Tragedi Isah yang Dikerjai Intel Asing Membunuh Warga Korea

0
7450
Kim Jung-Nam yang diduga dibunuh di Bandara Kualalumpur dan paspor SIti Aisyah

Nusantara.news, Jakarta – Masih ingat lyric, Oh… Siti Aisyah mandi di kali. Itu mungkin cocok untuk Siti Aisyah tahun 1970-an. Tapi Siti Aisyah yang bernasib tragis ini diketahui menyeberang dari Batam ke Malaysia. Sudah itu beritanya heboh karena dituding membunuh kakak tiri pemimpin Korea Utara.

Nasib Siti Aisyah yang kerap dipanggil Isah ini terbilang apes. Setelah bercerai dengan Ajun, suaminya, kepada ibunya dia mengaku bekerja menjual pakaian daleman di Batam. Ibunya tidak tahu, kalau suatu saat Isah menyeberang ke Malaysia dengan kapal ro-ro.

Wakil Dubes RI di Kualalumpur melakukan jumpa pers usai menjenguk Siti Aisyah

Entah sudah dirancang sebelumnya atau hanya kebetulan, mengutip pengakuan ibu beranak satu ini kepada Wakil Dubes RI di Malaysia Andreano Erwin yang membesuknya, dia mengaku dibayar Rp 1,2 juta oleh orang bertampang Jepang atau Korea dan diberi cairan yang dikiranya minyak bayi.

Pekerjaannya mudah. Dia dan seorang perempuan satunya lagi berwarga negara Vietnam bernama Doan Thi Huong disuruh mengibaskan kain ke lelaki tambun, terakhir kali baru ketahuan namanya, Kim Jung Nam, saudara tiri Sang Ketua Korea Utara Kim Jong Un yang sangat kejam itu.

Kim Jung Nam yang sedang menunggu penerbangan ke Makao tiba-tba kejang, wajahnya memerah, setelah dikibas cairan bernama  Ricin yang dikibaskan oleh kedua perempuan itu. Petugas Bandara pun membawanya ke Rumah Sakit terdekat, namun nyawanya tidak terselamatkan.

Ricin adalah nama racun yang jauh lebih berbahaya dari sianida. Racun ini dibuat dari biji jarak atau tetradoxin yang dicampur ekstrak ikan buntal yang 1200 kali lebih mematikan dari sianida.

Wajah Siti Aisyah yang terekam kamera CCTV Bandara Kualalumpur

Setelah itu, wajah Siti Aisyah dan seorang perempuan satunya lagi asal Vietnam tertangkap di layar CCTV bandara. Selain itu CCTV juga mengungkap kehadiran sekretaris II Kedubes Korut di Kuala Lumpur Hyong Kwang Song (44) yang ditemani staff Maskapai Korut Air Koryo bernama Kim Uk Il sedang mengantar empat terduga warga Korut yang melarikan diri dari Malaysia.

Mengutip dokumen penerbangannya, keempat terduga warga Korut masing-masing bernama   Ri Ji-hyon, 33 tahun; Hong Song-ha, 34 tahun, O Jong-gil, 55 tahun ; dan Ri Jae-nam, 57 tahun, melarikan diri ke Jakarta terus terbang ke Pyongyang melalui rute Jakarta, Dubai, dan Vladivostok tanggal 17 Februari 2017.

Diduga keempat warga Korut yang melarikan diri itu berperan merekrut Siti Aisyah. Untuk itu pemerintah RI sangat berkepentingan melindungi warganya yang dituduh melakukan pembunuhan di negeri Jiran. Umumnya pejabat RI berpandangan Siti Aisyah korban persekongkolan intel asing yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang sudah dia lakukan.

Tapi pendapat itu dibantah oleh Polisi Malaysia. Sebab setelah membekap dan mengibaskan cairan beracun, kedua perempuan yang tertangkap basah kamera CCTV langsung pergi ke toilet.  Tampaknya kedua perempuan itu sadar dan tahu bahaya cairan yang dipegangnya.

Pertanyaannya, mungkinkah perempuan lugu sepert Aisyah yang meskipun sudah tidak lagi mandi di kali itu sadar telah melakukan persekongkolan membunuh seseorang. Siapa tahu, perempuan ini mau melakukannya karena mengira sebuah pertunjukan Realty Show yang bakal ditayangkan televisi komersial?

Tapi yang jelas latar belakang Siti Aisyah memang penuh perjuangan. Di masa gadisnya, mengutip keterangan Benah, ibundanya yang warga Kampung Rancasumur, Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten, itu, pamit merantau ke Jakarta.

Di Jakarta Isah, begitu Siti Aisyah biasa dipanggil, bekerja di konveksi. Dia sempat menikah dengan Gunawan Hasim alias Ajun yang tak lain adalah anaknya pemilik konveksi. Sebelum bercerai pasangan Ajun-Isah ini sempat memiliki satu anak.

Setelah bercerai Siti Aisyah pergi ke Batam, Kepulauan Riau. “Tahunya kerja di Batam. Jualan baju, daleman. Tahu kejadian (membunuh) begini enggak tahu apa-apa,” aku Benah kepada stasiun televisi swasta yang melacak keberadaannya.

Pengakuan Benah dibenarkan oleh Liang Kong bekas besannya. Bahkan dia tidak percaya kalau Isah yang lugu tega membunuh. Sebab bekas menantunya itu anak yang baik. “Dia itu sopan loh, tutur katanya bagus, menurut sama orangtua, baik juga, pintar mengurus rumah tangga,” ujar Liang Kiong yang tinggal di Pasar Kampung Bebek, Tambora, Jakarta Barat.

Karena anaknya baik, Liang Kong setuju saja saat Gunawan Hasyim alias Ajun menikahinya. Sebab sebelum menjadi menantu, Isah sempat bekerja di konfeksi Liang Kiong kurang lebih tujuh tahun. Selama bekerja, Isah terlihat baik dan rajin.

Sebelum mengaku tinggal di Batam kepada ibunya, Isah pernah tinggal selama 10 tahun di Gang Kacang RT 05 RW 03 Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Tapi setelah dia punya KTP, cerita Pak Ketua RT, Isah dibawa suaminya ke Malaysia.

Isah dikenal lugu, berkulit bersih dan bisa membawa diri. Dia hanya akan keluar rumah kalau sedang mencari anaknya. Selebihnya dia lebih banyak tinggal di dalam rumah.

Setelah bersama suaminya tinggal di Malaysia, Isah digugat cerai oleh Ajun pada tanggal 1 Februari 2012. “Surat cerainya ada, sama saya. Tapi hanya secara adat karena kalau ke pengadilan prosesnya lama,” aku Pak Ketua RT.

Jadi memang, tidak seorang pun yang pernah mengenalnya percaya Siti Aisyah yang tidak lagi mandi di kali itu tega melakukan pembunuhan. Apalagi korbannya Kim Jung-Nam yang sudah pasti bukan orang sembarangan.

Memang, sesuai alenia IV Pembukaan UUD 1945 Siti Aisyah adalah tumpah darah dan bangsa Indonesia yang berhak mendapatkan perlindungan. Bantuan hukum kiranya sudah tepat ya asal dikerjakan secara sungguh-sungguh pastinya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here