Topeng Malangan: Bukan Sekedar Tontonan, Namun Juga Tuntunan

0
105
Topeng Malangan mengandung makna filosofi.

Nusantara.news, Kota Malang –  Topeng Malangan merupakan salah satu seni karya tradisional asli Malang ini masih tetap bertahan sampai saat sekarang. Namun sayangnya peminat yang mempelajari dan melestarikan kesenian ini masih minim, khususnya di kalangan muda-mudi. Berdasarkan beberapa catatan menyebutkan bahwa Topeng Malangan adalah sebuah kesenian kuno yang telah berusia ratusan tahun.

Pada masa dahulu Topeng Malangan ini diwujudkan dengan bentuk pertunjukan yaitu saat ada acara tertentu seperti pernikahan, selamatan, dan hiburan pejabat tinggi kala itu. Topeng Malangan memiliki ciri dan perbedaan dengan jenis topeng yang ada di Indonesia, coraknya pun khas dari pahatan kayu yang lebih realis serta menggambarkan karakter wajah seseorang.

Dalam agenda HUT Ke-103 Kota Malang, Nusantara.news mengunjungi stand Topeng Malangan, milik Djoko Rendy. Pihaknya membuka stand sebagai salah satu pegiat sekaligus pengrejain topeng malangan.

Djoko Rendy mengambil spesifik topeng malangan, karena menganggap topeng malangan adalah salah satu identitas jati diri Kota Malang, “Ini bukan sekedar tontonan saja, namun akan menjadi tuntunan dalam memahami karakter masyarakat Malang dahulu kala, pun juga dalam pemaknaannya Topeng Malangan ini termaktub falsafah-falsafah kehidupan,” ungkap dia ketika ditemui  Nusantara.news di sanggarnya, Minggu (16/4).

Ada falsafah yang khas dan menonjol dari Topeng Malangan, yang kemudian menjadi ciri tersendiri topeng. “Di Topeng Malangan terkuak filosofi yang menonjol, yakni adanya simbol mawar, matahari dan daun Lo. Kalau tidak ada ketiganya, itu bukan Topeng Malangan,” imbuh Djoko.

Ia pun menjelaskan secara detail pemaknaan simbol khas Topeng Malangan, “Matahari sebagai sumber dari segala sumber, dan mawar ia menyebut mewarno-warno yang melambangkan kemajemukan suatu masyarakatan. Daun Lo ini sebagai gangguan dan pemberi cobaan dengan masalah-masalah ada. Oleh karenanya, dalam kemajemukan, kerjasama atas perbedaan bisa menjadikan suatu kekuatan untuk bisa menyeleseikan suatu permasalahan,” jelas seniman berusia 60 tahun ini.

Ia mengambilkan salah satu model contoh topeng, yakni karakter Bapang “Karakter ini, merupakan seorang yang muda, pemberani, jujur dan sedikit ugal-ugalan,” jelas dia sambal menunjukan lekuk lukisan karakter wajah topeng dari Bapang.

Melihat kondisi kebudayaan Indonesia yang kian lama semakin tergerus, ia memberikan beberapa pandangan terkait penguatan budaya yang kita punya “Saya bukan anti terhadap budaya manca, kita juga tidak bisa menghakimi budaya tersebut. Namun diri kita yag harus tau siapa diri kita, jati diri kita, asal kita, identitas kita sebagai penguatan jati diri. Apabila kita tidak mengenal diri kita maka kita bahkan menjadi terasing dan tidak tahu akan jati diri kita sendiri,” jelasnya

Djoko menuturkan, harus ada sebuah langkah yang harus diambil yakni gerakan kebudayaan. Selama enam tahun ia mendidik kewirausahaan yang menonjolkan kebudayaan khususnya mengenalkan kembali Topeng Malangan “Kelompok belajar topeng, buku tulis topeng, roti topeng, bakso topeng, es topeng, dan semua beberapa produk saya berikan atribut dan branding topeng. Secara tidak langsung terselip  edukasi tersendiri,” jelas Djoko

Ia berharap tradisi seni topeng ini bisa dikenali sejak sedini mungkin “Saya memiliki sasaran ke anak-anak, agar esok mereka tidak tersesat akan jati diri dan budaya bangsanya sendiri, di Malang semua anak harus tahu dan kenal Topeng Malangan,” tutupnya[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here