Menilik Peluang Kandidat Gubernur Jatim 2018 (2)

Tri Rismaharini, Secara Pribadi Kuat, tapi Bisa Terkendala Partai Pengusung

0
232

Nusantara.news, Surabaya – Tri Rismaharini, meski belum mendeklarasikan untuk ikut berlaga di pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018, namanya terus terkerek. Perempuan yang pernah menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya tahun 2005, dan tahun 2008 menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya ini juga digadang untuk memimpin Provinsi Jawa Timur, 2018-2023..

Seperti apa modal popularitas dan kekuatan partai pengusungnya (PDIP), jika Risma maju Pilgub Jatim? Dan, jika disandingkan dengan nama-nama lainnya seperti Saifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansa dan Abdullah Azwar Anas yang juga diperkirakan maju di pemilihan kepala daerah Jawa Timur, apakah Risma masih menggigit?

“Secara personal, Risma memang populer. Prestasinya pun bagus, bahkan diakui dunia untuk keberhasilan menata Kota Surabaya. Tapi, dalam konteks Jawa Timur, ada masalah di partai yang bakal mengusung Risma, yakni PDIP. Partai ini memang kuat di tingkat nasional. Tetapi, kalau berkaca pada Pilgub 2013, kemenangan PDIP di Jatim tidak mutlak,” kata Ketua Generasi Muda (Gema) Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) Jawa Timur, Teddy Ganesha Tahapari, Rabu (8/3/2017).

Karena itu, Teddy berkesimpulan,  jika  maju di Pilgub Jawa Timur, kans Risma agak tipis. “Untuk menjadi kuda hitam, memang iya. Jika berpasangan dengan Saifullah Yusuf atau  Khofifah, peluang Risma akan lebih besar,  dibanding jika maju sendiri dengan pendamping lain,” tambahnya.

Lanjut Teddy, dominasi massa nahdliyin di Jawa Timur masih sangat kuat. Dan, itu akan bermanfaat atau merupakan modal besar bagi  para bakal calon yang  berasal dari basis massa ini, seperti Khofifah dan Saifullah Yusuf. “Pertanyaannya, apakah Khofifah atau Saifullah mau menjadi cawagub. Karena kedua sosok itu sudah memposisikan diri untuk  Gubernur Jatim,” tegas alumnus Fisip Universitas Airlangga Surabaya ini.

Secara pribadi, untuk daerah kota Surabaya, Risma bisa jadi tiada tanding. Popularitasnya tinggi di kandang sendiri. Itu antara lain terlihat dari kuatnya penolakan warga Surabaya ketika ada wacana hendak memboyong Risma ke Pilgub Jakarta tempo hari. Selain itu, PDIP sendiri memang kuat di Surabaya, Blitar, Batu, Kediri, dan Tulungagung. Di Banyuwangi juga bisa kuat, asal Abdullah Azwar Anas tidak maju.

“Tetapi di daerah lain, seperti Ngawi, Magetan, Mojokerto, peluang Risma meraih dukungan relatif kecil,  karena  merupakan basis NU,” tambah Teddy yang juga menjabat Sekretaris Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Jawa Timur ini.

Ditambahkannya, meski di daerah yang bukan basis NU, PDIP juga tidak menang mutlak di pemilu 2013. “Karenanya, butuh perjuangan keras jika Risma hendak sukses  di Pilgub Jawa Timur,” katanya.

Sekedar tahu, karena prestasinya Risma dinobatkan menjadi wali kota terbaik ketiga se-jagad. Urutan pertama Wali Kota Calgary, Kanada, Naheed Nanshi dan kedua oleh Wali Kota Ghent, Belgia. Risma dinilai menarik perhatian nasional dan internasional karena prestasi dan semangatnya. Juga soal kebijakan sosial ekonomi, dan lingkungan. Dasar itulah World Mayor Prize (WMP) mengumumkan Risma sebagai walikota terbaik di laman www.worldmayor.com. World Mayor adalah sebuah organisasi nonprofit bertaraf internasional, yang konsen mendorong terciptanya sistem pemerintahan yang baik.

Tri Rismaharini lahir di Kediri, Jawa Timur 20 November 1961. Menjabat Wali Kota Surabaya sejak 17 Februari 2016, dan sebagai wanita pertama yang dipilih langsung menjadi wali kota melalui pemilihan kepala daerah sepanjang sejarah demokrasi Indonesia di era reformasi.

Saat itu, pasangan Risma-Bambang DH diusung PDIP, memenangi pilkada Surabaya 2010 dengan perolehan suara mencapai 358.187 suara atau 38,53 persen dari jumlah suara keseluruhan.

Kemudian di Pilkada Serentak 2015, pasangan Risma-Wisnu juga diusung oleh PDIP terpilih kembali dengan suara mutlak sebesar 893.087 suara atau 86,34 persen dari jumlah suara keseluruhan. Kemudian pasangan Risma-Wisnu dilantik untuk masa jabatan 2016-2021, pada 17 Februari 2016 oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo, di Gedung Negara Grahadi.

Karir Risma dimulai menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kota Surabaya di tahun 1990-an. Arsitek lulusan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan  Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya  (1987) dan peraih gelar Magister Manajemen Pembangunan Kota di institute yang sama (2002) ini, dinilai berhasil dalam pembangunan kota Surabaya. Pada tahun 2015, almamaternya menganugerahi Risma gelar kehormatan Doktor Honoris Causa  dalam bidang Manajemen Pembangunan Kota.

Sepanjang karirnya di Pemkot Surabaya, Risma  pernah menjabat Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya (1997),  Kepala Seksi Pendataan dan Penyuluhan Dinas Bangunan Kota Surabaya (2001), Kepala Dinas Pertamanan Kota Surabaya (2001). Kepala Bagian Bina Pembangunan (2002), Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (2005). Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya (2005), Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya (2008), dan sekarang menjadi Walikota. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here