Tragedi Asmat, Negara ini Keterlaluan!

0
367

TRAGEDI di Asmat. Tidak ada kata lain menyebut kenyataan itu, selain “tragedi”. Atau jika ada kata yang bisa menggambarkan lebih buruk dari tragedi, itulah kata yang tepat. Bayangkan, 63 anak-anak di Asmat meninggal karena gizi buruk dan wabah campak.

Dan, negara ini sungguh keterlaluan! Tentu tak mungkin kita menggunakan “animal vocabulary” di rubrik ini untuk mengganti kata “keterlaluan” itu. Tetapi, memang itulah yang terjadi.

Sebab jika malapetaka kemanusiaan di Asmat disebabkan oleh hanya wabah campak, mungkin tak layak kita meradang. Dalam ilmu epidemiologi, wabah disebabkan banyak faktor, yang biasa disebut host, agent dan environment. Host adalah kondisi tempat berjangkitnya wabah, seperti daya tahan tubuh dan sebagainya. Agent, baik primer maupun sekunder, adalah faktor pembawa wabah, misalnya virus, reaksi kimia dan sejenisnya. Serta environment, kondisi lingkungan, kebiasaan hidup dan lain-lain.

Negara maju pun tak kebal dari wabah. Singapura pernah terkena “Flu Singapura”, atau Australia baru saja terjangkiti “Flu Australia”. Hongkong juga pernah dihantam Flu Burung, yang kemudian menyebar ke banyak negara.

Tapi, gizi buruk? Itu pasti kejadian yang berlangsung lama. Tidak ada orang meninggal dalam tempo cepat hanya karena kekurangan makan.

Artinya apa? Di Asmat ini sesungguhnya telah terjadi pembiaran oleh pemerintah. Sehingga 63 anak, harapan Tanah Papua untuk masa depan, meregang nyawa karena pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, abai dari tanggungjawab mereka.

Pemprov Papua mengaku kaget dengan kejadian itu. Pernyataan itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Papua pada 15 Januari 2018. Presiden Joko Widodo juga sudah mengirim unit kesehatan TNI ke sana untuk membantu mengatasi keadaan. “Tapi medan ke sana memang sangat sulit,” kata Presiden seusai meresmikan renovasi Gelora Bung Karno di Jakarta, 14 Januari 2018.

Bagaimana kita mengartikan respon para pejabat ini  baru terlontar kemarin, sementara wabah itu sudah berjangkit sejak September tahun lalu? Bagaimana kita memahami alasan medan yang sulit, sehingga penanganan korban terhambat?

TNI dikirim ke sana, okelah, itu baik belaka. Tapi, menjadi pertanyaan kita, kenapa aparat TNI di sana tidak mengetahui puluhan anak mati kelaparan?! Padahal penciuman tajam TNI selama ini bisa mendeteksi gerak-gerik separatis yang bersembunyi di kegelapan belantara Papua.

Ini menunjukkan dengan gamblang betapa kita abai terhadap masalah kemanusiaan yang dihadapi anak-anak negeri sendiri. Ini juga mempertontonkan kacaunya koordinasi antarlembaga pemerintah. Ini pun membuka kenyataan buruknya penentuan skala prioritas di pemerintah.

Bagaimana tidak?!

Indonesia dengan gagah berani mengirim puluhan ton makanan untuk etnis Rohingya yang mengungsi di Bangladesh atau di Rakhine, Myanmar. Indonesia juga setia mengirim bantuan ke Palestina. Tahun lalu Indonesia menghibahkan Rp20 miliar untuk Rumah Sakit Al-Shifa di  Gaza. Tahun sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informasi menyebutkan, pemerintah  telah menyalurkan bantuan  US$1 juta kepada Palestina. Tahun ini, menurut Menlu Retno Marsudi, pemerintah Indonesia berencana meningkatkan bantuan kesehatan untuk penduduk Palestina, termasuk penyediaan air bersih.

Padahal, mengirim bantuan ke Palestina juga tak mudah karena blokade Israel. Mengantarkan bahan makanan ke orang-orang Rohingya juga sulit, karena akses tak dibuka oleh rezim militer Myanmar.

Tapi, toh, hambatan itu berhasil ditembus. Lalu mengapa mengirim bantuan ke Asmat, di wilayah negara kita sendiri dan untuk anak-anak kita sendiri, pemerintah mengeluhkan akses yang sulit? Di mana logika berpikirnya?

Jika menggunakan terminologi dalam hukum Islam, bantuan untuk Palestina atau Rakhine itu kategorinya sunnah. Bagus jika dikerjakan, tapi tak mengapa kalau ditinggalkan. Paling banter kategorinya sunnah muakkad, sunnah yang diutamakan. Sedangkan membantu anak-anak kita di Asmat, wajib hukumnya. Sangat aneh, jika pemerintah mendahulukan yang sunnah daripada yang wajib.

Masyarakat kita pun harus mengoreksi diri. Coba saja lihat, berapa banyak organisasi kemanusiaan yang menghimpun dana bantuan masyarakat untuk disalurkan ke berbagai tragedi kemanusiaan di luar negeri. Sekali lagi itu sungguh mulia. Tapi, sangat keliru, jika bencana di dalam negeri tersingkirkan dari perhatian.

Coba juga perhatikan, berapa banyak orang kita yang menjadi relawan ke negara-negara konflik itu? Tapi berapa orang yang gegap gempita menyatakan hendak menjadi relawan ke daerah kita sendiri?

Apapun, kejadian di Asmat ini tragedi bagi rasa kemanusiaan dan kebangsaan kita.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here