Tragis, 123 Cagar Budaya di Surabaya Tinggal Kenangan

0
216

Nusantara.news, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya tidak berkutik menghadapi mafia asset yang menang di pengadilan. Terakhir, situs bersejarah yang pernah menjadi markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya jatuh ke tangan perseorangan.

Gedung bersejarah yang sebelumnya pernah menjadi kantor perusahaan daerah air minum (PDAM) Surabaya itu berlokasi di Jalan Basuki Rahmat No. 119-121. Di tempat itu Letkol Sungkono dan anak buahnya merancang pertempuran heroik, termasuk pertempuran 10 November 1945 yang legendaris itu

Maklum, di lokasi gedung yang baru dibangun tahun 1950-an itu sebelumnya pernah menjadi markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya. Karena pernah menjadi markas BKR maka Walikota Tri Rismaharini menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya (BCB)

Walikota Tri Rismaharini memang sukses membenahi infrastruktur, pertamanan dan pelayanan publik warga Surabaya. Tapi sayang, Risma lalai mempertahankan cagar budaya dari jarahan begal-begal asset yang diduga masih bergentayangan di sekitarnya.

Kini, diantara 256 BCB yang dilindungi oleh SK Walikota sudah 123 yang jatuh ke tangan perseorangan. Terakhir, gedung PDAM yang bersejarah jatuh ke tangan perseorangan lewat proses gugatan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Padahal PDAM sudah menggunakan jurus cagar budaya sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini kebijakan pro sejarah Nomor 188.45/232/436.1.2/2015 tanggal 23 September 2015.

Sebelumnya, Pemkot juga kehilangan bekas markas radio Pahlawan Nasional Sutomo Bung Tomo di Jalan Mawar Nomor 10 Mei 2016. Bahkan markas radio itu hanya tersisa puing-puing yang kabarnya hendak dibangun sebuah mall.

Keberadaan gedung-gedung tua di sepanjang jalan protocol di Kota Surabaya, sejak lama telah diklaim menjadi kawasan Cagar Budaya yang harus dipertahankan keberadaannya.

Sayangnya, kebijakan Pemkot Surabaya ini tidak disertai dengan alokasi anggaran yang cukup untuk bisa merawat gedung-gedung tua yang terdaftar menjadi Cagar Budaya meski dengan klaster yang berbeda.

Kalah Lewat Sengketa Pengadilan

 Gedung PDAM sejak lama memang disengketakan oleh banyak orang. Terakhir kali, Siti Fatiyah mengakui sebagai miliknya. Maka dia menggugat PDAM dan memenangkan perkaranya di Pengadilan Negeri Surabaya yang sekaligus mengeluarkan penetapan eksekusi.

Belum sempat dieksekusi, Fatiyah meninggal setelah ditetapkan menjadi tersangka. Muncul Hanny Limantara yang mengaku sudah membeli aset tersebut dari ahli waris Fatiyah. Bahkan Hanny mengaku sudah beli aset dengan nomor pengadilan : 93/EKS/2013/PN.SBY.

Terang saja PDAM berang. Mereka gugat eksekusi yang dinilai tidak sah itu pada Selasa (10/1/2017). Tapi apa boleh dikata? Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya tetap bergeming dengan putusannya. Lahan itu disahkan oleh Pengadilan milik Hanny.

“Hakim punya pendapat tersendiri tentang putusan hukum. Putusan hukum berkedudukan lebih tinggi dari SK Wali Kota, sehingga SK tersebut haruslah dikesampingkan,” ujar Ferdinandus.

Sementara Kepala Bagian Hukum PDAM, Muhammad Risky mengaku sangat kecewa atas keputusan itu. Dia masih menimbang-nimbang perlu banding atau tidak? SK Wali Kota tentang soal cagar budaya tersebut harus disidik. Jika SK tersebut jadi sengketa, menurutnya, perlu proses untuk menentukan tempat cagar budaya.

“Yang jelas kami kecewa bukti-bukti dari kami diabaikan semua, termasuk soal cagar budaya. Apalagi Pemkot bagian dari pihak berperkara. Cagar budaya tidak menghalangi jual-beli, asalkan tidak sampai terjadi pembongkaran,” ujarnya.

Peninggalan Bersejarah

Padahal, gedung yang berdiri berdiridi atas lahan seluas 3.796 meter persegi dan berlokasi di jalan Basuki Rahmat No. 119-121 itu merupakan bekas markas Badan Keselamatan Rakyat (BKR). Hilangnya gedung itu adalah sebuah kerugian besar. Sebelum jatuh ke tangan perseorangan, gedung itu pernah dikelola PDAM. Maka masyarakat setempat lebih mengenalnya sebagai Gedung PDAM.

Surat Keputusan (SK) Nomor 188.45/232/436.1.2/2015 tanggal 23 September 2015, menyatakan gedung di Jalan Basuki Rahmat 119-121 Surabaya merupakan Bangunan Cagar Budaya. Beberapa peninggalan bersejarah masih melekat di gedung yang kini sudah milik perorangan.

Plat logam berwarna kuning keemasan juga telah dipasang di dinding depan bangunan yang berada di seberang Bumi Hotel Surabaya. Di bagian depan, tepat di bawah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) terdapat semacam monumen kecil yang dijadikan tetenger.

Isi plakat tersebut adalah “Kantor PDAM Jalan Basuki Rahmat 119-121. Bangunan ini didirikan sekitar tahun 1950-an. Bangunan ini dulunya merupakan eks Markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) di bawah pimpinan Sungkono, markas terus berpindah ke Jalan Jimerto 25, Kaliasin 30 kemudian di Pregolan 2-4, terkena bom dari udara selanjutnya pindah ke Carpentierstraat (Jalan Suropati) akhirnya keluar kota menjadi Markas Pertahanan Surabaya. 
Bangunan Cagar Budaya sesuai SK. Wali Kota Surabaya No 188.45/232/436.1.2/2015 tanggal 23 September 2015. Pemerintah Kota Surabaya 2015“.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here