Trump Effect, Tren Nasionalis Populis, dan Deglobalisasi

1
411

Nusantara.news – Kemenangan Trump sulit diduga sebelumnya, selain ekstrim, juga tidak bulat didukung Partai Republik. Namun pada pidatonya sebelum masa tenang, memutarbalikkan votes di AS, sehingga hasil akhir Trump memenangkan pertarungan melawan Hillary Clinton (Partai Demokrat). Tren Nasionalis Populis menjadi fenomena dunia karena kegagalan kapitalisme global yang merasa diakali oleh Deng Xiaoping (Cina) dengan One State Two System, padahal AS dan Yahudi ingin “One State One Society”. Seruan globalisasi dimana uang menjadi “Tuhan” dan akan mendatangi belahan negara manapun, termasuk Indonesia. Namun celakanya akan pergi dengan sangat cepat karena ekonomi port folio dengan money games melalui saham, valas, dan surat-surat berharga, hal ini sangat berbahaya bagi stabilitas moneter dunia. Brexit di Inggris merasa dirugikan dengan persatuan Eropa.  Euro sebagai mata uang yang hanya menguntungkan Jerman, lalu keluar dari Euro. Di belahan lain, Erdogan muncul sebagai Nasionalis Populis di kejayaan era Otomania berbasis Islam Suni. Di Asia, Mahathir Muhammad pernah melawan Cinanisasi ala Lee Kuan Youw di Singapura, dengan nasionalisme putra daerah. Lalu Trump sebagai Soko Guru kapitalisme justru mempertanyakan globalisasi yang malah menguntungkan Cina sebagai raja dagang dunia saat ini (WTO).

Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) sangat kontroversial, karena dari polling-polling sebelumnya Hillary Clinton unggul walaupun angkanya tipis. Suka tidak suka, pada 20 Januari 2017 Trump akan dilantik menjadi US-1 (Presiden Amerika Serikat). Konon pidato terakhir sebelum memasuki minggu tenang dan coblosan Pemilu yang memutarbalikkan kemenangan menjadi milik Trump, dan mengungguli Hillary secara signifikan.

AS mendapat apa? AS sudah 20 tahun mendorong negara-negara di dunia untuk demokratis, apa yang kita dapat? Dan selama itu juga kita menjadi polisi dunia dan mendorong demokrasi. Orang AS memakai senjata dan USD dalam 20 tahun ini berjuang di Iraq, Libya, Suriah, Mesir, dan lain-lain. Tolong tanya AS dapat apa? Pengusaha kita tidak berani ke Timur Tengah, bahkan pada Olimpiade di Brazil tidak berani mengibarkan bendera AS, lebih parah mengaku warga AS di Timur Tengah sama dengan “bunuh diri” . Tolong tanya kita USA dapat apa?

AS berseteru dengan Putin (Rusia) dan Cina. AS menguasai teknologi, tapi di WTO kita tidak bisa mengalahkan Cina. Kita meninggalkan WTO, dan mendirikan TPP (Trans Pacific Partnership). Lihat Cina selama 20 tahun ini? Mereka menduduki kursi No.1 di WTO. Mereka bahkan membeli:

  • 80% produksi baja dunia
  • 40% minyak dan gas bumi dunia
  • 70% kacang-kacangan dunia
  • 80% emas dan tembaga dunia
  • Membeli kapal induk dan membangun pusat industri pertahanan
  • Membeli missile dari Israel, pesawat dari Jerman, dan wine dari Perancis

Mereka membeli bahan-bahan itu semua dengan USD, dan bahkan uang RMB sebagai mata uang dunia, karena USD mereka kuasai lebih besar dari kita sendiri. Afrika sudah mereka rebut karena Perancis melemah. Cina makin berjaya, maka pilihlah saya, akan saya ubah dunia dan jaya kembali AS, dan ternyata memang dipilih oleh rakyat AS, walaupun berujung protes dari masyarakat. Dunia meyakini Trump Effect akan mempengaruhi skema perubahan dunia, begitu juga dengan Brexit akan berdampak pada dunia, termasuk Indonesia. Begitu juga dengan aksi Le Pen (Perancis) akan menambah deret populis kanan menguasai dunia.

Jika melihat isi pidato Trump, akan melakukan langkah strategis dengan mengutamakan nasionalisme AS, tentu implikasinya berdampak secara strategis pada politik dan khususnya ekonomi Indonesia. Kita tahu bahwa Sri Mulyani Indrawati (SMI) menyatakan APBN 2017 akan mengalami defisit senilai Rp 567 triliun. Suatu nilai yang sangat signifikan bagi sehatnya APBN kita (28% dari nilai APBN) dengan pertumbuhan dikoreksi menjadi 5,1% padahal Joko Widodo menuntut Sri Mulyani Indrawati agar Indonesia tetap tumbuh 6%-7% per tahun. Lalu pertanyaan besarnya, apa yang terjadi dengan ekonomi Indonesia di tahun 2017, di saat hubungan Jakarta–Beijing yang marak ditanggapi negatif secara politik dan bersamaan dengan kehadiran Trump dengan nasional populis yang nyaris puritan? Trend ini sesuai dengan paham nasionalisme populisme kanan; kebijakan Brexit (Inggris), Erdogan di Turki, Le Pen (Perancis), Mahathir (Malaysia), Duterte di Filipina dan lainnya yang justru melaksanakan deglobalisasi dengan memproteksi ekonomi dalam negeri. Ancaman utama kita adalah Trump Effect dan dominasi Cina di Asia, kalau kita salah menanggapi apa yang terjadi ke depan dengan dua negara adidaya tersebut.

Indonesia dapat apa, dengan keberadaan konglomerat non-pribumi? Menjadi pertanyaan dasar untuk Nasionalis Populis di Indonesia. Apalagi mereka sudah masuk pada profesi yang selama ini dipegang pribumi, dan bahkan di bidang sosial politik. Sikap arogan Ahok yang didukung para taipan dan Hary Tanoesoedibjo, dengan mendirikan partai Perindo dan berbenturan langsung dengan Nasdem yang didirikannya menjadi fenomena hegemoni konglomerat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlahirnya mendirikan masyarakat Peduli Pesantren bersama Kyai-kyai NU dan Muhammadiyah menjadi sentimen baru atasi Cina dari rakyat Indonesia khususnya Islam.

TREND POLITIK DUNIA IMPLIKASINYA DI INDONESIA

SKEMA TRUMP EFFECT DAN DOMINASI CINA

1 KOMENTAR

  1. Masih tersisa kurang dari 90 hari program kerja Trump apakah ada kabar buruk untuk dunia internasional atau kabar baik. Hehe…

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here