Transportasi Online Didemo Ratusan Sopir Angkot dan Taksi di Malang

0
135

Nusantara.news, Kota Malang – 

Sinergy Aditya

Nusantara.news, Kota Malang – Sekitar ±2500 angkutan umum darat melakukan aksi mogok kerja, Senin (20/2/2017). Penyebabnya tak lain mereka protes atas kehadiran transportasi online yang menggerus pendapatan mereka.

Demonstrasi dilakukan di sejumlah titik, yaitu Terminal Talun dan juga di depan Balaikota Malang. Ratusan armada tersebut di parkir di seputaran balaikota, hingga Stasiun Besar Malang dan beberapa titik lain. Ratusan calon penumpang yang telantar di sekitar stasiun diangkut truk polisi, Satpol PP, TNI dan bus sekolah.

Florista (23), seorang penumpang menyayangkan kejadian itu, karena memang terlihat animo masyarakat mulai beralih ke transportasi online, dan itu yang menurut Florista membuat sopir angkot dan taksi kehilangan penghasilan.”

“Miris ya? Di satu sisi kasihan juga sama sopir angkot dan taksi konvensional, tapi di sisi lain penumpang pengennya yang lebih cepet dan aman,”ujar Florista.

Tapi Florista berharap agar demonya tidak anarkis, misalnya sampai beradu fisik dengan pengemudi angkutan online. “Kan mereka sama-sama kerja?”” ujarnya.

Sedangkan Sunaryo, satu diantara sopir peserta demo tegas menuntut agar Pemkot Malang memblokir taksi online. “Kami datang kesini, hanya ingin transportasi online dihapus. Karena membuat kami kehilangan pendapatan,” desak Sunaryo.

Dengan adanya angkutan online, timpal Sarju, sopir angkot lainnya, dirinya sering menunggak setoran. “Kalau tidak begitu bagaimana saya bisa bawa pulang uang ke rumah,”tuturnya trenyuh.

Sardju juga mengeluhkan bahwa transportasi online bisa beroperasi tanpa uji KIR, izin trayek, retribusi dan izin usaha. Mereka bebas beroperasi tanpa memikirkan armada angkutan lain.

“Kami harus bayar ijin, retribusi, trayek, pajak, belum setoran, banyak lagi mas sedangkan mereka kok kayak illegal gitu dan beroperasi apa tidak malah merugikan kami sebagai angkutan umum yang legal” keluhnya.

Sardju mengaskan, bahwa mereka beroperasi selama ini adalah illegal tidak berizin “Mereka ini  memiliki izin operasi, otomatis illegal mas sebagai kendaraan publik (umum), ini sama dengan bisnis illegal.” tegas Sardju

Ia menambahkan bahwa keberadaan transportasi illegal ini memiliki dampak yang besar bagi pendapatan dan setoran mereka. “40 persen sampai 60 persen pendapatan kita turun, coba bayangkan saja.” tandasnya.

Dilema Kemajuan Teknologi

Dilain sisi, Kepala Divisi Indoksi MCW, Buyung Trisna mengungkapkan, terkait masalah perseteruan yang terjadi antara pihak transportasi konvensional dan transportasi online, bahwa memang perlu ditinjau kembali antara kemajuan teknologi dan juga resistensi massa.

“Menjadi dilema antara kemajuan teknologi, dilain sisi ada beberapa pihak yang menolaknya. Kita bukan anti pembangunan, anti kemajuan, namun perlu pencermatan khusus, teknologi bagus itu harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan umum bukan kesejahteraan beberapa orang” ujar Buyung.

Maka Buyung mendesak adanya perhatian Pemkot terkait penyediaan sarana angkutan umum yang cepat dan nyaman. Sebab faktanya masih banyak angkot maupun taksi tahun 1980-an dan 1990-an yang masih beroiperasi. Untuk angkutan online pun dalam hal perizinannya perlu disamakan agar tidak muncul kecemburuan social di lapangan.

Namun, kemajuan tekhnologi adalah hal yang niscaya. “Tapi bagaimana kemajuan tekhnologi itu tidak melindas yang lain, itu yang perlu dipikirkan oleh Pemkot. Mungkin, bisa saja pengemudi konvensional alih profesi ke pengemudi online dengan armada yang disediakan oleh pemerintah, misal melalui BUMD,”ujarnya.

Memang, papar Buyung, ini sebenarnya gerak peradaban.  Dulu ada dokar dan becak, tapi dokar dan becak kalah disaingi angkot dan ojek, terus muncul taksi, dan kini mereka terancam oleh hadirnya transportasi online.

“Tapi tentu akan banyak korban, dan ini harus dicegah, bila kemajuan itu berjalan liar tanpa adanya pengendalian. Sebab itulah tugas Pemkot, tugas Negara,”pungkas Buyung. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here