Tragedi Danau Toba, Ironi Negara Maritim

0
73

Nusantara.news, Jakarta – Tragedi Danau Toba harus disebut sebagai ironi negara maritim. Sebab, jumlah moda angkutan yang sekarang diklasifikasi sebagai Angkutan Sungai Danau dan Angkutan Penyeberangan (ASDP) ini merupakan moda angkutan utama di Indonesia sebelum ada moda angkutan darat, laut dan  udara. Sampai saat ini, jumlahnya masih sangat banyak, tersebar di seluruh pulau di Indonesia. Tetapi upaya untuk memodernisasinya jauh ketinggalan ketimbang modernisasi moda angkutan lain terutama darat dan udara. Jika tidak ada modernisasi, sangat terbuka kemungkinan akan terjadi tragedi yang sama di daerah lain.

Kecelakaan Lagi

Sampai hari Sabtu (23/6/2018), Kapal Sinar Bangun yang terbalik dan tenggelam di Danau Toba, Senin (18/6/2018) belum juga ditemukan. Sebanyak 192 orang yang dilaporkan hilang, masih belum ditemukan.

Pada Jumat (22/6/2018) kecelakaan kapal kembali terjadi di danau yang sama. Kali ini korbannya adalah Kapal Kayu KM Ramos Risma Marisi. Kapal ini diterjang badai setelah selesai mengantar penumpang dari Pulau Sibandang menuju dermaga Pelabuhan Nainggolan.

Beruntung Penyelam Tim Search and Rescue (SAR) berhasil menemukan jassad korban dalam kondisi meninggal dunia tidak jauh dari lokasi kejadian. Koordinator SAR Danau Toba, Torang M Hutahaean mengatakan mayat korban ditemukan dengan posisi mengambang di kedalaman 10 meter.

Kemampuan menemukan korban Kapal Ramos Risma Marisi secara cepat sekaligus memicu pertanyaan, mengapa Kapal Sinar Bangun belum juga ditemukan?

Perairan Danau Toba memang besar, luasnya mencapai 1.130 km persegi, atau hampir dua kali luas Kota Jakarta yang mencapai 661,5 km persegi, atau sekitar satu setengah kali luas negara Singapura yang hanya 719,9 km persegi.

Tetapi sudah barang tentu, penyelam tidak harus menyusuri seluruh perairan, melainkan cukup di sekitar lokasi tenggelamnya kapal, sebagaimana Tim Search and Rescue (SAR) menemukan korban berhasil menemukan korban Kapal Ramos Risma Marisi di sekitar tenggelamnya kapal.

Koordinat yang diperkirakan menjadi lokasi tenggelamnya kapal Sinar Bangun sudah diketahui. “Bujur dan lintangnya sudah diketahui,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Utara Riyadil Akhir Lubis.

Koordinatnya diperkirakan pada 020 46 ‘00’’N.098048’,00E. Koordinat itu berada antara Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dan Desa Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, Sumut.

Multibeam Side Scan Sonar

Mengapa setelah koordinat diketahui bangkai kapal tak juga ditemukan?

Sementara orang percaya dengan mitos kemarahan ikan mas yang ramai dibicarakan belakangan ini. Cerita itu berawal dari adanya warga yang mendapatkan ikan mas berukuran raksasa seberat 13,5 kilogram saat mancing di Danau Toba. Ikan itu dipancing hanya berselang satu jam sebelum kapal tenggelam atau sekira pukul 16.00 WIB.

Para orang tua dikhabarkan sudah memperingatkan pemancing agar mengembalikan ikan mas itu ke danau. Tetapi sipemancing menolak dan dengan bangga membawa ke rumah kemudian mungkin menggorengnya.

Kemarahan ikan mas itu diunggah Rismon Sirait dalam akun facebook pribadinya. Rismon menyebut, ikan mas seberat 13,5 kilogram menjadi salah satu petanda terjadinya peristiwa kecelakaan Kapal Sinar Bangun.

Masyarakat Toba Samosir memang mengenal mitos ikan mas sebagai awal terbentuknya Danau Toba. Dalam mitos itu diceritakan sosok seorang pemuda bernama Toba yang mendapatkan ikan mas, yang ternyata adalah seorang putri cantik.

Toba yang ingin menikahi sang putri cantik mendapat satu syarat khusus, Toba diminta merahasiakan sosok asli sang putri cantik.

Usai keduanya menikah, lahir bocah bernama Samosir. Setelah kelahiran bocah Samosir, Toba mengingkari syarat dari sang putri cantik. Sang putri cantik murka, dan memunculkan Danau (Toba) dan pegunungan kecil (Pulau Samosir).

Mitos ini patah oleh pendekatan ilmiah yang menyimpulkan Danau Toba terjadi akibat letusan gunung berapi super (Gunung Toba) sekitar 73.000-75.000 tahun lalu.

Sulitnya mencari bangkai kapal, lebih karena kondisi Danau Toba yang memiliki sejumlah perbedaan dibanding danau lain yang ada di dunia.

Danau seluas 1.130 km persegi ini merupakan danau terbesar di Asia Tenggara dan terbesar kedua di dunia setelah Danau Victoria di Afrika.

Danau Toba juga tercatat sebagai danau terdalam di dunia dengan kedalaman sekitar 450 meter.

Kelebihan lain adalah ketinggian Danau Toba yang berada 900 meter di atas permukaan laut. Itu sebabnya, Sungai Asahan yang airnya berasal dari Danau Toba kemudian diolah menjadi pembangkit listrik tenaga air PLTA Sigura-gura.

Sungai Asahan ini pula yang menjadi saluran air Danau Toba mengalir sepanjang 147 kilometer sampai ke Teluk Nibung, Selat Malaka.

Kedalaman Danau Toba yang mencapai sekitar 450 meter (ada yang menyebut 1.600 meter), tampaknya menjadi penyebab utama mengapa Kapal Sinar Bangun belum ditemukan. Dengan kedalaman seperti itu memang tidak mungkin mengandalkan penyelam. Sebab, penyelam akan mengalami kesulitan ketika berada sekitar 20 meter di bawah permukaan air.

Jarak pandang di dalam air sangat terbatas ketika penyelam masuk mencapai kedalaman 20 meter di bawah permukaan air. “Pandangan menjadi nol saat mencapai 20 meter,” ujar Direktur Ditpolair Polda Kaltim Kombes Pol Sukadji saat menurunkan empat penyelam untuk mencari korban insiden robohnya jembatan Kutai Kartanegara, Nopember 2011. ‘

Hanya delapan (atau mungkin sembilan) orang saja yang diketahui pernah menyelam di bawah kedalaman 800 kaki (240 meter) pada alat pernapasan mandiri recreationally. Jumlah itu lebih sedikit dibanding jumlah orang yang telah berjalan di permukaan bulan.

Menyelam sampai kedalaman 240 meter sangat luar biasa karena pada kedalaman 218 meter saja penyelam akan mengalami sindrom toksisitas oksigen atau keracunan oksigen.

Kini, tepatnya mulai Sabtu (23/6/2018), Basarnas menurunkan alat canggih. Kepala Basarnas Marsekal Muda M Syaugi mengatakan, TNI AL menurunkan 10 personel Denjaka, 12 personel Taifib 12, dan 10 personel Kopaska. Tim penyelam ini dibantu alat canggih Multibeam Side Scan Sonar atau pemindai bawah air yang bisa menjangkau kedalaman hingga 2 ribu meter.

“Harapan saya dengan alat yang baru bisa melihat posisi kapal di mana. Kalau kedalaman Danau Toba tidak lebih dari 2 ribu meter pasti bisa,” kata Syaugi.

Alat canggih berupa Multibeam Side Scan Sonar akan mengakhiri kesibukan pencarian Kapal Sinar Bangun. Memang, tidak tertutup kemungkinan, semua atau sejumlah korban sudah terpisah jauh dari bangkai kapal karena pergerakan air danau. Tetapi dengan peralatan canggih lain, korban yang terpisah jauh dari bangkai kapal diharapkan juga dapat ditemukan.

Persoalannya sekarang dan harus dipertanyakan, adalah mengapa nakhoda kedua kapal yang tenggelam di danau Toba itu sangat meremehkan air yang tenang?

Dikatakan meremehkan karena, kedua nakhoda jelas-jelas melanggar ketentuan yang ada. Nakhoda Kapal Sinar Bangun mengangkut muatan berlebih, seharusnya hanya mengangkut sekitar 40 penumpang tetapi faktanya mengangkut hampir 200 penumpang, belum sepeda motor yang jumlahnya disebut-sebut mencapai puluhan.

Sedang kapal Ramos Risma tenggelam karena mesin mati setelah menabrak bambu jaring ikan nelayan sekitar yang banyak tertancap di sekitar lokasi perairan Danau Toba. Mengapa menabrak bambu jaring ikan? Karena kapal itu tidak dilengkapi lampu.

Peneliti Senior Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno memiliki jawaban atas pertanyaan di atas. Yakni, jasa transportasi penyeberangan sungai dan danau di Indonesia tidak dikelola secara benar. Alih-alih mengutamakan keselamatan, retribusi lebih menyita perhatian.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa jasa transportasi penyeberangan sungai dan danau di Indonesia tidak dikelola secara benar?

Diduga kuat hal ini terkait dengan pupusnya mental bahari, pengetahuan tentang, pelayaran seperti tentang musim, kondisi cuaca dan suhu, kondisi kapal, kondisi air laut, tanda-tanda alam dan lain sebagainya untuk menentukan waktu kegiatan pelayaran.

Anak-anak bangsa bahkan mungkin sudah lupa dengan lagu “Nenek moyangku orang pelaut.”

Anak anak bangsa negara maritim ini jangankan mengenal karakter laut, saat ini mungkin sudah tidak lagi mengenal karakter danau dan sungai.

Pemerintah memang memiliki perangkat yang mengelola angkutan sungai, danau dan penyeberangan yang dikenal dengan ASDP.

Tetapi fokusnya, mengutip peneliti senior Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno, lebih pada urusan retribusi. Sedang hal-hal yang berkaitan kondisi laut diabaikan. Pengelolaan moda angkutan sungai dan danau cenderung tidak ada bedanya dengan mengelola angkutan perkotaan.

Tragedi Danau Toba sekaligus ironi bagi Indonesia sebagai negara maritim, karena moda angkutan seperti itu sudah ada sejak zaman prasejarah, ketika moda angkutan darat masih belum ada, dan jalan raya masih dalam bentuk jalan setapak, dan angkutan udara masih dalam mimpi.

Sampai sekarang pun masih sangat banyak moda angkutan sungai dan danau seperti itu, tersebar di seluruh pulau di Indonesia. Memang tidak ada lagi yang namanya perahu yang terbuat dari rakit bambu yang disebut dengan getek, atau perahu lesung. Semua kini sudah berupa kapal bermesin. Tetapi jika mental bahari atau jika pengetahuan pelayaran tidak ditanamkan kepada para nakhoda, maka kejadian di Danau Toba berpotensi terjadi lagi di daerah lain. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here