Trump Awali Langkah Lumpuhkan ISIS di Timur Tengah

0
69

Nusantara.news – Presiden Amerika Serikat Donald Trump bakal mewujudkan janjinya soal perang melawan ISIS (Iraq-Syria Islamic State). Trump akan mengumpulkan para pejabat setingkat menteri dari 68 negara untuk membahas langkah-langkah “perang” melawan organisasi ektremis itu. Agenda ini juga menjadi bagian penting dari sikap politik pemerintah Trump terhadap situasi di Timur Tengah.

AS akan menjadi tuan rumah pada pertemuan yang akan dilaksanakan pada 22-23 Meret 2017 di Washington, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson akan memimpin jalannya pertemuan.

Selama kampanye pada Pilpres Amerika melawan Hillary Clinton, Trump berulang kali bersumpah bahwa salah satu prioritasnya dalam memimpin AS adalah menghadapi ekstremis Islam yang saat ini sedang mempertahankan wilayah di Suriah dan Irak.

Sebagaimana dilansir The Washington Post (10/3), pertemuan itu akan menjadi koalisi internasional terbesar untuk menentang ISIS sejak tahun 2014.

“Ini memberitahu mitra koalisi, bahwa AS tetap sangat berkomitmen untuk bekerja dengan mereka memerangi ISIS,” kata seorang pejabat senior AS.

Pejabat AS itu mengatakan, hal pertama yang akan dilakukan pemerintahan AS yang baru adalah memperkuat koalisi melalui diplomasi militer dan sumbangan dana kemanusiaan.

Pemerintahan Trump akan mempertahankan upaya sebelumnya yang pernah dilakukan pemerintah Barack Obama melalui Koalisi Global untuk melawan ISIS.

Sebelumnya, AS juga telah mengirim pasukan marinir ke Suriah untuk melakukan penyerangan terhadap ISIS di wilayah Raqqa.

Juru Bicara Pasukan Koalisi Kolonel Dorrian mengatakan, Amerika mengirim Army Rangers ke Manbij, yakni 110 kilometer dari Kota Raqqa. Army Rangers hanya sementara di wilayah itu sama seperti angkatan laut.

Army Rangers dikirim untuk menciptakan jaminan keamanan. “Apalagi saat ini terjadi pertempuran antara kelompok oposisi bersenjata Suriah yang didukung Turki melawan militan lokal Manbij Military Council yang dibentuk oleh SDF,” katanya, Kamis, (9/3).

Penempatan angkatan laut dan Army Rangers AS merupakan implementasi kebijakan Presiden Trump untuk mengalahkan ISIS yang secara tegas telah disampaikan Pentagon bulan lalu.

AS juga saat ini tengah mempersiapkan pengiriman 1.000 lagi tentara ke Kuwait sebagai pasukan cadangan yang dapat segera dipindahkan ke Suriah dan Irak jika sewaktu-waktu diperlukan guna mengalahkan ISIS.

New York Times melaporkan hingga saat ini tercatat 3.000 hingga 4.000 militan ISIS yang berada di Raqqa.

Trump Setujui Penjualan Senjata ke Arab Saudi

Di tengah keinginan Trump melenyapkan ISIS dari Timur Tengah, pemerintah Trump menyetujui penjualan senjata ke Arab Saudi senilai USD 1,15 miliar (Rp 15,4 triliun). Kebijakan ini bertentangan dengan presiden sebelumnya Barack Obama.

Pemerintahan Obama pernah membatalkan kontrak dengan saudi itu, setelah pesawat tempur Saudi diketahui membombardir gedung tempat upacara pemakaman di Yaman, hingga menewaskan warga sipil. Serangan itu memicu kecaman dunia internasional.

Persetujuan kontrak yang kontroversial itu adalah sinyal bahwa pemerintahan Trump berupaya menjalin hubungan lebih erat dengan otoritas Saudi dalam konflik Yaman. Kontrak itu disusun oleh Departemen Luar Negeri AS. Kontrak mengatur penjualan tank dan kendaraan lapis baja.

Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada Washington Post beberapa waktu lalu, bahwa kontrak penjualan senjata ke Saudi bertujuan untuk “mengusir” pengaruh Iran di Yaman.

“Kami akan mencari cara untuk menumpulkan pengaruh buruk Iran di wilayah tersebut. Dan kami akan mencari segala cara yang dimiliki pemerintah AS,” kata pejabat itu.

Langkah Trump menyetujui kontrak penjualan senjata dengan Saudi bersamaan dengan peningkatan operasi pasukan AS di Yaman untuk memerangi “cabang al-Qaeda” al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) meskipun AQAP hingga saat ini masih belum menjadi target Arab Saudi dalam pertempuran dengan kelompok pemberontak Houthi di Yaman.

Mampukah Trump lenyapkan ISIS?

Trump telah bersumpah untuk melenyapkan ISIS ketika dia menjadi Presiden AS, dan sekarang Trump akan mulai melaksanakan sumpahnya itu. Tapi pertanyaannya, apakah Trump akan benar-benar bisa mengalahkan ISIS?

Dr Rodger Shanahan, seorang peneliti di Lowy Institute berpendapat, untuk menjawab pertanyaan tersebut tergantung pada “apa yang dimaksud dengan kekalahan”.

“Jika definisi kekalahan berarti untuk mengambil alih kendali kota yang saat ini dikendalikan ISIS, maka dia (Trump) akan berhasil,” kata Shanahan.

Tapi, Shanahan mengingatkan bahwa kelompok teroris bisa saja kehilangan kendali atas wilayah strategis mereka, tapi itu bukan berarti bahwa ISIS akan benar-benar “dilenyapkan”.

Trump sebelumnya sangat kritis terhadap pemerintahan Barack Obama dalam menangani ISIS dan sejumla konflik di Timur Tengah. Dia menyebut dalam kampanyenya, pemerintah AS telah menghamburkan triliunan dolar untuk terlibat perang di Timur Tengah dan tidak membawa hasil apa-apa bagi kesejahteraan rakyat AS.

Kini Trump agaknya bakal melakukan langkah-langkah, yang kurang lebih sama, dengan pemerintahan sebelumnya, apakah ini juga akan membawa AS terjebak dalam perang yang tak berkesudahan di Timur Tengah, dan akan menghabiskan triliunan dolar yang sia-sia juga? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here