Trump Dimakzulkan di Pertengahan 2018, ini Penjelasannya

0
322
Presiden AS Donald Trump yang terancam pemakzulan terkait kasus mata-mata Rusia/ Foto the Inquirer

Nusantara.news, Washington – Peta politik Kongres Amerika Serikat (AS) yang dikuasai the Grand Old Party (GOP) alias Partai Republik tampaknya tidak ada jalan untuk memakzulkan Presiden AS Donald Trump. Tapi sejarahwan Allan Lichtman berani memprediksi, Trump akan dimakzulkan pada pertengahan tahun, antara Maret hingga Juni 2018. Bagaimana penjelasannya?

Tentu saja sejarahwan yang kerap menyampaikan prediksi-prediksi politik secara akurat ini memiliki perhitungan yang matang. Terlebih sejarahwan asal American University ini selalu meramalkan secara tepat siapa pemenang Pilpres AS sejak 1984 lalu. Termasuk saat meramalkan kemenangan Donald Trump di tengah jajak pendapat yang memenangkan Hillary Clinton, pesaingnya.

Obstruction of Justice

Belakangan ini Allan Lichtman memperbarui isi bukunya berjudul “The Case for Impeachment” yang sudah diterbitkan pada April tahun lalu sebelum Donald Trump memecat Direktur FBI James Comey dan menunjuk pengacara khusus Robert Mueller.

“Ada bukti kuat obstruction of justice (menghalang-halangi proses penegakan hukum) yang juga pernah dituduhkan kepada Bill Clinton yang jauh lebih penting ketimbang pelecehan seksual (yang waktu itu dialamatkan kepada Clinton),” singkap Lichtman dalam program acara televisi “Morning Joe”, MSNBC.

“Ingat ya, pada dasarnya politisi-politisi Republik waktu itu lebih memakai pasal ‘obstruction of justice‘ terhadap Bill Clinton,” tandas Lichtman.

Dia mengatakan penyelidikan oleh Robert Mueller hampir pasti menemukan bukti meyakinkan mengenai kerjasama ilegal antara tim kampanye Trump dengan Rusia yang disebut Lichtman akan segera terungkap ke publik.

“Ini konspirasi,” kata Lichtman. “Saya yakin kita ada di puncak gunung es mengenai apa yang diketahui pengacara khusus tentang hubungan antara Trump dengan tim Trump dan orang-orang Rusia,” bebernya.

“Ada petunjuk kuat bahwa alasan mereka menutup-nutupi semua telepon dari orang yang kemudian menjadi penasihat keamanan nasional kepada orang-orang Rusia adalah demi menutupi kemungkinan quid pro quo (bantuan atau hadiah yang diberikan pihak kedua karena mengharap balasan yang setara dari pihak pertama), yakni orang-orang Rusia membantu kita dan sebagai balasannya kita mencabut sanksi mereka. Mengapa harus menelepon dan mengapa harus berbohong soal itu?”

Lichtman juga mengungkapkan kepada publik sudah melihat bukti kuat adanya obstruction of justice, tetapi terdapat banyak alasan untuk memprediksi adanya dakwaan-dakwaan kriminal yang beberapa di antaranya sangat serius, yang berkaitan dengan keterlibatan Rusia.

“Saya tak ingin terus-terusan bilang kolusi itu bukan kejahatan. Tentu saja bukan, tetapi mendapat sesuatu yang bernilai dari orang asing adalah kejahatan, membantu dan bersekongkol dalam peretasan komputer adalah kejahatan, berunding sebagai orang swasta dengan kekuatan asing yang bermusuhan yang sedang bersengketa adalah kejahatan,” papar Lichtman dengan nada berapi-api.

Cyber War

“Jika ini sudah cukup parah, dan saya banyak dikritik soal itu, saya kira bahkan akan ada dakwaan pengkhianatan (terhadap negara). Lagi pula, Rusia memang sedang memerangi kita, bukan melalui perang dengan bom dan peluru, tetapi dengan serangan siber, serangan online yang dirancang untuk menghancurkan demokrasi.”

Dugaan keterlibatan Rusia dalam pemilihan Presiden AS yang memenangkan Trump memang bukan menjadi rahasia umum di kalangan elite politik. Toh demikian, Senator Jeff Flake asal Partai Republik yang dikenal tidak menyukai Donald Trump, bahkan menyebutnya mirip dengan diktator komunis Joseph Stalin, menjamin tidak akan ikut-ikutan memakzulkan Trump.

Namun apabila bukti-bukti hukum yang terus diselidiki Robert Mueller semakin menegaskan keterlibatan orang-orang Trump yang bermain mata dengan Rusia, Partai Republik, jelas Lichtman tidak akan bisa berbuat banyak selain menuruti kehendak public. Apalagi political unrest yang terus bergejolak di era Trump akan mengganggu siapa pun elite yang berkuasa, termasuk para Senator dari Partai Republik.

“Terlalu dini, bagaimana dia (Flake) bisa tahu akan atau tidak akan mendukung pemakzulan ketika kasusnya saja belum tuntas,” sanggah Lichtman.

“Dia belum dimakzulkan dan belum ada sidang di Senat. Saya kira Mueller, dan ini prediksi saya, akan muncul dengan membawa bukti yang akan mengejutkan negara ini, tidak hanya menyangkut konspirasi dengan Rusia tapi juga menyangkut kejahatan keuangan yang serius,” tandas Lichtman.

Keterlibatan Rusia

Sejauh ini sudah ada tiga mantan anggota Tim Kampanye Trump yang mengaku bersalah kepada penyidik khusus Robert Mueller. Mereka adalah mantan Manajer Kampanye Paul Manafort serta Rick Gates dan George Papadopoulos yang keduanya mantan rekan bisnis Trump.

George yang keturunan Yunani itu pada awal Oktober lalu mengaku bersalah karena telah berbohong kepada petugas Biro Penyidik Federal (FBI/Federal Bureau Investigation). Karena pengakuan bersalah ini mungkin yang membuatnya tidak didakwa dalam persidangan. Sebab di antara ketiga tersangka, hanya Manafort dan Gates yang menghadapi sidang dakwaan di Pengadilan Washington, Senin (30/10) tahun lalu.

Kedua terdakwa sudah diputuskan hakim menjalani tahanan rumah dan jaminan, masing-masing 10 juta dolar AS untuk Manafort dan 5 juta dolar AS untuk Gates, Apabila keduanya dinyatakan bersalah maka posisi Presiden Donald Trump, meskipun mekanismenya tidak sederhana, berada dalam ancaman pemakzulan.

Facebook Inc secara gamblang juga membeberkan sepak terjang keterlibatan Rusia dalam Pemilu AS 2016. Facebook mengungkap agen-agen Rusia telah menerbitkan 80.000 posting pada jejaring sosial itu selama dua tahun untuk mempengaruhi arah politik AS.

Facebook juga mengungkapkan sekitar 126 juta warga AS sudah pernah melihat puluhan ribu postingan Rusia itu dalam jangka waktu itu. Bukti-bukti yang diungkapkan Facebook menyebut secara rinci jangkauan posting-posting Rusia dalam kesaksian tertulis perusahaan itu kepada para wakil rakyat AS yang juga diperlihatkan kepada Reuters.

Selain Facebook, penyelidik juga minta Twitter dan Google dalam membongkar lalu lintas postingan di masing-masing media sosial yang dikelolanya.  Nusantara.news sebelumnya membuat laporan tentang Google yang menemukan sejumlah bukti belanja iklan untuk pemenangan Donald Trump.

Mengutip keterangan sebuah sumber yang dikutip harian Washington Post, sejumlah iklan sengaja disebar untuk mengacaukan informasi di berbagai produk Google, seperti YouTube dan Gmail. Namun dapat dipastikan, pelakunya lain dengan pemasang iklan di Facebook. Namun para pengiklan membelanjakan uang secara wajar, di bawah 100 ribu dolar AS.

“Kami sudah menetapkan kebijakan iklan yang ketat, termasuk membatasi iklan politik terarah dan melarang keras iklan terarah berdasarkan ras dan agama. Kami sedang menyelidiki upaya-upaya mengelabui sistem kami dengan bekerja sama dengan para peneliti dan perusahaan-perusahaan lainnya,”tulis pernyataan resmi Google.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here