Tradisi PDI-P Bisa Bikin Gus Ipul Menangis

0
190
Megawati Soekarnoputri didampingi Abdullah Azwar Anas (kanan) dan Tri Rismaharini, sementara Saifullah Yusuf berada di belakang.

Nusantara.news, Surabaya – Dalam tradisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), tidak pernah sekalipun pemilihan Gubernur Jawa Timur mengusung calon dari luar kader. Dalam dua kali Pilgub Jatim, sejak 2008 hingga 2013, PDI-P selalu mengusung calon sendiri.

Pada Pilgub 2008 mengacu hasil pemilihan legislatif 2004 dan aturan main politik yang ada, Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur telah menetapkan lima pasangan calon yang akan berkompetisi dalam pemilihan Gubernur Jatim 2008.

Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) diusung PPP dan parpol-parpol kecil, seperti PPNUI, PNI-Marhaen, Partai Merdeka, Partai Pelopor, PIB, PNBK, PKPI, PBR, PDS, PKPB, dan Partai Patriot.

PDI-P kala itu sangat pede mengusung calon sendiri yakni Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR) dengan ditopang ormas Kosgoro 1957 yang menjadi underbouw Partai Golkar. Kemudian pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam) diusung Partai Golkar. Lalu ada Achmady-Soehartono (Achsan) menggunakan kendaraan politik tunggal PKB paling besar. Pasangan terakhir Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) diusung Partai Demokrat, PAN, dan PKS.

Dalam Pilgub Jatim 2008, suara jagoan PDI-P terhempas. Memang tidak ada pasangan calon yang memperoleh suara lebih dari 30 persen. Sesuai pasal 107 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang No 32/2004 menyebutkan, apabila tidak ada pasangan calon kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 30 persen dari jumlah suara sah, dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua. Bahkan pasangan Sutjipto-Ridwan Hisjam tidak lolos di putaran kedua. Pilgub Jatim 2008 akhirnya dimenangi pasangan Karsa.

Pilkada Jatim 2008 saat itu adalah Pilkada paling lama se-Indonesia yang menguras energi. Dan sejarah kembali terulang pada pemilihan Gubernur Jawa Timur 2013 periode 2013–2018. Ada empat pasang kandidat, yaitu pasangan petahana Soekarwo/Saifullah Yusuf yang diusung oleh Partai Demokrat, Partai Golkar, PAN, PKS, PPP, Partai Hanura, Partai Gerindra, PKNU, PDS, PBR dan 22 partai politik non-parlemen. Khofifah Indar Parawansa/Herman Surjadi Sumawiredja saat itu diusung PKB dan 5 partai politik non-parlemen. Ada juga pasangan Eggi Sudjana/Muhammad Sihat yang maju dari jalur independen.

Untuk PDI-P, lagi-lagi mengusung calon sendiri yakni Bambang Dwi Hartono/Said Abdullah. Dan untuk kedua kalinya, PDI-P gagal alias hanya mendapat 12 persen suara. Pilgub Jatim 2013 kembali dimenangi pasangan Karsa, kendati diwarnai sejumlah dugaan kecurangan.

Memasuki Pilgub Jatim 2018, PDI-P tampaknya tidak mau mengulangi kesalahan, yakni jatuh di lubang yang sama untuk ketiga kalinya. Meski demikian, PDI-P kemungkinan akan tetap menggunakan tradisi yang sudah-sudah, yakni memilih calon dari kader sendiri. Wajar-wajar saja sikap PDI-P seperti itu, sebab sebagai partai yang kini berkuasa di pemerintahan, egosentrik dan komitmen PDI-P terbilang kuat.

Calon seperti Gus Ipul yang selalu merasa jumawa dipilih PDI-P, bisa dibikin ‘menangis’. Yang perlu diingat, PDI-P jangan dikira hopeless. Sebab kader-kader potensial PDI-P cukup banyak. Sebut saja Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, yang kini punya sisa waktu kurang dari sebulan lagi, sebelum lengser dari kursi kepemimpinannya digantikan Gubernur Terpilih Anies Baswedan. Djarot akan melepaskan jabatannya pada bulan Oktober 2017.

Beragam spekulasi pun muncul. Djarot digadang-gadang PDI-P maju Pilgub Jatim 2018. Benarkah? “Hehe, enggak ada. Enggak ada ke sana. Selesaikan Jakarta dulu. Kamu tanya saja sama yang sudah pasti mau yah. Hehe,” jawab Djarot di Balai Kota, Jakarta, Selasa (19/9/2017).

Setelah lengser, Djarot memang mengaku belum memikirkan rencana selanjutnya. Dia masih fokus untuk beberapa PR tersisa, sebelum habis masa tugas Oktober. Tak hanya enggan menjelaskan soal kelanjutan karir, Djarot juga enggan membicarakan soal liburan setelah melepas jabatan gubernur. “Mau selesaikan Jakarta dulu saja,” kata Djarot singkat.

Namun dia juga tidak bisa menolak jika DPP PDI-P sudah memutuskan. “Kalau dicalonkan dan diputuskan DPP, ya tidak bisa menolak,” ujarnya.

Di sini posisi Djarot sangat diuntungkan. Sebab, dia telah mengikuti gelaran Pilkada DKI Jakarta cukup sengit bersama gubernur terdahulu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Kondisi sosial dan situasi politik antara DKI Jakarta dan Jawa Timur tidak jauh berbeda. Apalagi hiruk pikuk kontestasi politiknya melebihi batas kenormalan.

Soal popularitas dan elektabilitas, tentu Djarot tidak diragukan lagi. Di internal PDI-P sudah ada penilaian terhadap mantan Wali Kota Blitar tersebut. Ada anggapan Djarot memiliki ikatan batin dengan warga Jawa Timur karena sempat memimpin Blitar selama dua periode. Namun bukan berarti Djarot menjadi yang terkuat di internal PDIP. Karena semua masih dalam tahap penjaringan.

DPP PDI-P saat ini memang masih bungkam soal siapa calon yang diusung termasuk partai yang akan menjadi mitra koalisi. Hanya saja Sekjen DPP PDIP Hasto Kristyanto mengaku pembicaraan partai mengenai Pilgub Jatim belum final. Terutama sosok yang akan diusung nanti. Menurutnya, calon PDI-P masih dalam pembahasan. Hasto menegaskan, Pilgub Jatim 2018 adalah pemilunya rakyat. Karena itu, PDI-P perlu mendengar masukan dari rakyat. Jadi bukan hanya masukan dari para kiai sepuh saja.

Baca juga: Minta Saran Kiai Sepuh, Megawati Takut Kalah (Lagi)

Bagi Hasto, keputusan calon yang diusung di Jawa Timur ini sangat penting. Karenanya, PDI partainya akan melibatkan berbagai tokoh sebelum mengambil keputusan. “Yang paling penting adalah aspirasi dari rakyat,” pungkasnya.

Selain Djarot, ada dua sosok yang menjadi sorotan publik Jatim dan nasional. Publik juga menginginkan mereka untuk menjadi pemimpin karena prestasi dan kompetensi yang mumpuni dalam pemerintahan.

Dua sosok itu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Bicara soal Risma, jelas Surabaya yang menjadi acuannya karena prestasi dan programnya yang sudah berjalan bisa menjadikan Surabaya, kota yang superior dalam berbagai hal. Bahkan sempat beredar gosip akan dijadikan menteri di Kabinet Jokowi juga ternyata cuma sebatas angin kentut yang sebentar terasa lalu hilang.

Bahkan belum lama ini Risma kembali mengharumkan nama Surabaya di kancah internasional. Kota Pahlawan kembali mendapatkan apresiasi positif dari dunia. Surabaya menjadi satu dari 16 kota di dunia yang mendapatkan UNESCO Learning City Award di tahun 2017 ini. Dan Indonesia baru pertama kali mendapatkan penghargaan ini. Penghargaan tersebut diterima Risma di Cork, Rep. Irlandia, Senin (18/9/2017) di sela-sela International Conference on Learning Cities (ICLC) ke-2 yang berlangsung 15-21 September 2017.

Ke-16 pemenang UNESCO Learning City Award dipilih oleh dewan juri internasional karena kemajuan luar biasa yang dicapai dalam mempromosikan pendidikan dan kehidupan seumur hidup. Kota-kota ini dinilai telah berada pada tahap yang berbeda untuk berkembang menjadi kota belajar. Kesemuanya menghadapi tantangan baik ekonomi, politik, sosial atau lingkungan yang spesifik untuk masing-masing wilayah dan telah berhasil menentukan pendekatan yang diadopsi. Khusus untuk Surabaya, kota yang tahun 2016 lalu jadi tuan rumah Prepcom Habitat III ini dinilai telah mempromosikan ‘helix approach’ (pendekatan helix), yang mencakup keterlibatan semua pemangku kepentingan untuk memastikan upaya meningkatkan kesempatan belajar dan memprioritaskan kepentingan masyarakat.

Keberhasilan Risma dalam memimpin Surabaya itulah yang dijadikan acuan bagi PDI-P untuk memimpin Jawa Timur. Meski sudah ada statement dari Risma untuk tidak akan mencalonkan lagi, tetapi namanya juga politik kejutan pasti ada.

Baca juga: Sinyal PDIP Majukan Tri Rismaharini di Pilgub Jatim Kembali Menguat

Apalagi melihat kedekatan Risma dan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri selama ini, sangat memungkinkan PDI-P mencalonkan Risma di Pilgub Jatim, meski belum mendaftarkan diri sebagai bakal calon. Risma sendiri dikenal sebagai ‘anak emas’ Megawati. Apalagi dalam hirarki PDI-P, semua kader yang sudah ditunjuk partai, tidak bisa menolak, termasuk jika Risma nantinya ditunjuk. Jadi tunggu saja tanggal mainnya.

Sementara kapasitas koleganya Azwar Anas juga tidak bisa dianggap remeh. Dia mampu mengangkat Banyuwangi ke level yang lebih tinggi lagi bahkan menjadi lebih terlihat oleh mata nasional dan dunia. Meski pamor Anas di beberapa kota kurang terpublikasi, tapi secara gaya kepemimpiannya yang santai dan tidak menggebu-gebu sepertinya bakal menjadi referensi baru bagi pemilih untuk menjadikannya sebagai pendamping atau second line dari banyak calon gubernur.

Hasil riset lembaga yang melakukan survei preferensi kiai dalam Pilkada Jatim 2018 2018 menyebut nama Azwar Anas sebagai cawagub potensial Jatim. Nama mantan politisi senayan itu meraup skor tertinggi dengan perolehan 27,9 persen, mengungguli sejumlah nama yang muncul seperti Risma dengan 21,3 persen, politisi Nasdem Hasan Aminudin dengan 9,8 persen, dan Ketua DPRD Jatim Halim Iskandar dengan perolehan 14,8 persen. Pertimbangan memilih figur kata Direktur Polltrend Education and Research, Khoirul Yahya, berdasarkan survei atas pertimbangan 3 hal. Pertimbangan tertinggi karena kualitas calon sebesar 16,3 persen, ketokohan 15 persen, dan program yang ditawarkan 14,4 persen. “Prosentase sisanya karena fatwa organisasi keagamaan, putra daerah, hingga ikut pilihan sesepuh,” katanya.

Survei tersebut memotret 61 kiai yang tersebar di empat wilayah kultur di Jatim yakni Pendalungan, Arek, Madura, dan Mataraman. Ke-61 kiai tersebut dipilih melalui FGD, dan dikategorisasi menurut pengertian Profesor Riset LIPI, Endang Turmudi.

Ada 4 tipologi kiai di Jatim yakni kiai panggung, kiai pesantren, kiai politik, dan kiai tarekat. Responden kiai dipilih karena figur kiai di Jatim masih menjadi referensi politik dan sumber opini bagi masyarakat Jatim yang merupakan basis pesantren. “Sekitar 70 persen masyarakat Jatim terafiliasi atau merasa dirinya warga NU. Jadi penting untuk mengetahui sikap para kiai sebagai pembentuk opini warga,” ujar Endang.

Selain Abdullah Azwar Anas, nama-nama yang mengemuka sebagai Cawagub Jatim di Pilkada tahun depan antara lain, Bupati Ngawi Budi Sulistyono (kader PDI-P) dan Ketua DPD PDI-P Jatim, Kusnadi.

Bertaburannya ‘pemain-pemain’ ini di Jawa Timur, sebenarnya tidak membuat PDI-P kebingungan untuk memilih satu di antara mereka. PDI-P pasti sudah menyiapkan orang untuk dijadikan kandidat. Hanya saja karakteristik PDI-P dalam menggodok orang yang akan dicalonkan membutuhkan waktu lama.

Bahkan ada kemungkinan PDI-P akan mengajukan calon gubernur dan wakil gubernur dari kader sendiri. Mengingat kandidat dari para kader PDI-P memiliki elektabilitas cukup tinggi. Dan, Megawati pasti memiliki pertimbangan tersendiri. Hanya saja dia masih belum mau membicarakan Pilkada Jawa Timur. Yang jelas siapa calon PDI-P namanya sudah ada di tangan Megawati.

Gerindra Tidak Pilih Khofifah

Partai Gerakan Indonesia Raya kemungkinan tidak akan mengusung Khofifah sebagai calon gubernur di Pilgub Jatim 2018. Sebab, antara Gus Ipul dan Khofifah (siapa yang menang) tidak punya komitmen memenangkan Prabowo pada Pilpres 2019.

Direktur Indonesia Development Monitorong Bidang Kajian Politik dan Sosial, Bin Firman Tresnadi menyebut, dari 171 daerah yang mengikuti Pilkada serentak 2018, ada 17 Provinsi akan melakukan Pemilihan Gubernur termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nah, ketiga provinsi inilah yang memiliki pemilih terbanyak saat Pilpres sehingga ketiga daerah mendapat sorotan lebih di luar provinsi lainnya yang juga turut menyelenggarakan pemilihan gubernur.

Seperti diketahui dalam Pilpres 2014, Prabowo hanya menang di Jawa Barat. Sementara di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi basis kekuatan kemenangan Joko Widodo. “Tentu saja Pilgub di tiga provinsi di pulau Jawa terkait tokoh yang akan diusung oleh PDI-P dan Gerindra akan punya pengaruh besar dalam Pilpres 2019 terhadap Capres dari PDI-P dan Gerindra,” tambahnya.

Peta suara di Jawa Tengah dan Jawa Barat sudah bisa diprediksi. Jawa Tengah menjadi kandang banteng. Di sini simpatisan PDI-P dan Joko Widodo sangat militan. Sementara Jawa Barat lebih didominasi oleh Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019. Yang harus diperhatikan oleh kedua kubu (Joko Widodo dan Prabowo) adalah Pilgub di Jawa Timur. Sebab di Jawa Timur Prabowo tidak terlalu kuat,  jauh dari Joko Widodo saat Pilpres 2014. “Jadi medan pertarungan sesungguhnya ada di daerah ini,” paparnya.

Peta politik saat ini, PDI-P dan PKB sebagai partai pendukung Jokowi akan mengusung Gus Ipul, sedangkan PPP, Hanura, Nasdem dan Golkar bakal mengusung Khofifah. Sementara Gerindra, Partai Demokrat, PAN dan PKS belum terlihat mengusung keduanya. Karena itu diprediksi Gerindra tidak akan mendukung Gus Ipul ataupun Khofifah karena kedua tokoh itu tidak memiliki komitmen kuat untuk menyukseskan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019.

“Jelas kedua tokoh ini ada di kubu partai yang mendukung Jokowi. Bisa jadi keduanya sengaja akan dibuat head to head karena siapapun yang menang tetap pro Jokowi pada  Pilpres 2019,” sebutnya.

Untuk itu Tresnadi menyarankan, Partai Gerindra untuk mendukung pihak yang telah menunjukkan komitmen kepada Prabowo. Dari para kontestan, menurutnya La Nyalla dianggap memenuhi kriteria. Hal itu berdasarkan sepak terjangnya pada Pilpres 2014 yang menjadi ketua Tim pemenangan Prabowo-Hatta.

Sebaliknya, jika Gerindra mendukung Gus Ipul atau Khofifah justru akan menimbulkan kerugian bagi pencalonan Prabowo di Pilpres 2019 nanti. Apalagi Pilgub Jawa Timur diadakan di awal tahun-tahun politik yang merupakan saatnya tahun politik mulai memanas.

Jika Gerindra tetap mendukung kandidat yang tidak sevisi dengan Prabowo, maka mesin Partai Gerindra tidak akan bergerak, karena tidak mungkin mau kader Gerindra yang militan mendukung calon dari PDI-P dan menterinya Jokowi. “Nah jika ingin terjadi konsolidasi yang ideal dan masif terhadap Gerindra dan Prabowo Subianto sebagai Capres 2019 untuk mengalahkan Jokowi di Jawa Timur sebaiknya Gerindra mengusung calon gubernur yang berkomitmen memenangkan Prabowo,” pungkasnya.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here