TNI Juga Pandai Menari Bahkan Pecahkan Rekor MURI, Begini Ceritanya

0
262
Sejumlah anggota TNI memperagakan atraksi tarian paraga di Lapangan Makodam XIV Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (6/6). Atraksi dalam rangka HUT ke-60 Kodam XIV Hasanuddin yang dimainkan sebanyak 1.200 anggota TNI tersebut berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan jumlah penari paraga terbanyak. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/kye/17

Nusantara.news, Jakarta – Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak selalu identik dengan kekerasan. Perang misalnya. Namun ternyata juga pandai menari yang identik dengan keindahan dan kelembutan.

Buktinya, tercatat 1.200 prajurit TNI dari kesatuan Kodam XIV Hasanuddin dengan lentur dan indah menampilkan tari paraga yang khas Sulawesi Selatan, pada Selasa (6/6) yang lalu. Tak mengherankan bila Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai pemecahan rekor untuk kategori penampilan Tari Paraga dengan peserta terbanyak.

Padahal aslinya, Tari Paraga dengan atraksi permainan sepak takraw ini dimainkan oleh enam orang berpakaian adat Passapu’. Tarian ini bukan saja memerlukan kelenturan tubuh penarinya, melainkan juga keterampilan dalam atraksi menendang bola yang terbuat dari rotan maupun aksi akrobatik sambil berdiri di atas pundak pemain lainnya.

Bola takraw di Sulsel lebih dikenal dengan nama bola raga, maka judul tariannya pun Tari Paraga. Para penari memainkan bola raga dengan kontruksi bola berpindah-pindah dari kaki ke kaki, merupakan aktualisasi a’rannu-rannu, atau kegiatan yang dilakukan di waktu senggang untuk bersenang-senang.

Kostum yang dikenakan oleh penari adalah pakaian adat Passapu’, yaitu paduan baju kantiu dan celana barocci sehingga terlihat rampak dan indah ketika ditonton.

Permainan dianggap selesai atau kalah apabila bola menyentuh ke tanah. Maka, para penari yang lihai mengatur irama permainan dan terampil dalam akrobat mengundang decak kagum penonton. Terlebih semua penari memiliki giliran menunjukkan kebolehannya dan harus saling kerja-sama.

Berdasarkan kepercayan setempat, bola takraw yang digunakan dalam Tari Paraga dianyam dengan bahan rotan hingga tiga lapis dengan falsafah “ampedecengngi makkatenning ri lempu’e, nasaba puangge passabakeng” yang berarti “berilah persangkaan baik dan keberpegangan pada kelurusan, karena Tuhan adalah segala sebab.”

Tercatat 1200 prajurit TNI memperagakan atraksi tarian paraga di Lapangan Makodam XIV Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (6/6).

Sebelum atraksi Tari Paraga disajikan, terlebih dahulu ada atraksi Ma’raga, bola takraw diangkat ke atas gentong yang penuh air, kemudian bola asli didekatkan ke air sehingga bayangan bola terlihat di atas permukaan air, bayangan bola itulah yang digunakan untuk atraksi.

Sebelumnya, tahun 1995, tarian ini pernah dipentaskan mengelilingi Lapangan Karebosi tanpa sekalipun bola takraw yang digunakan menyentuh tanah. Padahal atraksinya dengan tingkat kesulitan luar biasa karena diselingi atraksi assisoppo-soppo, atau atraksi bersusun dengan saling menaiki bahu penari saat menggulirkan bola dari kaki ke kaki.

Asal muasal Tari Paraga ini, mengutip catatan sejarah masyarakat setempat, diciptakan sebagai pengisi acara hiburan saat pelantikan Raja (Samba) di Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan. Berdasarkan cerita masyarakat setempat, konon bola pertama yang diturunkan dari langit terbuat dari emas (raga Bulaeng) dan ketika dimainkan berubah wujud menjadi rotan (raga raukang).

Penari Paraga, begitu penuturan masyarakat setempat, sebenarnya bukan enam orang. Melainkan tujuh orang. Tapi satu orang selebihnya adalah Tau manurung (orang yang turun dari khayangan). Namun usai atraksi itu Tahu manurung menghilang dan sejak itu diamanatkan penari Sepak Raga cukup enam orang saja. Hingga kini tarian itu tetap lestari di masyarakat Sulsel.

Sebagai upaya menjaga pelestarian budaya setempat, Kodam XIV Hasanuddin mengerahkan 1200 prajuritnya untuk menggelar Tari Paraga untuk memeriahkan hari lahirnya yang ke-60 tahun. Hadir dalam atraksi tarian massal itu, selain Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Agus SB, juga dihadiri Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Danlantamal VI Laksamana Pertama TNI Yusup, Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Gatot Eddy Pramono dan sejumlah pejabat lainnya.

“HUT Kodam Hasanuddin tanggal 1 Juni 2017 bertepatan dengan hari lahir Pancasila. Oleh karena itu, prajurit Pangdam Hasanuddin, pasti tidak akan mundur bagi siapa pun yang mau merubah Pancasila,” begitu sambutan Pangdam Agus SB saat membuka acara.

Rekor MURI sekaligus sebagai apresiasi bahwa prajurit TNI bukan saja pandai berperang dengan menggunakan alutsista yang ada, melainkan juga berkomitmen keras menjaga budaya dan adat istiadat nusantara.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here