TPP Pasca-AS Exit: Cina Akan Jadi Penguasa?

0
190

Nusantara.news, Jakarta¬†–¬†Cina telah menjadi raja dagang dunia (WTO), apakah juga akan menguasai TPP (Trans Pacific Partnership/Kemitraan Trans Pasifik) pasca-AS exit? Banyak kalangan menganggap Cina akan mendominasi, Australia menyediakan karpet merah untuk Cina, begitu juga dengan Singapura dan Filipina. Perkembangan terakhir, TPP bisa berlanjut, asal minimal 6 negara dari 12 negara anggota meratifikasi. Namun 6 negara tersebut harus merupakan 85% dari total PDB 12 negara tersebut. Jadi sulit diratifikasi, karena AS keluar dari TPP. Maka dari itu, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull menggandeng Cina untuk mengisi ruang kosong AS. Komitmen Australia, didukung Jepang, Singapura, Selandia Baru, Filipina, Kanada, Meksiko, Peru, Chili, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Mereka meragukan proteksionisme Amerika Serikat (AS) yang mengarah ke deglobalisasi karena proteksionisme bukan tangga untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, melainkan sekop untuk menggali lubang lebih dalam. Indonesia berpikir ulang bergabung TPP Iman Pambagyo, Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI sedang mengkaji dalam hal untung rugi yang akan diperoleh jika Indonesia bergabung di TPP pasca-AS keluar dari TPP. Trump Effect bak tsunami ekonomi, kita belum merasakan karena belum berdampak secara langsung. Sederhananya, ketika the Fed (sebelum Trump dilantik) menaikkan suku bunga, Dollar Amerika Serikat (USD) menguat atas mata uang beberapa negara, termasuk Cina yang tergerus devisanya untuk menstabilkan Yuan/RMB-nya. Belum lagi proteksionisme dengan ancaman Trump terhadap investasi food di Meksiko. General Motor (GM) yang mengimpor Chevrolet dari Meksiko terancam peningkatan tarif hingga 45%. Bahaya untuk kita, karena pemerintahan Joko Widodo saat ini sedang mesra-mesranya dengan Cina, sementara Trump sangat anti-Cina. Terlihat di Gedung Putih dibentuk Dewan Perdagangan Nasional sejajar dengan Keamanan Nasional dan Dewan Ekonomi Nasional, dimana Nasaro yang dikenal anti-Cina sebagai Ketua Pelaksana lembaga tersebut. Secara kawasan (geo-ekonomi) Asia sedang menjadi primadona karena 40% PDB dunia dimiliki oleh kawasan ini. Di atas kertas, Asia mampu bertahan dari Trump Effect, walaupun ekonomi dunia tahun 2017 menurut Bank Dunia, hanya akan tumbuh rata-rata 2,7%, sementara di tahun 2016 sebesar 3,1%. TPP yang semula dibentuk atas inisiatif AS menghadapi Cina, justru ditinggalkan pada era Trump. Ekspor Impor IndonesiaAmerika Serikat era Bush Junior, Obama, dan Trump Perdagangan di Kawasan Asia Pasifik dan Amerika Serikat Saat ini anggota-anggota TPP mewakili 40%¬† dari total PDB dunia. Dalam dua dekade berikutnya, diperkirakan sekitar 50% pertumbuhan dunia akan tercipta di kawasan Asia-Pasifik dengan sekitar satu miliar konsumen baru dari kelompok kelas menengah. TPP meliputi beberapa mitra perdagangan terbesar AS yaitu Kanada (peringkat pertama), Meksiko (ketiga), Jepang (keempat) dengan jumlah total nilai perdagangan mencapai 1,5 triliun USD untuk tahun 2012. Selain itu, pada tahun 2011, sekitar 83 miliar USD dalam bentuk investasi asing langsung atau FDI dari AS mengalir ke anggota-anggota TPP, sementara investasi asing langsung dari anggota-anggota TPP ke AS mencapai 61 miliar USD. Secara total, investasi langsung dari dan ke AS dengan negara-negara TPP telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 2002. Hingga tahun 2011, tercatat 843 miliar USD investasi langsung AS di negara-negara TPP, sedangkan investasi langsung negara-negara TPP di AS mencapai 596 miliar USD. Aktivitas EksporImpor

  • Tahun 2012, total produk perdagangan AS dengan negara-negara TPP mencapai lebih dari 1,5 triliun USD.
  • Tahun 2012 total ekspor barang-barang dari AS ke negara-negara TPP mencapai 689 miliar USD atau 45% dari total ekspor AS secara keseluruhan.
  • Tahun 2011, total perdagangan AS dengan mitra-mitra TPP mecapai lebih dari 242 miliar USD.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) telah gagal. Negosiasi formal di tahun 2005 tanpa kesepakatan apapun, sementara negosiasi informal terhenti pada tahun 2008. Hingga bulan Desember 2013 Putaran Doha di Bali yang sudah berusia sepuluh tahun tidak menghasilkan apa-apa. Indikasi adanya kesepakatan untuk meliberalisasi perdagangan di antara 153 negara-negara anggotanya juga tidak tampak. Kebijakan dan praktek yang mengatur dunia global hingga kini juga dianggap telah gagal. Krisis dunia pertama kali yang menghasilkan dasar-dasar dari liberalisasi pasar dan mobilitas arus modal justru mengarah pada deglobalisasi setelah Trump Effect dan peristiwa Brexit di Uni Eropa. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here