Trump Copot Jabatan Strategis Steve Bannon, ‘Populisme’ Sudah Ditanggalkan?

0
68
Steve Bannon (Foto: Reuters)

Nusantara.news. Washington – Kabar mengejutkan datang dari Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencopot jabatan Kepala Dewan Keamanan Nasional (NSC) Steve Bannon pada Rabu (5/4). Bannon dikenal sebagai sosok politisi “sayap kanan”, pendiri media berhaluan kanan ‘Breitbart’ yang juga ideolog bagi Donald Trump dalam hal ide ‘populisme’ dan nasionalisme ekstrem.

Inikah pertanda bahwa Trump, sebagaimana diduga banyak pihak sebelumnya, pada akhirnya meninggalkan gembar-gembor populisme? Kembali pada ‘khittah dirinya sebagai seorang pengusaha?

“Mantra-mantra” populisme, nasionalisme, dan anti-globalisme ternyata cukup manjur memberi asa bagi rakyat AS yang tengah mengalami keterpurukan ekonomi. Dengan itu, Trump berhasil memenangi Electoral College pada Pilpres AS 2016 dengan membawa “mantra-mantra” seksi itu pada setiap kampanye. Bannon beserta gengnya, para politisi sayap kanan AS, dipercaya telah menyuntikkan ide-ide populisme kepada Trump sehingga membawanya menjadi orang nomor satu di AS.

Dia merupakan ketua tim kampanye presiden Donald Trump, dan dalam banyak hal mewakili visi “America First” yang selalu digaungkan Trump. Dia menjadi suara nasionalisme Trump, mendorong semangat anti-Washington dan membawa Trump menjauh dari sebagian anggota Partai Republik. Namun, kini Bannon terlempar dari arena.

Diduga, ini adalah buah dari ‘perang pengaruh’ antara kelompok “sayap kanan” dengan kelompok ‘Wall Street’ di bawah gerbong Jared Kushner, menantu Trump. Kelompok ini tentu kurang suka dengan ide populisme dan nasionalisme sempit Steve Bannon dan kelompoknya, karena bertentangan dengan prinsip globalisme pasar dan dunia usaha.

Pemberhentian Bannon tak lama setelah Presiden Trump menunjuk sang menantu untuk mengepalai Kantor Inovasi yang beranggotakan para eksekutif bisnis top di AS seperti dari Microsoft, Gldman Sach, dan sebagainya.

Pencopotan Bannon dari jabatannya sama mengejutkannya pada saat Trump mengangkat sosok ini sebagai Kepala NSC, sebuah posisi yang biasanya ditempati para mantan jenderal.

Posisi Bannon  digantikan oleh Jenderal Joseph Dunford, kepala staf gabungan angkatan bersenjata. Satu nama lagi yang dimasukkan Trump ke jajaran NSC adalah Dan Coats, direktur Intelijen Nasional yang membawahi 17 badan intelijen AS.

Pejabat Gedung Putih yang tak mau disebut namanya mengatakan, perombakan tersebut untuk mengembalikan NSC kepada fungsi awal.

Pencopotan Bannon dari jabatannya juga merupakan kemenangan yang lain bagi penasihat keamanan nasional HR McMaster yang selama ini namannya kurang terdengar, dan dia merasa selalu susah berkomunikasi dengan Bannon dan staf Gedung Putih lainnya.

Lalu, kemana ideolog populisme Trump itu “diasingkan”? Belum ada yang tahu. Namun Wakil presiden Mike Pence mengatakan, Bannon akan tetap mendapatkan sebuah peranan penting di pemerintahan.

“Perombakan ini hanya sebuah evolusi alamiah untuk memastikan NSC dikelola dengan cara terbaik untuk melayani presiden dalam menimbang dan menangani berbagai masalah sulit,” kata Pence kepada Fox News, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (6/4).

Dalam sebuah pernyataan, Bannon mengklaim dirinya telah berhasil mengembalikan NSC pada peran aslinya sebagai koordinasi kebijakan luar negeri.

“Susan Rice mengoperasionalkan NSC selama pemerintahan terakhir (Obama),” kata Bannon, merujuk pada penasehat keamanan nasional era Presiden Barack Obama.

“Saya menggunakan NSC dengan Jenderal Flynn untuk memastikan bahwa itu dioperasionalkan. Jenderal McMaster telah mengembalikan NSC kepada fungsi yang tepat,”

tegasnya, enggan berpolemik.

Tim Trump di Gedung Putih memang telah bergulat dalam pertikaian dan sejumlah intrik kepentingan sepanjang masa pemerintahan yang masih seumur jagung itu.

Sebelumnya, penasihat keamanan nasional Michel Flynn juga dipaksa mengundurkan diri pada 13 Februari lalu atas tuduhan kontak ilegal dengan duta besar Rusia untuk Amerika Serikat, Sergei Kislyak, sebelum Trump menjabat sebagai Presiden pada 20 Januari.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kebijakan penting luar negeri dan keamanan nasional AS yang harus duputuskan segera terkait Suriah, Korea Utara dan Iran, masih belum sepenuhnya siap.

Pencopotan Bannon sebagai Kepala Dewan Keamanan Nasional (NSC) terjadi pada saat Presiden Trump tengah mempersiapkan pertemuan penting dengan Presiden Cina Xi Jinping, yang salah satu pembahasan utamanya masalah keamanan dan pertahanan AS terkait ancaman rudal nuklir Korea Utara.

Pencopotan Bannon, selain memperlihatkan betapa administrasi pemerintahan Donald Trump penuh intrik dan kepentingan, juga menyadarkan kita bahwa di banyak negara, termasuk AS sekalipun, janji-janji politik kerap hanya sekadar manis di bibir saja. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here