Trump Ingin Kembalikan Kejayaan Amerika Dengan Emas

0
147
Presiden AS Donald Trump kembali melakukan akrobat, rencananya ia akan menerapkan sistem moneter berbasis emas.

Nusantara.news, Jakarta – Bak petir di siang bolong, Presiden Amerika Donald Trump melontarkan ide gila. Sisem moneter Amerika dari berbasis dolar AS menjadi berbasis emas. Akan kah ide Trump dapat mengangkat kejayaan ekonomi Amerika kembali?

Saat berbicara di Conservative Political Action Conference (CPAC) di Oxon Hill, Maryland, Jumat (23/3), Trump menggagas ide lama itu dengan tujuan untuk membuat Amerika berjaya (American Great) seperti janji kampanyenya.

“Kerja sama global, berurusan dengan negara lain, bergaul dengan negara lain adalah hal yang baik, itu sangat penting. Tetapi tidak ada yang namanya lagu kebangsaan global, mata uang global atau bendera global. Ini adalah Amerika Serikat yang saya wakili,” kata Trump seperti dikutip www.forbes.com.

Ia menambahkan, “Ada wawasan yang tajam di sana yang bisa, mungkin saja, mengubah hidup kita, Amerika, dan dunia. Tidak ada “mata uang global?” Apakah ini, dengan pengamatan puitis bahwa “tidak ada yang namanya lagu kebangsaan … atau bendera global,” hanya sebuah kiasan? Atau bisakah itu mengandung pertanda politik dengan potensi dampak yang tinggi di pasar keuangan dunia?” jelas dia.

Pernyataan Trump ini tak lama setelah Federal Reserve menaikan bunga acuan Fed Fund Rate sebesar 0,25% menjadi 1,75%. Trump berpendapat jika terus berpatokan dengan dolar AS, Amerika selamanya akan menghadapi ketidakpastian. Untuk itu diperlukan standar emas sebagai acuan yang lebih stabil.

Kenaikan bunga Fed Fund Rate ini segera direspon oleh kenaikan bunga People Bank of China (bank sentral China–PBOC) sebesar 5 basis point menjadi 2,55% sambil terus menerapkan kebijakan yang berhati-hati.

Seperti diketahui, sebagian besar perdagangan internasional dinilai dalam dolar AS. Sistem moneter internasional Bretton Woods menginvestasikan dolar, yang kemudian dapat dikonversi menjadi emas pada US$35/oz, dengan status mata uang global. Menteri Keuangan Perancis Valéry Giscard d’Estaing —termasuk presidennya–menyebut status “cadangan mata uang” dolar, bersama dengan emas, sebagai mata uang global.

d’Estaing menyinggung selama Perang Dunia II sistem emas benar-benar menjadi kutukan.

Pada tahun 1971 Presiden Nixon, di bawah pengaruh Menteri Keuangannya yang mirip Svengali, John Connally, “menangguhkan (sementara) konvertibilitas dolar menjadi emas.” Penutupan itu terbukti tahan lama, bukan sementara. Dolar menjadi, dan tetap, mata uang global dunia.

Apa yang merupakan “hak istimewa yang terlalu tinggi” yang dilimpahkan ke dalam kewajiban yang sangat besar. Sebagai mantan kolega profesionalnya John D. Mueller, dari Pusat Kebijakan Etika dan Kebijakan Publik, mantan kepala ekonom Rep. Jack Kemp, menulis di Wall Street Journal dalam Masalah Perdagangan Nyata Trump Apakah Uang baru-baru ini dan secara tajam menilai, sistem mata uang dolar tidak sustainabel, tak stabil dan membingungkan.

Sistem moneter berdasarkan mata uang cadangan tidak berkelanjutan, karena cadangan dolar resmi diperoleh dan harus dilunasi dalam bentuk barang. Dengan kata lain, peningkatan cadangan dolar resmi sama dengan ekspor neto dari seluruh dunia, yang berarti itu juga harus sama dengan defisit pembayaran internasional AS, situasi yang tidak berkelanjutan.

Dengan kata lain, jika Presiden Trump ingin mengatasi defisit perdagangan Amerika (dengan surplus neraca modal), justru membahayakan. Dolar AS dimungkinkan untuk digunakan sebagai mata uang global adalah ular nyata dalam tumpukan kayu ekonomi. Beban dolar AS sebagai mata uang cadangan internasional, bukan manipulasi mata uang oleh mitra dagang atau perjanjian yang buruk, adalah penjahat sejati dalam melodrama penciptaan pekerjaan yang payah.

Sisi lain yang perlu dijadikan pertimbangan Trump adalah, sejatinya dolar AS tidak dalam kontrol Pemerintah AS, melainkan di bawah kontral Federal Reserve. Artinya, Pemerintah merasa perlu memiliki kontrol atas sistem moneter dengan menjadikan emas sebagai dasar transaksi.

Kebijakan sistem moneter berbasis emas, sejalan dengan janji politik Trump yang akan menggenjot pertumbuhan ekonomi 3%, jauh lebih tinggi sepanjang 17 tahun terakhir. Pertumbuhan sebesar itu untuk penciptaan pekerjaan yang kuat dan mobilitas pendapatan ke atas bagi para pekerja. Ini juga merupakan unsur penting untuk menyeimbangkan anggaran federal sambil membangun kembali infrastruktur dan militer Amerika.

Siapa yang diuntungkan?

Jika sistem moneter Amerika didasari pada emas, tentu saja seperti halnya dolar AS, otomatis akan menjadi sistem moneter internasional. Keinginan Trump ini bukan tanpa dasar. Saat ini pemilik cadangan devisa berbasis emas adalah Amerika, yakni sebesar 8.133,5 ton atau 25,45%.

Dengan dominasi kepemilikan emas sebanyak itu, dari 189 negara anggota Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund—IMF) adalah sangat powerfull.

Pemilik terbesar kedua cadangan devisa emas adalah Jerman dengan kepemilikan 3.383,4 ton atau 10,59% dari pangsa pasar. Selain itu IMF sendiri memiliki cadangan emas sebanyak 2.814 ton (8,8%), lalu diikuti Italia sekitar 2.451,8 ton (7,67%) dan Prancis sebesar 2.435,4 ton (7,62%).

Rusia saja hanya memiliki cadangan emas sebanyak 1.246,6 ton (3,9%), kemudian diikuti China dengan cadangan emas 1.054,1 ton (3,29%). Swiss yang terkenal sebagai tempat persembunyian harta orang-orang kaya di dunia hanya memiliki cadangan emas sebesar 1.040 ton (3,25%).

Sementara Jepang memiliki emas sebanyak 765,2 ton (2,39%), dan Belanda memiliki 612,5 ton emas (1,91%).



Pertanyaannya, berapa cadangan emas Indonesia? Ini menarik, ternyata Indonesia masuk dalam urutan ke-40 dengan cadangan emas sekitar 78,1 ton atau setara dengan 0,24%.

Posisi Indonesia kalah oleh negara tetangga seperti Thailand yang bertengger di peringkat ke 26 dengan cadangan emas sebesar 152,4 ton dan Singapura di peringkat ke 27 sebanyak 127,4 ton.

Itu sebabnya diperlukan kecanggihan manajemen moneter agar ketika Trump menerapkan sistem moneter berbasis emas, bagaimana moneter Indonesia tidak berantakan. Atau setidaknya tidak berdampak pada pelemahan moneter, walau tak menutup kemungkinan melahirkan krisis moneter untuk yang kesekian kalinya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here