Tlatah Arek – Mataraman, Peta Politik Dua Kekuatan Besar Khofifah -Gus Ipul

1
272
Jawa Timur

Nusantara.news, Surabaya – Provinsi Jawa Timur terbagi dalam empat wilayah atau tlatah, Mataraman, Arek, Pandalungan dan Madura. Posisi geografis wilayah tersebut yang kemudian membedakan karakteristik, kultur dan kebudayaan masyarakatnya. Termasuk haluan politik dalam menyalurkan aspirasi demokrasi.

Wilayah bukan semata untuk membeda-bedakan, sebaliknya menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Timur termasuk wilayah Arek memiliki keunikan dan kaya ragam budaya serta kearifan lokal tersendiri. Perbedaan karakteristik itu tidak membuat Jawa Timur saling memisahkan diri, sebaliknya menyatu menjadi bagian kesatuan kawasan provinsi.

Menurut catatan Koentjaraningrat, terdapat tujuh unsur kebudayaan dan Jawa Timur terbagi ke dalam sepuluh tlatah. Yakni, sistem religi, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian atau sistem ekonomi, sistem teknologi, peralatan, bahasa, serta kesenian. Masyarakat di wilayah Arek dikenal dengan karakternya yang terbuka, tanpa basa-basi, penuh semangat, pemberani dan bondo nekat.

Tlatah Arek, membentang dari utara ke selatan mulai Malang hingga Surabaya. Sebelah timur ditandai dengan batas alam yakni Kali Brantas, sebelah barat adalah wilayah Mataraman. Surabaya dan Malang menjadi pusat kebudayaan yang kuat di wilayah tersebut. Kondisi sosial masyarakat di dua kota itu sangat kompleks dan heterogen. Serta menjadi pusat pendidikan, ekonomi dan pariwisata. Warga pendatang dari berbagai suku di Indonesia dan etnis pun ada di wilayah tersebut. Berada di dalam cakupan wilayah tersebut ada Surabaya, Malang, Mojokerto, Gresik dan Sidoarjo. Luasnya 17 persen dari keseluruhan luas wilayah Provinsi Jawa Timur.

Kultur Sosial dan Politik

Sejumlah wilayah di Jawa Timur yang masuk jadwal Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018, ada 18 wilayah. Yakni, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Kediri, Kota Madiun, Kota Mojokerto, Kabupaten Pasuruan, Bojonegoro, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Bondowoso, Madiun, Nganjuk, Tulungagung, Jombang, Magetan, Lumajang dan Probolinggo.

Menarik untuk disimak adalah kiblat wilayah tersebut khususnya saat berlangsung pemilihan kepala daerah di kabupaten/kota masing-masing. Ibarat medan pertempuran, kandidat bakal calon harus memahami kultur dan kecenderungan masyarakatnya dalam menentukan pilihan.

Di pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur yang akan digelar Juli 2018 mendatang misalnya, dua kekuatan sosok Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf diprediksi akan terjadi tarik-menarik pendukung di wilayah Arek dan Mataraman. Alasannya, karena kedua sosok tersebut banyak memiliki daya magnet besar yang didambakan muncul sebagai pimpinan.

Dipastikan, di wilayah tersebut kedua kader Nahdliyin itu akan menjadi daya tarik tersendiri dengan masing-masing kelebihan yang dimiliki.

“Pertarungan paling seru akan terjadi di wilayah Arek dan Mataraman. Itu karena, masyarakatnya sangat terbuka dan belum menjadi basis pemilih loyal kedua kandidat,” ujar Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Mochtar W Oetomo.

Masyarakat di wilayah Arek dikenal dengan modal nekatnya, serta memiliki semangat juang tinggi, terbuka, dan mudah beradaptasi. Diprediksi, di wilayah tersebut akan terjadi tarik menarik kekuatan untuk para kandidat di Pilgub Jawa Timur mendatang.

”Pemilih di wilayah itu masih cair dan pasti akan bisa diperebutkan,” tambahnya.

Catatan sejumlah lembaga survei, untuk di wilayah Arek dukungan kepada Khofifah dan Gus Ipul hampir seimbang. Tetapi kondisi itu juga tidak bisa diprediksi perkembangannya, karena setiap saat akan berubah.

Kabupaten Jombang, misalnya, kultur dan peta politiknya akan seimbang, karena wilayah kabupaten ini dikenal memiliki basis massa “Ijo dan Abang” atau kaum santri (agamis) dan abang (merah) mewakili kaum nasionalis.

Kabupaten Jombang, dari sisi geografis sangat strategis terletak di tengah Provinsi Jawa Timur, tepatnya di koordinat: 5.2° – 5.3° BT dan 7.2° – 7.45° LS. Kabupetan Jombang memiliki luas wilayahnya 1.159,50 kilometer persegi. Jumlah penduduknya tercatat 1.240.985 jiwa, di tahun 2015. Terdiri 597.219 laki-laki, dan 604.338 perempuan. Dengan kepadatan 1.070,28 jiwa/kilometer persegi.

Dengan komposisi penduduknya Jawa, Tionghoa, Arab, Madura. Agama Islam menjadi mayoritas yang diyakini oleh masyarakatnya yakni 97.35 persen. Pemeluk Kristen Protestan 1.63 persen; Katolik 0.53 persen; Hindu 0.33 persen; Buddha 0.09 persen dan Konghucu 0.07 persen. Wilayah pembagian administratifnya terdapat 21 kecamatan dan 306 kelurahan.

Pusat pemerintahannya terletak di tengah-tengah wilayah kabupaten, di ketinggian 44 meter di atas permukaan laut (DpL). Berjarak 79 kilometer dari barat daya Surabaya, atau 1,5 jam perjalanan. Posisinya disebut sangat strategis, karena berada di persimpangan jalur lintas utara, dan selatan Pulau Jawa yang menghubungkan Surabaya-Madiun-Solo-Yogyakarta. Serta jalur Surabaya-Tulungagung dan jalur Malang-Tuban.

Lambang dan Moto Kabupaten Jombang diabadikan di Pendopo Kabupaten bertuliskan “Jombang Beriman (Bersih, Indah, dan Nyaman). Dan, dengan semboyan “The Heart of East Jawa”. Serta slogan pariwisata yang melekat adalah Friendly and Religious. Dengan julukan The City of Tolerance, sebagai Kota Santri.

Konon, kata Jombang merupakan akronim dari kata berbahasa Jawa yaitu ijo (Indonesia: hijau) dan abang (Indonesia: merah). Ijo (hijau) mewakili kaum santri (agamis), dan abang (merah) mewakili kaum abangan (Nasionalis/Kejawen). Kedua kelompok tersebut hidup rukun berdampingan, harmonis menjaga ketertiban dan membangun Kabupaten Jombang. Bahkan kedua elemen tersebut digambarkan dalam warna dasar lambang daerah Kabupaten Jombang.

Jombang juga dikenal dengan sebutan Kota Santri, karena banyak sekolah pendidikan Islam atau pondok pesantren di wilayahnya. Bahkan, ada pameo yang menyebut Jombang adalah pusat pondok pesantren di Jawa karena hampir seluruh pendiri pesantren di Pulau Jawa pernah berguru atau belajat di Jombang. Di antara pondok pesantren yang terkenal adalah Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, Pesantren Attahdzib (PA), dan Darul Ulum, Rejoso.

Banyak tokoh terkenal di Indonesia yang dilahirkan di Kabupaten Jombang. Di antaranya adalah Presiden Republik Indonesia ke-4, KH Abdurrahman Wahid. Ada Pahlawan Nasional KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim, tokoh intelektual Islam Nurcholis Madjid, serta Budayawan Emha Ainun Najib serta seniman Cucuk Espe.

Pertanian dan Tanaman Pangan

Kabupaten Jombang dikenal dengan pertaniannya yang baik, sebagai lumbung padi di Jawa Timur. Selain mengisi kebutuhan ketersediaan beras di Dolog. Hasil panen juga mengisi pasar di sejumlah daerah, di antaranya ke Ngawi, Surabaya, Malang, Nganjuk dan ke swalayan yang dikemas dalam kemasan 5 kilogram.

Juga dikenal sebagai penghasil Jagung. Produksi jagung di SKPP I Kabupaten Jombang sangat melimpah hampir semua wilayah SKPP I menanam jagung, setelah panen dijual ke tengkulak kemudian pendistribusiannya selain ke pasar-lokal juga ke industri makanan ternak di Mojoagung, Mojokerto, PT. Pokphand Sepanjang Sidoarjo, UD. Sinar Terang di Kecamatan Ngoro. Termasuk ke peternak di Kediri, Pare dan ke Blitar.

Hasil bumi lainnya adalah Ketela pohon. Ketela pohon banyak terdapat SKPP I khususnya di Kecamatan Bareng. Distribusinya ke pasar-pasar lokal dalam maupun pasar di luar SKPP I Jombang. Termasuk ke indusri tepung Tapioka di Kandangan, Kediri dan ke UD. Sinar Terang di Kecamatan Ngoro.

Kedelai juga banyak dihasilkan di kebupaten ini. Selain untuk komoditi lokal, karena produksinya tidak besar pendistribusiannya hanya ke SKPP I di Jombang. Melalui industri rumahan makanan, di Desa Selorejo Kecamatan Mojowarno.

Tanaman Sayuran juga menjadi andalan dari kabupaten ini. Holtikultura yang ada di SKPP I Kabupaten Jombang adalah terong, cabai, kacang panjang, tomat, mentimun dan tanaman sayuran lainnya. Penghasil tanaman holtikultura diantaranya wilayah Kecamatan Ngoro dan Kecamatan Wonosalam. Setelah panen dijual ketengkulak kemudian didistribusikan ke pasar-pasar lokal. Untuk tanaman perkebunan, ada tebu di semua wilayah Kabupaten Jombang. Distribusinya ke PG. Cukir untuk diproses menjadi gula dan tetes.

Kemudian ada Kopi, di Kecamatan Wonosalam. Pemasarannya dalam bentuk biji kering yang sudah dikuliti dan dipoles untuk dijual ketengkulak. Kemudian dikirim ke Dampit Kabupaten Malang dan pabrik di luar SKPP I Jombang yaitu Lamongan dan Gresik. Untuk Cengkeh, ada di Kecamatan Bareng dan Kecamatan Wonosalam. Cengkeh digunakan untuk bahan dasar balsam, minyak kapak, bahan makanan dan campuran pembuatan rokok. Pendistribusian cengkeh banyak dilakukan oleh tengkulak yang kemudian dikirim ke industri-industri di Kabupaten Jombang dan keluar Kabupaten Jombang.

Termasuk Kakao, adalah bahan dasar pembuatan coklat, setelah panen kakao dikirim ke Surabaya, Trenggalek dan Nganjuk untuk bahan makanan. Termasuk Nilam, yakni berupa daun yang kemudian disuling. Pohon nilam banyak terdapat di Wonosalam. Setelah disuling di rumah-rumah penduduk kemudian dibawa ke Dampit, Malang. Kemudian ke Medan dan dikirim ke luar negeri untuk bahan baku pembuatan minyak wangi.

Di sektor perikanan, adalah ikan lele, tombro, nila dan Bawal. Bibit lele berasal dari Lamongan dan Gresik kemudian dibesarkan di Sukomulyo dan Mojowangi. Untuk nila, tombro dan bawal dijual ke pasar-pasar lokal Kabupaten Jombang serta digunakan untuk obyek kolam pemancingan yakni di Karanglo, Sukomulyo, Segaran dan Desa Mojojejer.

Peternakan, di antaranya ada sapi jenis Perez Limosin, Limosin dan sapi putih Jawa. Penjualannya dikirim ke luar yakni ke Mojokerto, Pare, Lamongan, Kediri selain untuk kebutuhan daging masyarakat lokal. Jenis sapi perah untuk penghasil susu
di Kandangan. Untuk Kambing Peranakan Etawa diambil dagingnya selain diambil susunya. Selain itu ada ayam Broiler untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat setempat. Untuk Itik, diambil daging dan telurnya dan dipasarkan di Mojowarno.

Sementara untuk hasil hutan, tepatnya di Kecamatan Wonosalam dan Bareng kini hanya sebagian kecil. Saat ini jenis kayu yang banyak diproduksi adalah kayu sengon laut yang dikirim ke industri kayu Plywood di Diwek. Dan untuk kayu mahoni, jati, duren dan pete dikirim ke Jombang.

Untuk sektor Industri adalah industri meubel home industry dikerjakan di rumah-rumah penduduk. Bahan baku kayu mahoni, jati dan sengon didatangkan dari luar Kabupaten Jombang. Untuk penjualan bergantung pada pemesanan, yakni untuk bangku untuk rumah, perkantoran. Daerah pemesan biasanya dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Kabupaten Jombang sendiri.

Industri penggilingan padi hanya skala kecil dan yang terbesar adalah UD. Sinar Terang di Kecamatan Ngoro yang sampai skala ekspor. Industri rokok ada di Kecamatan Ngoro skala penjualan masih lingkup lokal juga ke luar daerah Kabupaten Jombang. Industri pembuatan batu bata penjualannya di sekitar Jombang, selain itu juga menerima pesanan dari daerah lain. Industri pemecah pasir dan batu penjualannya di Kabupaten Jombang dan tergantung pesanan dari proyek.

Dipimpin Pasangan dari Golkar – PPP

Kabupaten Jombang yang saat ini dipimpin Bupati Nyono Suharli dari Partai Golkar dan Wakil Bupati Mundjidah Wahab dari PPP.
Saat ini, santer diberitakan saat pemilihan kepala daerah nanti akan muncul dua tokoh partai politik yang masing-masing punya kelebihan menggaet pendukung. Mereka adalah Mundjidah Wahab, dan Subaidi Mukhtar yang saat ini menjabat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jombang.

Mundjidah 68 tahun, adalah tokoh PPP, yang juga Ketua PC Muslimat NU. Putri KH Wahab Chasbullah itu, dalam sebuah acara Muslimat NU setempat sudah menyatakan kesiapan dirinya akan maju sebagai calon bupati di Pilkada Kabupaten Jombang 2018 mendatang.

“Usia memang tua, tapi kalau diberi kesehatan dan umur panjang saya siap maju lagi di pilkada,” kata Mundjidah Wahab saat itu, Senin (18/7/2017).

Kader NU lainnya yang juga akan maju di Pilkada Jombang adalah Subaidi Mukhtar. Lelaki itu tercatat sebagai Ketua DPC PKB Kabupaten Jombang. Meski partai menyiapkan sejumlah kader untuk maju di pilkada, namun pemilik sapaan Pak Sub itu menyatakan siap jika diberi amanah partai untuk maju sebagai bakal calon Bupati Jombang.

“Sebagai kader PKB saya siap ditugaskan di segala medan. DPC PKB Jombang, pasti akan mengambil peran penting dalam Pilkada 2018 mendatang,” ujar Subaidi Mukhtar dalam sebuah kesempatan.[]

1 KOMENTAR

  1. Judul dan isi terlalu jauh, dari peta kekuatan politik tlatah arek dan mataraman malah bahas jombang,pertanian,perkebunan dll.
    Mohon utk penulis di nusantara news agak difokuskan lagi, agar tulisannya lebih mengena dan tdk trlalu jauh melenceng.
    Terimakasih

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here