Tricky Kenaikan Tarif Tol Jasa Marga

0
178
Pemindahan 24 pintu tol Cikarang Utama ke 6 pintu tol Cikampek Utama diprediksi akan menjadi sumber kemacetan baru pada libur lebaran.

Nusantara.news, Jakarta – Banyak cara yang digunakan regulator untuk menaikkan tarif tol. Cara paling anyar adalah berpura-pura memindahkan gerbang tol Cikarang Utama ke Cikampek Utama dan Kalihurip Utama. Pemindahan gerbang tol ini juga diikuti dengan penyesuaian sistem transaksi menjadi transaksi terbuka, plus kenaikan tarif.

Penetapan pemindahan gerbang tol yang diikuti kenaikan tarif ini pun tak diumumkan sebelumnya, sehingga pada tanggal 23 Mei 2019–sehari setelah peristiwa kerusuhan Jakarta—terjadi stagnasi di gerbang tol Kalihurip Utama yang berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta-Karawang.

Sejumlah angkutan umum mengeluhkan kemacetan di seputar gerbang pintu tol yang baru. Kemacetan sangat parah terjadi sejak pukul 07:00 pagi hingga siang. Dengan ekor kemacetan dengan jarak tempuh 30 hingga 40 menit.

Kemaceta terutama dialami para pengendara kendaraan Golongan 1 dan 2. Para pengendara mengetahui tarif dari gerbang tol Karawang timur mencapai Rp15.000 hingga Rp22.500, padahal biasanya para sopir hanya membayar Rp4.000 saja.

“Sudah bayar mahal, macet lagi,” itulah keluhan para sopir. Jalan alternatif sudah dapat dipastikan lebih ramai lagi gegara tarif tol naik.

Hubungan Masyarakat Jasa Marga Purwakarta-Bandung-Cileunyi, Nandang Elan menemukan banyak pengendara yang tidak menyiapkan uang elektroniknya (e-toll). “Beberapa penyebab (kemacetan). Salah satunya, transaksi yang tersendat karena banyak (e-toll) saldonya kurang,” katanya.

Akibatnya, waktu transaksi di gardu tol lebih lama dari yang seharusnya memakan waktu minimal delapan detik per kendaraan. Padahal, Nandang merasa sudah cukup maksimal menyosialisasikan tarif yang baru seiring pemindahan gardu Cikarang Utama ke perbatasan Purwakarta-Karawang.

Tarif tol baru Gerbang Karawang Timur.

Adapun sistem transaksi terbuka yang berlaku saat ini terbagi menjadi 4 wilayah, yakni Jakarta IC-Ramp Pondok Gede Barat-Pondok Gede Timur, Jakarta IC-Cikarang Barat, Jakarta IC-Karawang Timur, dan Jakarta IC-Cikampek.

Untuk wilayah 1 yakni Jakarta IC-Pondok Gede Barat/Timur ditetapkan Rp1.500, wilayah 2 Jakarta IC-Cikarang Barat Rp4.500, wilayah Jakarta IC-Karawang Timur Rp12.000, dan wilayah 4 Jakarta IC-Cikampek Rp15.000.

Dengan perubahan sistem transaksi ini, tarif untuk jarak pendek atau tidak sampai gerbang tol pengganti khususnya setelah gerbang Cikarang Utama mengalami kenaikan. Sementara, untuk jarak terjauh atau sampai gerbang tol pengganti tarifnya tetap.

Sebagai contoh, dari Jakarta IC menuju Cibatu tarifnya naik dari Rp6.000 menjadi Rp12.000. Kemudian, dari Jakarta IC menuju Cikarang Timur naik dari Rp7.000 menjadi Rp12.000.

Sementara, jika dari Jakarta IC menuju gerbang baru di Cikampek tarifnya tak mengalami perubahan yakni Rp15.000. Hal itu sama juga kondisinya dari Jakarta IC menuju Kalihurip tarifnya Rp15.000.

Sebelumnya, General Manager Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek Raddy R Lukman menjelaskan, akses tol sebelum GT Cikarang Utama tak mengalami dampak penyesuaian tarif.

"Untuk akses gerbang tol di sebelah barat GT Cikarang Utama/sebelum GT Cikarang Utama, kendaraan golongan I tidak terdampak penyesuaian tarif tol akibat perubahan sistem transaksi," katanya dalam keterangan tertulis.

Kemudian, penyesuaian tarif yang dilakukan pasca perubahan sistem transaksi juga tidak berdampak signifikan di wilayah 2 (Jakarta IC- Cikarang Barat). 

Namun, penyesuaian tarif akan berdampak pada akses gerbang tol di wilayah 3 (setelah GT Cikarang Utama) yaitu wilayah Cikarang Barat hingga Karawang Timur yang setelah perubahan sistem transaksi menjadi sistem transaksi terbuka, berlaku tarif merata sebesar Rp12.000 untuk golongan 1.

“Ini tarif tak masuk akal, masak dari Karawang Barat keluar Karawang Timur yang tadinya Rp2.500 kini jadi Rp12.000 Golongan 1, sementara yang tadinya Rp4.000 naik menjadi Rp18.000 untuk Golongan 2,” keluh seorang pengendara. Hanya saja untuk jarak jauh tarif tol tetap, bahkan ada jarak jauh kalau dihitung tarifnya lebih murah.

Belum lagi jumlah gerbang tol dari Cikampek ke Bekasi terdapat 14 pintu tol, sebaliknya dari Bekasi ke arah Cikampek ada 20 pintu tol. Celakanya pemindahan gerbang tol yagn disediakan di Cikampek hanya 6 pintu tol saja. Ini akan memicu kemacetan baru saat mudik lebaran.

Lantas, bagaimana Jasa Marga bisa menaikkan tarif dengan membungkusnya dengan pemindahan pintu tol?

Jika disimpulkan, tarif tol Cawang sampai dengan Bekasi Barat, Bekasi Timur, dan Cibitung, masih tetap Rp1.500. Sementara tarif tol jarak dekat mulai Cikarang Baru dan seterusnya mengalami kenaikan signifikan antara 3,75 hingga 5,62 kali. Di sinilah

Selain memanfaatkan rusuh Jakarta, Jasa Marga juga memanfaatkan momentum mudik lebaran. Karena dinaikkan atau tidak dinaikkan jumlah kendaraan yang melewati jalur tol itu akan melonjak

Jasa Marga memperkirakan terjadi kenaikan jumlah pengguna tol saat mudik tahun ini dibandingkan 2018. Kenaikan volume kendaraan diprediksi sebesar 7,58% dari tahun lalu.

Operation Management Group Head Jasa Marga Fitri Wiyanti memperhitungkan pada arus mudik yang dihitung H-7 hingga H-1 Lebaran ada 1.383.833 kendaraan yang bakal lewat tol. Jadi memang tidak ada masalah dengan suplai kendaraan, yang masalah adalah terjadi rogohan kocek lebih dalam.

Permasalahan berikutnya, tol Jasa Marga bekerja dengan hukum pasar monopoli, dimana sebagai BUMN dan korporasi Jasa Marga tak mengajak konsumen berdiskusi soal kenaikan tarif. Sehingga konsumen hanya diposisikan sebagai pihak yang harus nurut keputusan Jasa Marga, kalau tidak setuju silakan keluar jalur tol.

Menanggapi tricky Jasa Marga dalam menaikkan tarif tol berbungkus pemindahan gerbang tol, ditanggapi sinis oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). YLKI meminta jangan ada kenaikan tarif terselubung di balik perubahan sistem pembayaran pada ruas tol yang menjadi titik kritis pada masa arus mudik Lebaran nanti.

"Kita minta BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol) dan Jasa Marga tidak menaikan tarif terselubung atau penambahan tertentu. Memang ada titik tertentu yang jadi korban kenaikan. Ini  average , tidak ada kenaikan tarif di ruas keseluruhan Cikampek. Ini kan tarif tol sudah diatur setiap dua tahun sekali," kritik Ketua Harian YLKI Tulus Abadi, saat meninjau pembangunan Gerbang Tol (GT) Cikampek Utama beberapa waktu lalu.

Jasa Marga  memindahkan GT Cikarut ke KM 70 dan Kalihurip. Pasalnya, GT Cikarut seringkali menjadi biang kemacetan, baik pada hari-hari biasa maupun pada musim arus mudik dan  long weekend. Khususnya, proyek tol  elevated, LRT dan kereta cepat juga berjalan bersamaan.

"Pergeseran GT di Cikampek Utama ini sudah terlambat, mestinya setahun yang lalu atau ketika pembangunan konstruksi tol Japek Elevated karena sangat mengganggu. Pergeseran Cikarut ke Cikatama, akan membuat SPM (Standar Pelayanan Minimal) jalan tol lebih baik di Cikampek, VC Ratio akan lebih baik. Kalau di gambar yang tadinya merah akan menjadi hijau, kinerja Cikampek akan baik, konsumen akan diuntungkan," demikian pendapat Tulus.

Sementara itu, Pengamat Tata Kota Yayat Supriyatna, dalam kesempatan yang sama juga mendorong agar pihak terkait, yaitu Jasa Marga, BPJT, Kemenhub dan juga Korlantas Polri untuk bekerja maksimal dalam penyelenggaraan mudik dan arus balik nanti.

Menurutnya, pengaturan-pengaturan serta rekayasa lalu-lintas, termasuk perencanaan infrastruktur jalan tol harus betul-betul matang, agar kemacetan parah tidak kembali terjadi di ruas tol terpadat di Indonesia tersebut.

"Menjelang Lebaran itu akan lebih baik. Justru untuk setelah Lebaran, jangan sampai sesudah Lebaran persoalan kembali ke awal, bagaimana penataan lebih lanjut agar lebih baik," kata Yayat.

Lepas dari tricky yang dilakukan Jasa Marga, kita menyesalkan kebijakan itu. Karena selain tidak ada pengumuman, diskusi publik, apalagi debat publik, kenaikan tarif tol yang dibungkus dengan pemindahan pintu tol sangat tidak etis. Bahkan kenaikan tarif ini sangat rawan diuji materi karena dianggap merugikan masyarakat pengguna tol.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here