Trump dan Duterte Akan Bertemu, Apa yang Akan Dibahas?

0
57
Foto: Getty Images

Nusantara.news, Washington/Manila – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengundang presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk datang ke Gedung Putih Washington. Sama halnya Trump, Duterte juga dikenal sebagai presiden “populis” di negaranya, dengan kebijakan menembak mati para pengedar narkoba. Presiden yang pernah mengumpat presiden AS Barack Obama itu, saat ini dituduh bertanggung jawab terhadap kematian 7 ribu orang dalam kebijakan perangnya terhadap narkoba.

Trump dan Duterte memiliki karakter ceplas-ceplos yang hampir sama, juga dalam kebijakannya yang memicu kontroversi di negaranya. Tentu akan ditunggu, apa yang bakal terjadi jika keduanya bertemu?

Sebagaimana dikutip The Guardian, Minggu (30/4) presiden AS Donald Trump telah melakukan komunikasi via telepon dengan Duterte. Trump mengundang presiden yang ceplas-ceplos itu ke Amerika. Apa yang akan dibahas?

Menurut pejabat Gedung Putih, sebagian pembicaraan antara Trump dan Duterte terkait dengan masalah Korea Utara.

Pejabat itu tidak memberikan rincian kapan kedua pemimpin negara yang selalu menjadi sorotan media karena sikapnya yang cenderung spontan dan emosional itu, akan bertemu di Washington untuk membahas kerja sama kedua negara.

Namun dikatakan bahwa Presiden Trump menantikan sebuah kunjungan ke Filipina pada bulan November tahun ini sebagai bagian dari dua pertemuan puncak dengan negara-negara Asia lainnya. Duterte saat ini adalah ketua asosiasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN).

Dilaporkan bahwa pembicaraan antara Trump dan Duterte pada Sabtu (29/4) lalu itu berlangsung dengan penuh keakraban dan tampaknya kerja sama antara AS dan Filipina menuju ke arah yang sangat positif.

Trump dan Duterte juga berbicara soal keprihatinan mereka terhadap ASEAN, mengenai keamanan regional, termasuk ancaman keamanan oleh Korea Utara.

Pembicaraan telepon juga menyinggung soal upaya Duterte dalam memerangi obat-obatan terlarang yang cukup kontroversial, dimana sekitar 7 ribu orang telah meninggal di tangan pasukan keamanan atau regu tembak karena mereka diduga terlibat peredaran obat-obat terlarang. Trump sebelumnya memuji perang terhadap obat bius.

“Mereka juga membahas fakta bahwa pemerintah Filipina berjuang keras untuk menyingkirkan obat-obatan dari negaranya, momok yang mempengaruhi banyak negara di seluruh dunia,” kata pihak Gedung Putih dalam sebuah pernyataan terkait materi pembicaraan Trump dan Duterte.

“Presiden Trump menikmati percakapan tersebut dan mengatakan bahwa dia berharap dapat mengunjungi Filipina pada bulan November untuk berpartisipasi dalam pertemuan puncak Asia Timur dan KTT ASEAN-AS. Presiden Trump juga mengundang Presiden Duterte ke Gedung Putih untuk membahas pentingnya aliansi Amerika Serikat-Filipina,” tegasnya lagi.

Sebelum melakukan pembicaraan telepon dengan Trump, pada Sabtu (29/4) dalam sebuah konferensi pers setelah KTT ASEAN di Manila, sebagaimana dilansir Reuters Duterte mendesak AS agar menahan diri setelah uji coba rudal terbaru Korea Utara untuk menghindari konflik dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un, yang dia sebut sebagai “ingin mengakhiri dunia”.

Duterte mengatakan, bahwa kawasan Asia Tenggara sangat khawatir dengan ketegangan antara AS dan Korea Utara dan mengatakan bahwa salah langkah akan menjadi malapetaka dan kawasan Asia akan menjadi korban pari pertama dari perang nuklir. Meskipun Duterte menyindir rudal Korea Utara seperti layaknya petasan.

“Tampaknya ada dua negara yang bermain dengan mainan mereka dan mainan tersebut tidak benar-benar menghibur,” kata Duterte menyinggung Washington dan Pyongyang.

“Anda tahu bahwa mereka bermain dengan seseorang yang rela melepaskan misil dan segalanya. Saya tidak ingin masuk ke dalam pikirannya (Kim) karena saya benar-benar tidak tahu apa yang ada di dalamnya tapi dia telah meletakkan planet ini ke tepi,” tegasnya.

Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik pada Sabtu (yang gagal), tidak lama setelah Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson memperingatkan bahwa kegagalan dalam menghentikan program rudal nuklir dan balistik Korea Utara dapat menyebabkan bencana.

“Siapa saya sehingga harus mengatakan bahwa Anda harus berhenti? Tapi saya akan mengatakan ‘Tuan Presiden, tolong pastikan bahwa tidak ada perang karena wilayah saya akan sangat menderita’,” kata Duterte.

Pekan lalu, seorang pengacara Filipina mengajukan aduan ke pengadilan pidana internasional (ICC), menuduh Duterte dan 11 pejabat lainnya di Filipina melakukan pembunuhan massal dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dalam pengaduan setebal 77 halaman itu, Jude Sabio mengatakan bahwa presiden Duterte telah “berulang kali, tidak berubah-ubah dan terus-menerus” melakukan eksekusi ekstra-yudisial atau pembunuhan massal selama tiga dekade, yang merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Jika kedua pemimpin yang memiliki karakter hampir serupa ini bertemu, maka akan menjadi pertemuan menarik. Duterte pernah mengolok-olok presiden AS sebelumnya, Barak Obama, sebagai “anak pelacur” dalam bahasa lokal. Ketika itu, Obama memaklumi karena tahu bagaimana karakter Duterte. Tapi, jangan coba-coba olok-olok itu ditujukan kepada presiden AS sekarang, Donald Trump. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here