Tradisi Nusantara, Sumber Kekayaan Berkelanjutan

0
61
"Nusantara, negara besar yang memiliki lebih dari 700 suku, dan masing-masing etnis memiliki kultur, budaya dan kesenian tradisi spesifik. Seharusnya menjadi lahan subur bagi pegiat film, seni dan bidang lainnya, selain untuk melestarikan budaya nasional"

Nusantara.news, Surabaya – Sebagai negara besar yang memiliki lebih dari 700 suku, dan masing-masing etnis Nusantara ini memiliki kultur, budaya dan kesenian tradisi spesifik. Tentu, seharusnya menjadi lahan subur bagi pegiat film, seni serta bidang lainnya guna melestarikan khasanah budaya nasional. Menggali kekayaan tradisi sebagai sumber garapan, tentu sangat menjanjikan para kreator Indonesia, termasuk untuk mendapat ruang berkompetisi di kelas dunia.

Pemikiran positif itu akan disuguhkan kepada peserta seminar “Merayakan Seni Tradisi dalam Film Nasional” yang digelar di Hotel Garden Palace, Jalan Yos Sudarso, Surabaya guna ikut mewarnai dan meramaikan Hari Film Nasional, digelar pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, Sabtu (10/3/2018).

Sebagai kelanjutan acara, malam harinya digelar pementasan ludruk di Gedung Kebudayaan Balai Pemuda Surabaya oleh Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara, yang akan menyuguhkan lakon “Guruku Tersayang”, disutradarai oleh Meimura yang mengadaptasi naskah teater “Bui” karya Akhudiat. Format pertunjukkannya, memadukan seni ludruk dengan media film.

Program perayaan Hari Film Nasional 2018 ini dibesut bareng-bareng antara Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara bersama Docnet (Documentary Networking), Banyu Cindih Creative Banyuwangi serta Rumah Imaji Surabaya. Bertindak sebagai sponsor adalah Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Untuk tempat pertunjukkan ludruk film difasilitasi oleh Pemerintah Kota Surabaya. Sebanyak 250 undangan diberikan pada komunitas film, mahasiswa dan siswa sekolah kejuruan.

“Melalui momen ini kami ingin memberi referensi kreatif dan dinamis tentang perancangan dan pelaksanaan produksi film seni tradisi bagi komunitas dan pegiat film dokumenter Jawa Timur,” terang Vicky Hendri Kurniawan.

“Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara, yang akan menyuguhkan lakon “Guruku Tersayang”, disutradarai oleh Meimura yang mengadaptasi naskah teater “Bui” karya Akhudiat. Format pertunjukkannya, memadukan seni ludruk dengan media film”

Dia menyebut, seni selain merupakan tradisi juga merupakan sumber garapan film yang tidak akan habis. Sebagai pegiat film, Vicky Hendri telah menandai prestasinya sebagai sutradara film dokumenter yang beberapa karyanya berhasil mengail penghargaan. Satu di antaranya adalah film berjudul “Tledhek”, yang mendapat penghargaan khusus-penyutradaraan terbaik dari Denpasar Film Festival 2016 serta 5 Film Dokumenter Terbaik Apresiasi Film Indonesia 2016.

Dalam agenda seni itu, bertindak sebagai moderator Yuslifar “Ujang” M. Junus yang akan menengahi narasumber lainnya. Heru Purwanto yang menggunakan nama popular, Heirosay. Dari fotografer dia beralih ke sinematografi dan telah melahirkan banyak karya, di antaranya “The People of Ludruk” (2016). Karyanya yang bertajuk ‘Menunggu’ juga berhasil meraih sinematografi terbaik pada Festival Film Jawa Timur 2012.

Berdasar pengalamannya menggarap banyak film dokumenter berlatar seni tradisi, Heirosay akan menggugah para kaum muda untuk memproduksi film bertema seni tradisi. Dalam acara itu juga ikut ditayangkan karya-karya film berbasis seni tradisi yang diolah film maker Jawa Timur.

Ledhek, Wanita dan Peran Pentingnya

“Pengalamannya menggarap banyak film dokumenter berlatar seni tradisi, Heirosay akan menggugah para kaum muda untuk memproduksi film bertema seni tradisi”

Masyarakat Jawa dikenal memiliki segudang budaya seni, menceritakan adat istiadat sebuah daerah termasuk kekayaan alam wilayahnya. Budaya dan adat istiadat itu mengakar kuat dalam keseharian kehidupan. Misalnya, banyak dijumpai dalam berbagai ritus dan kebiasaan orang Jawa tak lupa menyelipkan unsur seni di dalamnya, dan itu menjadi corak khas sebuah daerah. Misalnya, salah satu bentuk kesenian Jawa yang sampai saat ini masih bertahan adalah Tayub. Kesenian ini tumbuh dan berkembang di beberapa daerah di Jawa, dan tiap daerah lekat dengan namanya masing-masing.

Misalnya, di daerah Purwodadi, Blora, dan Tuban di Jawa Timur dikenal dengan istilah Tayub. Di Banyumas, Jawa Tengah dikenal dengan istilah Lenggeran. Sementara di Tanah Pasundan dikenal dengan sebutan beken Jaipongan. Intinya, semua kegiatan seni itu menyuguhkan kelincahan wanita sebagai sosok penari dan sebagai objek utama hiburan.

Sementara, di era modernisasi ini, memang tak gampang membendung arus deras ancaman gerusan yang beresiko (semakin) punahnya tradisi kesenian Jawa. Termasuk, dialami kesenian tradisi seperti Tayub, di Jawa Timur. Namun, meski ancaman modernisasi yang juga melahirkan kesenian modern, para pelaku seni tradisional tak boleh pantang menyerah.

Keterbatasan sarana dan penunjang juga dukungan kepedulian dari pemerintah daerah juga pusat tak menyurutkan pelaku seni untuk terus berjuang melestarikannya. Termasuk anggapan minor sebagian masyarakat yang mencibir keberadaan wanita sebagai sebagai pelaku seni, yang memiliki peran penting.

Perlu disimak dan perlu diteruskan kepada generasi muda bahwa Tayub dan sejenisnya merupakan bagian seni hiburan selain dibutuhkan, wajib dilestarikan. Di dalamnya, selain unur seni pastinya juga menyitir pesan-pesan santun, berisi pesan tentang resiko jika melakukan hal yang salah dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Di dalam seni itu, tak kalah penting posisi pelaku seni peran oleh wanita, di dalam Tayub, Ledhek, Ronggeng atau Lengger. Keberadaan mereka, para penari wanita juga harus dikampanyekan agar tidak dipandang minor apalagi dinilai tidak terhormat, sebagai ikon pelacur.

Mengadili para pelaku seni, terutama khas Jawa harus diakhiri, sebaliknya perlu didukung karena mereka adalah pejuang pelestari seni. Tidak sedikit keberadaan mereka yang terabaikan oleh berbagai bentuk kepedulian, bantuan dan sumbangan apresiasi. Sebenarnya miris jika menelusuri para pelaku seni khas tradisional banyak yang hidup serba berkekurangan. Jika tidak ada jadwal pertunjukkan, tak jarang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka harus mengutang. Bahkan, menjadi kuli bangunan atau melakukan pekerjaan kasar lainnya, untuk mendapat penghasilan. Itu, bisa dijumpai di Surabaya, pelaku seni di Kota Pahlawan itu tak menampik hal itu harus dilakukan untuk menyambung hidup.

Sawer dan Penari Wanita

Penilaian yang kemudian melahirkan stempel negatif, tidak dipungkiri muncul karena budaya dan tradisi sawer, yakni menyelipkan uang kertas kepada penari. Namun, pengadilan sepihak itu harus bersama-sama dimentahkan, karena hiburan tidak bisa lepas dari penonton (penikmat) yang juga harus diberikan kepuasan. Misalnya Nyawer saat ngibing atau ikut melenggang adalah bagian dari seni pertunjukan yang dilakukan penonton laki-laki.

Mereka merogoh saku menyelipkan uang kertas ke penari wanita, sebagai tanda apresiasi. Salahkan itu, tentu tidak, baik yang dilakukan oleh si penyawer atau penari. Meski tak dipungkiri, si pengibing disengaja atau tidak tindakannya mendapat penilaian negatif, dinilai tidak sopan kepada si lelaki memberi uang kertas, yang terkadang di selipkan ke bagian tubuh penari wanita.

Tak dipungkiri, pemandangan itu masih bisa dijumpai di sejumlah daerah, misalnya di Blora. Wanita bagai magnet bagi para penikmat seni tradisional, termasuk juga Tayub. Namun, pengadilan negatif untuk wanita tidak perlu dilanggengkan sebagai objek pertunjukan atau penghibur yang bisa diperlakukan tidak baik.

Adegan menyerempet seksualitas juga harus mendapat perhatian serius semua pihak, harus ditinggal, tidak dipertontonkan. Selain laki-lakinya, penari wanita juga bisa memperbaiki citra diri, tidak seronok dan mengumbar syahwat. Agar harkat dan martabat penari wanita serta keluhuran seni tradisional tidak luntur, terjaga dan lestari.

Penonton juga harus memperbaiki perilaku dan sikap. Mereka juga harus memegang norma susila dan mampu membedakan yang baik dan tidak. Mampu menempatkan atau menilai wanita sebagai pelaku seni peran yang harus dihormati, ditempatkan di posisi seharusnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here