Trump Bakal Hapus Sanksi Nuklir Rusia?

0
63
Donald Trump (AS) dan Vladimir Putin (Rusia)

Nusantara.news, Jakarta – Trump berencana membuka pintu kerja sama dengan Rusia, suatu hal yang tidak dilakukan pada pemerintahan sebelumnya. Bahkan Trump menghapus sanksi terhadap Rusia dengan syarat-syarat tertentu. Inikah sinyal bahwa AS dan Rusia benar-benar akan menyatu dalam sebuah kerja sama?

Kepada Wall Street Journal (14/1) Trump mengatakan, sanksi terhadap Rusia masih tetap akan diberlakukan “setidaknya sampai periode tertentu” tetapi kemudian bisa dicabut.

Dalam wawancaranya, Trump mengatakan sanksi terhadap Rusia dapat dicabut jika Moskow membantu Washington dalam perang melawan ekstremis Islam dan masalah-masalah lainnya.

“Jika Anda berhubungan dan jika Rusia benar-benar membantu kami, mengapa seseorang menjatuhkan sanksi jika seseorang melakukan sesuatu yang hebat?” tegas Trump.

Trump berharap pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin dapat segera direncanakan.

Sementara itu, komite Senat AS akan menyelidiki klaim yang menyebutkan bahwa Rusia telah berupaya mencampuri pemilihan presiden AS.

Lebih lanjut Trump juga menyatakan bahwa sanksi terhadap Rusia bisa dikurangi dengan imbal balik kesepakatan soal penanganan senjata nuklir.

“Ada sanksi terhadap Rusia, mari lihat apakah kita bisa membuat beberapa kesepakatan dengan Rusia. Saya pikir seharusnya ada lebih sedikit senjata nuklir dan mereka harus menguranginya secara signifikan. Itu salah satu bagian (dari kesepakatannya).” kata Trump.

Pernyataan Trump dibuat saat wawancara dengan media Jerman, Bild, yang dipublikasikan pada Minggu, (15/1). Selain membahas sanksi terhadap Rusia, Trump juga mempertanyakan eksistensi NATO, yang dinilainya telah usang.

Amerika Serikat dan Uni Eropa sebelumnya telah menjatuhkan sanksi kepada Rusia karena telah merampas daerah Crimea dari Ukraina pada 2014. Sanksi itu diperpanjang selama enam bulan sejak Desember 2016 lalu.

Sejauh ini pihak Rusia menganggap masih terlalu dini untuk menanggapi penyataan Donald Trump yang baru akan dilantik 20 Januari 2017 nanti.

“Mari kita tunggu sampai ia memegang jabatan sebelum mempertimbangkan prakarsa apapun,” kata juru bicara presiden Rusia Dmitry Peskov kepada wartawan.

Pertemuan Trump dan Putin Dibantah

Sunday Times (15/1) melaporkan bahwa tim transisi Trump telah mengatakan kepada para pejabat Inggris, pemimpin baru AS itu berencana bertemu Putin. Pertemuan akan diselenggarakan beberapa pekan setelah Trump dilantik 20 Januari 2017.

 

Namun Kedutaan Besar Rusia untuk Inggris di London membantah rencana pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden AS terpilih Donald Trump di Islandia itu.

“Ide pertemuan dengan Putin pasti menjadi agenda utama. Rusia juga tertarik pada hal itu,” tulis seorang sumber di Sunday Times.

Sementara, sumber anonim dari Kedubes Rusia di London menganggap informasi itu menyesatkan. Kepada Editor Eropa BuzzFeed, Alberto Nardelli, mengatakan sumber menginformasikan pertemuan Trump dan Putin merupakan upaya untuk melemahkan Trump.

“@RussianEmbassy di London terkait laporan rencana pertemuan Trump-Putin: “Ini adalah sampah dan upaya untuk melemahkan Donald Trump sebagai presiden”, ujar Alberto Nardelli, melalui akun Twitter pribadinya, Minggu (15/1).

Meski begitu, Trump baru-baru ini mengatakan dirinya tertarik bertemu Putin. Dia juga mengklaim Rusia sangat ingin bertemu dengannya setelah pelantikan. “Saya mengerti bahwa mereka (Rusia) ingin bertemu, saya sambut dengan baik,” ungkap Trump. (berbagai sumber)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here