Trump dan Informasi Rahasia yang Kerap Bocor

0
80
Petugas kepolisian Inggris mencari tas Nike di Hulme, Manchester, 25 Mei 2017. REUTERS

Nusantara.news Bertukar informasi antar-intelijen negara-negara yang bekerja sama adalah hal yang biasa dilakukan. Tapi apa jadinya jika informasi itu bocor ke publik, lewat “orang dalam” dan media massa. Apalagi informasi sangat rahasia tersebut bocor ke pihak yang selama ini dianggap musuh, dan yang membocorkan presiden pula. Itulah yang kerap terjadi di era pemerintahan presiden Amerika Serikat sekarang ini, Donald Trump.

Belum lama, Trump dituding telah membocorkan informasi intelijen yang sangat rahasia tentang ISIS ke pihak Rusia. Washington Post yang pertama kali mengungkap hal itu berdasarkan sumber rahasia di Gedung Putih. Belakangan diketahui, informasi intelijen itu bersumber dari mitra intelijen AS, yakni Israel. Saat Trump berkunjung ke Israel beberapa waktu lalu, presiden AS ini membantah tentang tuduhan tersebut. Tentu saja bantahan tersebut adalah hal yang wajar.

Isu presiden membocorkan rahasia intelijen ke Rusia dianggap mengancam keamanan negara. Sehingga berkembanglah wacana impeachment terhadap Trump. Bukan itu saja, sebelumnya Trump juga memecat Direktur FBI James Comey disertai tekanan agar Comey menghentikan penyelidikan terhadap Michael Flynn, mantan kepala keamanan nasional Trump yang mengundurkan diri karena skandal komunikasi ilegal dengan pihak Rusia. Diduga ini terkait dengan dukungan Rusia terhadap Trump pada saat Pemilu AS 2016.

Trump sebagai presiden merasa mempunyai hak, dan hukum AS juga menjamin hak itu, untuk menyampaikan informasi rahasia kepada pihak mana pun yang dia mau. Meski dianggap tidak melanggar hukum namun oleh sebagian kalangan, utamanya politisi Demokrat Trump dianggap telah membahayakan kemanan negara dengan berbagi informasi kepada Rusia, yang selama beberapa dekade, secara intelijen, menjadi musuh dan bersaing dengan AS.

Belum selesai masalah tersebut, pemerintahan Donald Trump kembali diterpa isu kebocoran informasi intelijen. Kali ini informasi dari intelijen Inggris, AS dan Inggris memang telah sejak lama telah bertukar informasi intelijen. Namun, kali ini Inggris protes sebab informasi yang bersifat rahasia mengenai pelaku teror Manchester Arena, Salman Abedi,  tersebar di media-media AS yang membuat kepolisian Inggris memutuskan menghentikan sementara berbagi informasi intelijen dengan AS soal penyelidikan bom Manchester Arena mulai Kamis (24/5) lalu, namun keputusan tersebut kembali dipulihkan setelah PM Inggris Theresa May bertemu dengan Donald Trump di sela-sela pertemuan puncak NATO di Brussels.

Polisi Inggris meyakini bahwa kebocoran informasi tersebut belum pernah terjadi sebelumnya dalam lingkup, frekuensi dan potensi kerusakannya.

Para pejabat Inggris marah pada ketika pada hari Rabu (23/5) New York Times menerbitkan foto-foto forensik dari bagian-bagian bom yang canggih, dimana otoritas menjadi Inggris takut dapat mempersulit penyelidikan lebih lanjut, dimana enam penangkapan lebih lanjut telah dilakukan di Inggris dan dua lagi di Libya.

Walikota Manchester, Andy Burnham, mengatakan bahwa kebocoran tersebut adalah tindakan yang arogan dan tidak sopan.

Juru bicara divisi anti-terorisme nasional kepolisian Inggris mengatakan, “Kami sangat menghargai hubungan penting yang kita miliki dengan intelijen terpercaya, penegakan hukum dan mitra keamanan di seluruh dunia.”

“Ketika kepercayaan itu dilanggar, itu merusak hubungan, dan merongrong penyelidikan serta kepercayaan korban, saksi dan keluarga mereka. Kerusakan ini bahkan lebih besar lagi bila melibatkan pengungkapan bukti potensial yang tidak sah di tengah penyelidikan kontra-terorisme,” katanya.

Inggris dan AS berada di bawah kerja sama ‘Five Eyes,’ yang terdiri dari lima negara yang berbagai secara ketat mengenai informasi intelijen. Lima negara tersebut adalah: AS, Inggris, Kanada, Australia dan Selandia Baru.

Sepanjang era pemerintahan Trump kebocoran informasi kerap terjadi di Gedung Putih. Trump sendiri, yang menjadi “musuh” bagi sebagian besar media arus utama di AS sempat dibuat kesal dengan informasi-informasi yang bocor ke media, termasuk informasi soal dirinya telah membocorkan informasi intelijen ke pihak Rusia.

Gedung Putih bahkan sempat memboikot sejumlah wartawan dari media arus utama untuk mengikuti sebuah briefing. Trump juga kerap menyebut berita-berita yang menyudutkan dirinya dan pemerintahannya sebagai “berita palsu” yang membuat sejumlah media, yang sejak awal kurang menerima dengan terpilihnya Trump (mungkin karena faktor pemiliknya yang secara politis tidak mendukung Trump), semakin semangat untuk “menyerang” pemerintahan presiden baru ini.

Apapun, kebocoran informasi rahasia di era Trump disebabkan berbagai faktor, selain karena mulut Trump sendiri yang “bocor”, tim Trump juga, konon, tidak begitu kompak (persaingan internal) sehingga pembocoran informasi menjadi salah satu strategi menjatuhkan satu sama lain. Selain itu, harus diakui bahwa adanya media-media arus utama di AS yang tidak mendukung pemerintahan Trump juga menjadi penyebabnya. Buktinya, semua kebocoran informasi itu berawal dari media. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here