidatonya, Trump juga membeberkan strategi yang mencakup penekanan terhadap Pakistan, tetangga Afghanistan, untuk melakukan upaya lebih banyak guna menghentikan “perkembang-biakkan” teroris di wilayah perbatasan. Trump juga mengatakan, India akan memainkan peran lebih besar dalam memberikan dukungan ekonomi dan pembangunan.

Namun anehnya, Trump tidak menyebut keterlibatan Cina, padahal sebagaimana India, Cina juga terlibat dalam upaya perdamaian di Afghanistan dan Pakistan. Apakah penguatan pasukan, yang agak “aneh” dalam kebijakan Trump ini dipicu karena strategi Trump mengurangi pengaruh Cina yang makin menguat di Asia Selatan?

Baca: Strategi Militer Baru Trump ke Afghanistan untuk Membatasi Cina

Hamdullah Mohib, duta besar Afghanistan untuk Washington mengatakan, kebijakan Trump “persis seperti apa yang kita inginkan.”

“Kami menyambut baik strategi yang mengintegrasikan kekuatan militer Amerika untuk mencapai tujuan kami bersama,” kata Mohib.

Kelompok konservatif kecewa

Kebijakan Trump yang berbalik arah politik, sehingga dianggap tidak ada bedanya dengan Obama, membuat kecewa kalangan konservatif sayap kanan. Kolega dekat Trump yang telah mundur dari jabatan penasihat senior, Steve Bannon menangis setelah mendengar pidato Trump.

Bannon yang kini kembali ke media sayap kanannya Breitbart mengkritik kebijakan Trump tersebut. Dalam sebuah artikel editorial Breitbart dituliskan, pendekatan yang dilakukan Trump setali tiga uang dengan yang dilakukan Obama. Media ini menyalahkan para penasihak keamanan nasional Trump atas kebijakan tersebut.

Dalam salah satu judul artikelnya, media itu menyebut “Basis America First Trump tidak suka dengan pidato Trump untuk Afghanistan yang memutar arah politik.”

Di bagian lain, media kelompok kanan itu menyinggung penasihat keamanan nasional Trump Jenderal HR McMaster dengan mempertanyakan, “Apa bedanya kebijakan Afghanistan Trump dengan Obama?”

Seorang editor Breitbart yang semula pendukung habis Trump, Joel Pollack men-tweet bahwa “Pidato Afghanistan Trump adalah pidato Obama yang tidak memiliki tenggat waktu dan rinciannya.”

Bannon sebelumnya telah mengusulkan proposal untuk mengganti pasukan AS dengan mengontrak keamanan swasta, ide yang datang dari Erik Prince, pendiri perusahaan Blackwater USA. Namun para pemimpin militer sangat menentang gagasan itu.

Trump bukan baru sekali ini mengeluarkan kebijakan yang “menyimpang” dari janji awal saat dia kampanye presiden. Banyak kebijakan lain, misalnya saat meluncurkan rudal ke Suriah karena menuding tentara rezim Bashar Al-Assad menggunakan senjata kimia. Padahal Trump berjanji saat kampanye akan menarik diri dari konflik Timur Tengah. Dengan Cina, Trump berjanji akan “mengejar” kecurangan-kecurangan Cina terkait perdagangan tanpa kompromi, nyatanya dia berkompromi. Jadi, putar balik arah kebijakan politik, bukanlah hal baru di masa kepresidenan Trump.

Dengan demikian, bisa jadi kebijakan politik AS (Trump) yang akan “mundur” dari panggung global juga bisa berbalik, termasuk dari kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Pasifik, atau Asia Tenggara. Apalagi AS melihat agresivitas rivalnya, Cina, dalam melakukan ekspansi ekonomi. Sebab Cina punya ambisi memimpin ekonomi dunia, salah satunya dengan inisiatif One Belt One Road. Dalam konteks Afghanistan, bisa jadi ini bentuk kekhawatiran AS akan dominasi Cina di kawasan Asia Selatan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here