Trump Ancam Bakal Akhiri Kebijakan Satu Cina

0
79

Nusantara.News, Jakarta – Presiden Amerika terpilih Donald Trump mengancam bakal mengakhiri kebijakan satu Cina yang telah diterapkan Amerika sejak 1979.  Trump mempertanyakan politik Taiwan yang sudah berlangsung empat dekade itu. Trump juga menegaskan tidak perlu berpegang pada politik selama ini tentang “satu Cina”.

Dalam wawancara dengan televisi Fox News, Minggu (11/12) Trump mengatakan, dirinya tidak merasa terikat pada kebijakan “Satu Cina” kecuali jika AS mencapai kesepakatan baru dengan Cina tentang sejumlah hal, termasuk perdagangan.

Dalam wawancara itu, Trump juga secara lugas mengkritik Cina. Dia mengkritik kebijakan mata uang Cina, aktivitas Cina di Laut Cina Selatan, dan sikap Beijing dalam konflik Korea Utara. Trump menekankan, apakah ia melakukan pembicaraan telepon dengan pemimpin Taiwan atau tidak, bukan urusan Beijing.

“Sejujurnya, saya pikir malah sangat tidak menghormati, jika saya tidak menerima telepon itu,” kata Trum dalam wawancara tersebut.

Beberapa jam setelah wawancara tersebut, sebuah media Cina Global Times Cina mengomentari Trump sebagai seorang yang ‘naif’. Media Cina itu juga memperingatkan Trump bahwa kebijakan “Satu Cina” tidak bisa dinegosiasikan lagi. Jika politik itu disangkal bakal memicu Beijing mengalihkan sokongannya dan mendukung musuh-musuh AS.

Sebelumnya, Trump telah menyulut kemarahan Cina pada Jumat 2 Desember 2016 karena melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Presiden Taiwan Tsai Ing Wen. Sampai saat ini Beijing menganut politik, Taiwan termasuk wilayahnya yang membelot, dan siapapun yang beranggapan berbeda dianggap sebagai menghina.

Trump Mulai dekati Taiwan?

Pembicaraan lewat telepon antara Trump dan Presiden Tsai Ing Wen merupakan kontak pertama antara presiden AS dengan Taiwan dalam kurun waktu sekitar 40 tahun terakhir, dan itu dilakukan Trump, presiden AS baru terpilih yang dalam kampanyenya kerap mengobarkan semangat nasionalisme populis. Adalah Presiden AS Jimmy Carter yang mengubah kebijakan diplomatik AS tahun 1979, dengan mengakui Taiwan sebagai bagian dari “satu Cina”.

Dengan pernyataan Trump lewat Fox News, Presiden AS itu melontarkian sinyal bahwa politik peninggalan era Carter bakal diubah. Pemerintah Cina menanggapi pernyataan Trump dengan mengatakan ‘sangat prihatin’ atas pernyataan presiden AS dari Partai Republik yang baru terpilih itu.

Pasca pembicaraan telepon pertama antara Trump dan presiden Taiwan, Gedung Putih yang saat ini masih di bawah kendali Obama mengontak pemerintah di Beijing dan menekankan bahwa bagi Washington kebijakan yang berlaku tetap “Satu Cina”. Gedung Putih juga memperingatkan, semua kemajuan dalam hubungan Cina-AS bisa terkena dampak negatif akibat berkobarnya isu Taiwan. Namun apa yang dilakukan Trump dengan menerima telepon dari presiden Taiwan adalah sinyal bahwa dia akan membawa Amerika mendekati Taiwan, yang artinya bakal “berkonfrontasi” dengan Cina? Tunggu saja. (berbagai sumber)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here